Seiring pergantian tahun pelajaran, berganti pula pejabat yang harus memegang tanggung jawab di sekolah sesuai dengan batas periodenya. Pada tahun pelajaran 2017 / 2018, Pembina OSIS lama yaitu Pak Agus Ma harus naik menjadi Wakil Kepala bidang Kesiswaan menggantikan Bu Arie. Sedangkan posisi pembina OSIS diserahkan kepadaku. Awalnya aku tak bersedia untuk menduduki jabatan tersebut karena mengurusi OSIS bukan bidangku. Aku sudah menolak dengan berbagai alasan. Tapi apa daya, hasil kongkalingkong antara Waka Kesiswaan bersama mantan Waka Kesiswaan sepakat menjatuhkan pilihannya kepadaku. Alasannya sederhana dan tidak dilihat dari kemapuan, tapi karena Waka Kesiswaannya merasa nyaman di dekatku (cieee.... ).
Aku tak bisa mengelak apalagi melarikan diri. Terpaksa (sungguh terpaksa) tugas ini harus aku jalani. Padahal pengalamanku nol. Aku belum pernah berorganisasi. Jadi ketua kelas saja aku belum pernah apalagi pengurus OSIS. Yang kutahu tentang OSIS adalah Organisasi Siswa Intra Sekolah yang tertulis di saku baju sekolah yang dipakai setiap hari Senin dan Selasa dan baju itu dinamakan baju OSIS. Selain itu, yang aku tahu tentang Ketua OSIS adalah dia menjadi siswa paling terkenal seantero sekolah dan banyak dilirik cewek-cewek.
Lalu, bagaimana cara membina OSIS kalau pembinanya tidak tahu tentang OSIS? Padahal ada pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu yang diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kebinasaannya.
Nah lo...
Jangan-jangan aku bukan menjadi Pembina OSIS tapi menjadi Pembinasa OSIS.
Jumat, 01 September 2017
GANTUNGAN ID CARD
Dengan diberlakukannya UU Nomor 23 Tahun 2014 pada tanggal 1 Januari 2017, maka sejak saat itu pengelolaan SMA dan SMK dialihkan dari pemerintah
kabupaten kepada pemerintah provinsi. Sebagai guru SMA, kami harus menyesuaikan
dengan aturan provinsi, termasuk pakaian dan perlengkapannya. Entah dari mana
datangnya isu yang mengatakan bahwa pegawai provinsi harus mengenakan gantungan
ID Card bertuliskan “Mboten Korupsi Mboten Ngapusi”. Sebenarnya slogan ini
bukan slogan Jawa Tengah. Slogan ini adalah slogan yang digunakan oleh Ganjar
Pranowo dan Heru Sudjatmoko pada saat kampanye pemilihan gubernur tahun 2013. Tapi
dari manapun asalnya slogan tersebut, kami tetap patuh.
Karena di kota kami
belum ada, kami pun harus tergopoh-gopoh mencari gantungan ID Card ke ibu kota
provinsi JawaTengah. Dan memang ada. Artinya, gantungan ID Card itu benar-benar
telah dijual di toko dan pastinya telah
dipakai oleh pegawai provinsi lainnya. Maka, kami semakin mantap bahwa pemakaian gantungan ID Card ini bukan sekedar isu tapi benar-benar
sesuatu yang harus dilaksanakan.
Aku pun pesan 1 buah. Mulai tanggal 20 Februari 2017 gantungan
ID Card warna putih seharga Rp. 20.000,- dengan bangga kupakai menggantikan gantungan
ID Card warna biru yang kuperoleh gratis dari kabupaten.
Namun baru satu minggu kupakai, tepatnya pada tanggal 28
Februari 2017 tulisan “Mboten Korupsi Mboten Ngapusi” yang menempel di gantungan
ID Cardku terkelupas jatuh dan hilang.
Aku sedih.
PUTRI ..EH..KARIN
“Pak, apa kabar?” sapa seseorang di WhatsApp dengan nomor
yang belum kukenal. Ketika kulihat foto profilnya, baru aku mengenalinya.
“Alhamdulillah sehat-sehat. Gimana kabar Karin?” tanyaku balik
menyapanya
“Alhamdulillah sehat Pak. Hehe..jadi ikutan panggil Karin,”
jawabnya
“Soalnya sekarang sudah beli radio,” sahutku
“Jadi malu pak,” katanya
“Lha kok malu...
