alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Sabtu, 16 April 2016

GARIS JALAN

Aku tersentak dan terbangun. Bus yang aku naiki mengerem mendadak. Tidak hanya aku, para penumpang lain pun banyak yang terhenyak kaget. Jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Kulihat dari kaca jendela nama “Situbondo” di salah satu papan nama salah satu toko kecil. Rupanya kami telah sampai di Situbondo, salah satu kota di Jawa Timur. Suasana telah lengang. Hanya beberapa lampu di depan rumah dan toko yang menemani kami. Beberapa mobil bersimpangan dengan bus kami. Garis jalan terlihat jelas karena ada titik sinar yang memancar dari setiap ujung garis putus-putus yang ada di tengah jalan.

“Di garis-garis jalan kok menyala. Itu lampu ya?” tanya salah satu siswa yang duduk di jok belakangku kepada teman di sampingnya.
“Bukan. Kalau lampu, keinjak roda ya pecah. Kabelnya juga dari mana?” jawab siswa di sampingnya
“Terus apa?”
“Itu stiker seperti yang ditempel di rompi polisi atau tukang parkir. Jadi kalau kena sinar, akan menyala,” jawabnya lagi dengan mantap.
“Kok jalan yang sini nggak ada stikernya ya?” tanya dia setelah kami melewati jalan yang agak terang.
“Mungkin kertas stikernya sudah habis,”


Sang penanya pun diam dan tidur kembali dengan puas, sepuas dia telah mendapatkan penjelasan tentang stiker. Sedangkan aku kembali tidur dalam kebingunganku.

DANGDUT BANYUWANGIAN

Bus berangkat pukul 07.00 tepat. Sepanjang perjalanan aku melihat pemandangan yang sudah pernah aku lihat sebelumnya. Rasanya agak bosan. Akhirnya, aku memilih menikmati perjalanan dengan menonton musik di layar televisi yang tergantung di bus bagian depan, musik dangdut banyuwangian. Running text yang ada di bagian bawah layar tertulis “Tasyakuran khitanan.., Pernikahan..., dan acara-acara keluarga lainnya”.

Walaupun ada permintaan untuk menggantinya dari para penumpang di belakang, Pak kondektur enggan untuk menggantinya. Nampaknya, dia sedang gandrung dengan jenis musik tersebut. Dari bibirnya, mengalir suara lirih mengikuti kalimat-kalimat dalam lagu itu.

Langit hang dadi saksi, bumi milu nyakseni
Suci lan putihe, tulus lan ikhlase
Welas sun nyang riko..
Paran tah paran maning, hang nggawe atin riko
Magih mangu mangu, sing gelem telikas nompo welas isun..
Ngelayung biso isun dung sing biso nduweni,
Biso sun linglung, koyo wong edan turun..
Serange atinisun, serange welas isun,
Nemen nyang riko, nyang riko nyang riko..

Ada beberapa kata yang belum aku pahami dari lagu berjudul “Edan Turun” ini. Hanya celetukan sang MC yang paling jelas aku pahami.

“Ayo goyang semuanya”


Maka aku tak segan-segan mengikuti perintahnya, tangan dan badanku agak sedikit kugoyang mengikuti irama. Ser...ser.

KE BALI LAGI (LAGI-LAGI KE BALI)

Pada hari minggu tanggal 10 April 2016 aku ditawari untuk mendampingi para siswa ke Bali mengikuti kegiatan Bali Overland Tour tahun ini yang akan berlangsung pada tanggal 12-16 April 2016.

“Ada salah satu pendamping yang mengundurkan diri, njenengan bersedia menggantikannya mendampingi siswa ke Bali Pak?” tanya Bu Arie selaku Waka Kesiswaan.

Sebelum mengiyakan, aku minta ijin ke istri dan anak-anakku. Mereka membolehkan dengan syarat membelikan oleh-oleh. Anak pertamaku minta oleh-oleh pie dan kacang. Anak keduaku minta oleh-oleh baju dan permen. Istriku minta oleh-oleh durian. Selain ijin ke istri dan anak-anakku, aku juga harus ijin ke Bu Yeni selaku Waka Kurikulum. Maklum, aku kan asistennya. Seperti halnya istri dan anak-anakku, Bu Yeni juga mengijinkan dengan syarat yang sama.

“Jangan lupa oleh-olehnya”


Akhirnya, aku ke Bali lagi.