Semangat terus. TOP banget. Suaranya menggemaskan” lanjutku
“Haha..terima kasih Pak,”
Itu sekelumit obrolanku dengan Putri, siswaku yang telah
lulus 2 tahun yang lalu. Sekarang dia mempunyai nama udara “Karin” sejak
menjadi penyiar radio MFM. Sebenarnya sudah
lama dia memintaku untuk mendengarkan siarannya di gelombang 106,2 FM pada
pukul 16.30 – 17.30. Tapi apa daya, aku tak punya radio.
Nah, baru beberapa minggu ini aku bisa mendengarkan radio. Aku
baru membeli speaker aktif yang bisa tersambung dengan radio.
Pertama kali mendengar suaranya, aku sempat tak percaya. Nama
“Karin” yang dia pakai saat on air benar-benar mengecohku. Aku sama
sekali tak percaya yang sedang aku dengarkan adalah suara Putri. Aku tak mengira
anak yang ramah dan santun ini, yang dulu suaranya kelihatan biasa-biasa saja
ternyata mempunyai suara yang centil dan menggemaskan, pas dengan program
khusus untuk anak muda yang dia bawakan.
Setelah beberapa kali medengarkan siarannya, sekarang aku jadi
ketagihan memutar gelombang 106,2 FM tiap sore.
Demi mendengarkan suara Karin.
Selasa, 29 Agustus 2017
SERAGAM BATIK MERAH
Malam ini aku mendapat pesan lewat group di whatsapp : “Dalam
rangka kunjungan gubernur ke sma 1 besok rabu, mohon bp/ibu untuk berseragam
batik merah. Trim atas perhatiannya”.
Karena seragam batik merahku belum kuseterika, maka malam
ini aku harus menyeterikanya. Seragam ini tidak selalu kukenakan dalam satu
minggunya karena seragam ini termasuk batik bebas yang boleh dikenakan pada
hari Rabu dan Jum’at. Makanya, seragam ini sering kuabaikan. Kadang belum
diseterika dan kadang belum dicuci. Namun khusus dalam rangka Roadshow Gubernur
Jawa Tengah ke Kabupaten Batang, Tegal dan Pekalongan pada tanggal 30 Agustus
sampai 1 September 2017, kami dimohon untuk mengenakan seragam batik merah ini.
Kenapa harus batik merah?
Kita sangat mafhum dengan kondisi negeri ini dan kita harus
tahu dan paham dengan latar belakang (terutama politik) para pejabat negeri
ini. Sebagai pegawai negeri sipil yang berada di bawah pemerintahan, kami terbiasa
mengkondisikan diri dengan keadaan yang ada. Maka tak heran, kami dihimbau
untuk mengenakan seragam batik merah pada saat Bapak H. Ganjar Pranowo
berkunjung ke Batang. Padahal dalam jadwal kunjungan, tidak ada rencana
mengunjungi sekolah kami. Tetap saja, kami harus mengkondisikan dengan situasi.
Siapa tahu, tiba-tiba ada rencana mendadak untuk mengunjungi sekolah kami
walaupun tidak ada dalam rencana kunjungan.
Soal seragam merah ini, alhamdulillah kami sudah lama
mempunyainya. Bahkan tidak hanya merah, kami juga punya seragam kuning, hijau, biru
dan putih. Jadi sewaktu-waktu ada kunjungan pejabat dengan latar belakang
apapun kami siap.
Sabtu, 26 Agustus 2017
SHOLAT DUHUR DI SEKOLAH
Siang itu kami berebut air wudlu. Setelah kurang lebih 10
menit antri akhirnya giliranku untuk berwudlu di kran ke 7 dari 10 titik kran
yang ada di tempat wudlu laki-laki. Syukurlah, tepat ketika wudluku selesai,
Mas Slamet mengumandangkan iqomah. Namun, aku tak kebagian tempat di dalam.
Mushola berukuran 8 x 8 meter itu telah penuh dengan jama’ah laki-laki di
sebelah kiri dan jama’ah perempuan di sebelah kanan. Aku mengikuti jama’ah
sholat duhur di serambi mushola sebelah kiri. Serambi berukuran 4 x 10 meter ini
dibangun untuk menampung jama’ah yang sering membeludak. Pada semester lalu,
serambi ini nyaris tak terpakai karena jama’ah sholat duhur bisa tertampung semua di dalam mushola. Namun,
semester ini, sejak diberlakukan 5 hari sekolah, jama’ah selalu membeludak. Maklum,
mereka yang biasa sholat duhur di rumah sepulang sekolah, sekarang mereka harus
sholat duhur di sekolah karena sekolah usai pada pukul 15.30. Daya tampung
mushola ini sekitar 100 orang jama’ah. Dengan adanya serambi ini, sekarang
mushola ini bisa menampung kurang lebih 200 jama’ah.