Selasa, 05 April 2016

LEK-LEKAN

Lek-lekan adalah aktivitas "melek" (tidak tidur) semalam suntuk. Aktivitas ini sudah menjadi tradisi orang Jawa pada waktu-waktu tertentu. Tradisi lek-lekan yang biasa dilakukan adalah:
  1. Malam 1 suro. Pada malam ini, orang melakukan lek-lekan dengan cara semedi, kungkum, tapa bisu atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perenungan diri sendiri, alam semesta dan Tuhan. Aktivitas ini dikaitkan dengan mencari wangsit, ilham dan wahyu.
  2. Malam akad nikah. Lek-lekan ini dilakukan pada malam sebelum akad nikah di rumah mempelai putri. Tujuannya adalah untuk meramaikan suasana supaya ada kegembiraan sebelum dan sesudah upacara pernikahan. Aktivitas ini dilakukan oleh para kerabat dan tetangga sekitar. Aktivitas lek-lekan ini dilaksanakan dengan mengobrol, ngopi, makan makanan ringan, bermain catur, remi, dan lain sebagainya.
  3. Malam pemilihan kepala desa. Orang melakukan lek-lekan karena pada malam ini biasanya ada “ndaru” yang turun rumah ke calon kepala desa terpilih. “Ndaru” adalah sinar biru kehijau-hijauan yang entah datang dari mana terbang di angkasa dan jatuh di rumah salah satu calon yang dipercaya akan menang. Nah, orang yang lek-lekan ini biasanya menunggu “ndaru” itu karena dia bisa menentukan salah satu calon untuk taruhan.
  4. Malam togel. Lek-lekan dilakukan dimanapun untuk menentukan angka yang akan dipasang dalam togel. Apabila lek-lekan dilakukan di pinggir jalan raya artinya dia menentukan angka togel lewat nomor kendaraan yang lewat. Apabila lek-lekan dilakukan sambil nonton bola, dia akan menentukan angka togel lewat skor pertandingan bola tersebut. Apabila lek-lekan dilakukan di kuburan, dia akan menentukan angka togel dari jenis hantu yang muncul. Apabila lek-lekan sambil mengikuti orang gila, dia akan menentukan angka togel dari kata-kata yang keluar dari orang gila tersebut. Apabila lek-lekan dilakukan sambil tidur, dia berharap angka togel keluar lewat mimpi. Saat dia bangun, dia pasang togel sudah telat.
  5. Malam Ujian Nasional. Lek-lekan ini pada awalnya bertujuan untuk menjaga naskah ujian yang ada di sekolah. Itu terjadi pada tahun sebelum ada istilah “Ujian Nasional” karena pada saat itu naskah soal sudah dikirim ke sekolah masing-masing sebelum dilaksanakan ujian. Namun ketika ada “Ujian Nasional”, naskah soal disimpan di sub rayon (kantor dinas pendidikan atau salah satu sekolah yang ditunjuk) yang sudah dijaga oleh kepala sekolah yang piket dan beberapa orang polisi. Anehnya, di masing-masing sekolah (termasuk sekolahku) tetap dilaksanakan lek-lekan padahal tidak ada lagi naskah soal yang harus dijaga. Lalu, menjaga apa? “Menjaga hatimu,” jawabku. 

Senin, 04 April 2016

PETUGAS PENGAMBIL SOAL

Hari ini, 4 April 2016 Ujian Nasional untuk tingkat SMA telah dimulai. Bersama Pak Uji, aku ditunjuk menjadi petugas pengambil soal ke panitia Sub Rayon. Karena pengambilan soal dilakukan pada pukul 05.30 maka aku harus bersiap-siap lebih awal. Bangun lebih awal, mandi lebih awal, berdandan lebih awal. Sayangnya, tak bisa sarapan lebih awal karena nasi di rumah belum matang dan belum ada warung makan buka.

Pagi pukul 05.25, tanpa sarapan, aku sudah berangkat ke sekolah. Dari sekolah, dengan menggunakan toyota altis hitam milik Pak Uji, aku bersama Pak Uji mengambil soal ke sub rayon. Di Sub rayon, kami bertemu dengan pengambil soal dari sekolah-sekolah lain yang juga berkepentingan sama. Sebelum soal diterima, kami harus menandatangani berita acara, menyerahkan surat tugas dan SPPD. Setelah soal kami terima, soal tersebut harus kami cek terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat. Ada 4 kardus berisi soal Bahasa Indonesia 2 kardus (IPA dan IPS), Kimia (IPA) 1 kardus dan Geografi (IPS) 1 kardus. Masing-masing kardus berisi 7 amplop soal sesuai dengan jumlah ruang. Dan amplop-amplop tersebut masih tersegel dengan rapi serta terbungkus plastik sangat rapat. Jadi tak mungkin ada yang tercecer dan bocor. Dijamin aman.