Selesai tahap pertama, sholat berjama’ah dilanjutkan dengan
tahap ke-2.
Hari ini, sholat duhur dilaksanakan 2 tahap sebelum waktu istirahat
selesai dan bel masuk kelas berbunyi. Waktu istirahat berdurasi 30 menit yaitu
dari pukul 12.00 sampai pukul 12.30. Dengan daya tampung mushola yang hanya 200
jama’ah dan hanya ada 20 titik kran untuk wudlu, kami membutuhkan banyak waktu
untuk melaksanakan jama’ah sholat duhur. Untuk tahap pertama, kami membutuhkan
waktu 10 menit hanya untuk mengambil wudlu. Untuk persiapan sholat, berdoa setelah
sholat, dan keluar dari mushola membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Total waktu
yang kami butuhkan sekitar 15 menit. Untuk tahap kedua bisa lebih pendek karena
jama’ah tahap kedua bisa mengambil wudlu ketika jama’ah tahap pertama sedang
melaksanakan sholat. Jama’ah tahap kedua hanya membutuhkan waktu kurang lebih
10 menit. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk sholat berjama’ah adalah sekitar 25
menit.
Masih adakah tahap ke-3? Masih, hanya beberapa orang. Itupun
dengan resiko mereka terlambat masuk kelas, kemudian harus berbasa-basi memberikan
alasan kepada guru di kelas, kemudian dipersilahkan duduk atau harus menerima
hukuman.
Dengan pelaksanaan 2 tahap sholat berjama’ah, sholat duhur hanya
diikuti oleh 400 orang. Padahal siswa muslim di sekolahku berjumlah 860.
Pertanyaannya, sisanya melaksanakan sholat dimana?
Satu Kompetensi Sikap yang harus dimiliki oleh siswa yaitu Beriman
dan Bertakwa kepada Tuhan YME terganggu karena mereka tidak mempunyai (diberi) kesempatan
untuk menjalankan ibadah dengan baik. Sekolah tidak mempunyai sarana kegiatan
ibadah yang memadai bagi siswa. Walaupun dalam Permendikbud No. 23 2017 tentang
hari sekolah disebutkan bahwa pemenuhan sarana dan prasarana dilakukan secara
bertahap.
Apa solusinya?
- Waktu istirahat diperpanjang.
- Sholat di luar sekolah.
- Musholanya diperbesar.
- Sholat di kelas.
Bagaimana ini Pak Menteri Pendidikan?
Senin, 21 Agustus 2017
TUGAS WAKA SARANA DAN PRASARANA
Di kursi depan, kursi tempat
biasanya kepala sekolah duduk memberikan briefing setiap pagi, Pak Agus Hary
duduk bertelekan tangan di atas meja. Kedua tangannya dilipat di atas meja.
Kepalanya bersandar di atas kedua tangannya.
Wajahnya nampak lelah.
“Pak Agus Hary nampak tenanan memikirkan sekolah ya Pak,”
kataku kepada Pak Ros yang duduk di sebelahku.
Pak Ros hanya tersenyum. Sebagai
asisten Pak Agus Hary, Pak Rosidi tentu sangat memahami kondisi “boss”nya pada
hari-hari ini. Beberapa hari yang lalu, Pak Agus Hary harus bolak-balik
ke Semarang untuk mengurus proposal DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk memperbaiki
2 ruang kelas. Sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana, beliau
bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan proyek ini. Malangnya, pengurusan
proyek ini harus di Semarang. Sebuah kota dengan jarak yang tidak pendek jika
ditempuh dari Batang. Untuk menempuh perjalanan tersebut, tidak hanya menyita
tenaga tapi juga harus kesabaran karena jalan pantura yang acap kali macet.
Maka tak heran, kondisi Pak Agus Hary nampak menurun drastis. Keceriaannya
berkurang. Dalam kondisi seperti ini, tak ada seorang pun bisa menghiburnya.
Pak Ros sebagai asistennya tak bisa membantu banyak karena beliaupun
mempunyai tugas mengurusi seluruh taman di sekolah ini. Sang bendahara, Bu Us
yang bisa mengurangi beban dan pikiran karena biasa menjadi sasaran godaan Pak Agus
Hary, hari ini juga ijin tidak masuk karena kurang enak badan. Rekan-rekan
sesama guru tak bisa berbuat banyak.
Tugas seorang wakil kepala sekolah
di bidang sarana dan prasarana tidaklah ringan. Tugasnya tidak hanya ketika
menerima proyek seperti sekarang ini. Setiap hari beliau harus bertanggung
jawab terhadap seluruh sarana dan prasarana sekolah. Dari mengurusi jaringan
internet sampai mengganti bola lampu yang pecah. Dari membangun ruang kelas baru sampai mengganti galon air di ruang guru. Setiap hari beliau
mengawasi, mengontrol, dan merawat sarana tersebut. Tenaga dan pikiran belaiau
benar-benar tercurahkan untuk sekolah. Maka, tak ada ucapan yang pantas
disampaikan kepada beliau selain “salut” dan “terima kasih”. Lebih salut lagi
karena beliau mengerjakan ini tanpa kejelasan gaji/tunjangan.
tenanan :
sungguh-sungguh.
Sabtu, 22 April 2017
TENTANG CITA-CITA
Aku dan anak laki-lakiku terlibat dalam diskusi serius
tentang masa depan. Anakku baru berumur 8 tahun dan sekarang duduk di kelas 3
SD. Dia biasa dipanggil “Dede”karena dia anak ragil. Dia bercerita tentang
cita-citanya yang telah berubah sejak 1 jam yang lalu.
“Pa, cita-cita Dede sudah ganti. Sekarang Dede nggak pingin lagi jadi penjual roti
bakar,” katanya serius.
Tak terbayang betapa bahagianya diriku mendengar berita ini.
Aku termasuk salah satu ayah yang mendambakan anaknya mempunyai cita-cita yang
tinggi setinggi langit. Maka ketika beberapa bulan yang lalu anakku berkata bahwa dia ingin menjadi penjual roti
bakar, aku menjadi sedih. Penjual roti bakar yang sering menjadi langganannya ternyata
menjadi tokoh idola. “Cita-cita kok menjadi penjual roti bakar,” kataku dalam
hati saat itu. Sekarang, dengan mengatakan bahwa dia sudah merubah
cita-citanya, aku berharap bayangannya tentang masa depan menjadi lebih baik. Artinya
dia sekarang menyadari bahwa dokter, tentara, direktur, menteri, atau presiden
adalah pilihan yang lebih baik.
“Lalu, sekarang pingin jadi apa?” tanyaku dengan hati
berbunga-bunga.
“Penjual sosis bakar,” jawabnya
Ha? Aku terbelalak. Untuk kedua kali hatiku terkejut.
Harapanku akan sesuatu yang jauh lebih baik terhadap anakku terkubur lagi. Aku
mencoba mencari tahu alasan apa yang mendasarinya ingin menjadi penjual sosis
bakar. Dengan menahan rasa gemas, aku mencoba bertanya kepadanya:
“Kenapa milih jadi penjual sosis bakar?”
“Soalnya, penjual roti bakar sehari hanya dapat untung 20
ribu. Sedangkan penjual sosis bisa mendapat 30 ribu,” jelasnya
Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Walaupun masih kaget
dengan alternative cita-citanya, aku mencoba berdamai dengan keadaan. Tak
mungkin pula bagiku untuk menyakiti hatinya dengan cara memaksanya untuk
merubah-cita-citanya.
“Ya tak apa-apa. Tapi Dede harus tahu, kenapa penjual sosis
bakar mendapat untung 30 ribu,” kataku
“Soalnya sosis bakar lebih enak jadi lebih banyak yang beli,”
jawabnya
“Kalau itu sih selera. Besok kalau sudah bosan, mereka beli
roti bakar lagi. Yang laris roti bakar lagi. Yang dapat untung lebih banyak
penjual roti bakar.”
“Iya sih. Tapi lebih mudah bikin sosis bakar. Tinggal
diiris-iris sedikit pinggirnya, terus dibakar. Lalu diberis saos, kecap sama
mayonnaise. Selesai. Kalau roti bakar lebih ribet. Diberi strawberry, coklat,
keju. Luarnya diolesi mentega. Dibolak-balik. Olesi mentega lagi,” katanya
dengan mantap sambil matanya menerawang ke langit.
Huft.
Langganan:
Postingan (Atom)