Menjadi pengambil soal tak ada suatu yang istimewa karena prosedurnya jelas. Walaupun begitu aku masih agak gagap untuk melakukannya karena baru pertama kali aku menjadi petugas pengambil soal. Sementara Pak Uji yang setiap penyelenggaraan Ujian Nasional selalu menjadi pengambil soal sudah hapal langkah-langkah yang harus beliau tempuh termasuk cara memarkir mobilnya agar posisinya pas untuk mengangkut soal.


Kardus-kardus soal dimasukkan ke bagasi. Kami melaju dengan kencang tanpa pengawalan khusus dengan sirene yang meraung-raung sebagaimana pembawa barang yang bertuliskan “rahasia negara”. Sepanjang jalan, warung-warung makan mulai buka. Aku berharap-harap cemas akankah Pak Uji membelokkan mobilnya ke salah satunya sebentar saja. Bisakah?

Jumat, 01 April 2016

SEBUAH CERITA RINGAN: TERLAMBAT TUJUH MENIT

Sita setengah berlari-lari tergopoh-gopoh memasuki pintu gerbang. Tak lupa tangannya menyambar pucu-pucuk daun tetehan yang masih diselimuti embun di balik pintu gerbang. Kebiasaan yang tak bisa dihilangkan sejak ia bersekolah di sini. Di lobi, Pak Bejo sedang membaca koran.

“Selamat pagi Pak,” sapa Sita
“Selamat Pagi,” jawab Pak Bejo

“Tujuh menit ya Pak?” tanya Sita sambil memandang jam dinding di atas Pak Bejo. Jarum panjang sudah 2 langkah melewati angka 1, jarum pendek masih tegar berada di angka 7.

“Sita, kamu terlambat kenapa?” tanya Pak Bejo

“Bangun kesiangan Pak,” jawab Sita sambil memilih jenis hukuman di “Daftar Sanksi Siswa Terlambat” yang ditempel di sebuah whiteboard di dinding. Masing-masing ada 20 jenis hukuman untuk keterlambatan 1-5 menit, 5-10 menit, 10-15 menit dan >15 menit. Tinggal pilih.

“Saya pilih membantu Mas Nung Pak,” kata Sita
“Ok, silahkan!”

Sita segera melepaskan jaket dan tas punggungnya. “Titip ya Pak,” kata Sita sambil meletakannya di bangku panjang Pak Bejo. Sita segera menuju taman di sebelah kanan sekolah.

“Mas Nung... masih ada yang bisa kubantu?” sapa Sita
“Pilih menggantikan Mas Nung mencabuti rumput atau mengaduk kompos?” tanya Mas Nung
“Ada yang lebih bersih nggak?” tanya Sita
“Ada. Mengantar surat ke kecamatan,” jawab Mas Nung
“Jauh amat, nggak mau ah,”
“Hmmm.... kamu cukur bonsai di pojok itu saja, jenggotnya sudah mulai gondrong. Guntingnya di kotak alat. Hati-hati ya, jangan sampai pethak,” suruh Mas Nung

“Ok..” Sita mengambil gunting pohon di kotak alat. Ia aga ragu. Ia belum pernah memotong tanaman. Pelan-pelan, ia mulai memotong tunas-tunas hijau muda yang baru tumbuh sekitar 10 centimeter. Ia hanya memotong daun-daun mudanya untuk mengikuti pola daun tua yang sudah berbentuk. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati karena ia, bahkan semua siswa tahu bonsai itu adalah bonsai kesayangan Mas Nung. Kurang lebih 30 menit, pekerjaannya selesai.

“Sudah selesai Mas Nung,” kata Sita

Mas Nung mendekat dan memeriksa hasil kerja Sita. Kanan kiri atas bawah.

“Bagus, rapi. Kamu punya bakat juga Sita,”
“Iya dong, siapa dulu.... Sita” kata Sita senang.
“Terima kasih, besok terlambat lagi ya,” canda Mas Nung
“Huh, enak aja,” jawab Sita sambil cuci tangan.

Sita kembali ke depan menghadap Pak Bejo.

“Sudah selesai Sita? Besok jangan terlambat lagi ya..nih,” kata Pak Bejo sambil menyerahkan sesobek kertas buram berukuran 10 x 15 cm. Tak ada tulisan apapun di atas kertas tersebut, hanya ada tanda tangan Pak Bejo. Tanda tangan yang sederhana dan mantap.

“Iya Pak. Terima kasih,” kata Sita sambil merenggut tas dan jaketnya.

#
“Tok....tok ...tok, assalamu’alaikum...,” kata Sita sambil membuka pintu.
“Wa’alaikum salam,” jawab Bu Tuti dan teman-temannya

Sita menyerahkan kertas sobekan dari Pak Bejo kepada Bu Tuti.

“Silahkan duduk Sita. Nanti kamu pelajari materi yang ketinggalan ya,” kata Bu Tuti

“Iya Bu, jawab Sita.

SEBUAH CERITA RINGAN: MIMPI

Malam sudah larut. Suasana telah sepi. Dua orang mengendap-endap di sebelah utara gedung sekolah. Kepala keduanya ditutupi sarung. Hanya matanya yang kelihatan. Gerak-geriknya mencurigakan. Salah satunya membawa sebuah linggis. Mereka berdua mendekati pintu samping yang terbuat dari besi. Benar saja, mereka mulai mencongkel gembok besar di pintu tersebut dan “krakkk”

“Astaghfirullahhh....” aku terbangun. Ternyata hanya mimpi. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 03.00. 

Jarang aku bermimpi sampai terbangun seperti ini.

“Jangan-jangan...,” tiba-tiba jantungku berdebar kencang.

Aku segera meloncat dari tempat tidur. Segera kupakai celana panjang dan jaket. Kusambar kunci motor. Kubiarkan istriku dan anak-anakku yang masih nampak pulas di tempat tidur. Aku segera mengeluarkan sepeda motorku. Segera kekebut menuju sekolahku.

Sampai di sekolahku, suasananya sangat sepi. Hanya lampu bohlam 25 watt yang menerangi halaman depan sekolahku. Kuparkir sepeda motorku di halaman depan. Tentu saja, aku tak bisa masuk ke ruang guru karena Pak Soleh lah yang membawa kunci semua ruang. Aku segera menuju ke samping. Nampak warung seberang jalan masih ramai. Benar kata orang, warung itu buka 24 jam. Pagi sampai siang, warung itu adalah tempat jajan bagi siswa-siswaku. Pada malam hari, warung itu tempat jajan para lelaki. Kulihat mereka duduk-duduk sambil tertawa-tawa. Kudekati pintu samping yang terbuat dari kisi-kisi besi. Lampu jalan tampak terang. Aku bisa dengan jelas melihat pintu dan gemboknya. Kuperiksa gemboknya. Ternyata masih terkunci. Kuintip ke dalam. Nampak lorong-lorong kelas yang gelap. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Sekali lagi kuperiksa gemboknya. Kali ini, sengaja kubentur-benturkan gembok itu ke pintunya sehingga menimbulkan suara agak kencang. Para lelaki di waraung itu diam sejenak dan menengok ke arahku. Dengan sorot lampu jalan yang begitu terang, mereka pasti dengan mudah mengenali wajahku. 

Setelah memastikan aman, aku berjalan menuju warung tersebut.

“Wah...pada begadang nih,” sapaku. Ada sekitar 15 pria muda dan setengah baya. Ada yang sedang bermain kartu. Ada yang main catur. Sebagian besar memegang botol minuman.
“Ehh..Pak Guru, kok malam-malam ke sekolah Pak Guru,” kata salah satu pria separuh baya sambil melempar salah satu kartu remi-nya.
“Iya... mampir sebentar. Wah, sampai pagi ini ya?” kataku
“Biasa Pak Guru, kegiatan orang-orang nggak punya kerjaan. Mari.. ngopi-ngopi dulu Pak Guru!”
“Terima kasih.. cuma sebentar kok. Silahkan dilanjutkan,” kataku

Aku kembali ke depan. Kuamati semua gedung sekolah, pintu, jendela, papan pengumuman, dan tanaman-tanaman yang tertata rapi. Semua nampak sepi dan remang-remang. Aku duduk di bangku panjang menghadap ke timur. Persis di depanku, di seberang jalan adalah pintu gerbang makam desa. Makamnya 50 meter menjorok ke arah timur. Jalan dari pintu gerbang sampai ke kompleks makam diapit oleh kebun pisang dan rambutan. Di atas pemakaman malah nampak terang. Terlihat bayangan batu nisan saling menyembul. Konon, di jalan makam tersebut sering muncul hantu tanpa kepala. Kemana kepalanya? Berayun-ayun di tangan kanannya dengan leher yang masih meneteskan darah. Akan tetapi, malam ini tak ada tanda-tanda hantu itu muncul.


Di bangku panjang ini, ditemani nyamuk-nyamuk nakal, kurenungi kembali makna mimpiku sampai azan subuh sayup-sayup berkumandang di kejauhan.