alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar
Tampilkan postingan dengan label terlambat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terlambat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

KE KANTIN




“Ini anak laki-laki pada kemana?” tanyaku kepada siswa perempuan yang ada di kelas.

Tak ada laki-laki satupun di kelas ini. Siswa laki-laki yang berjumlah 8 tidak ada di tempat.

“Ke kantin Pak,” jawab mereka serentak
“Kapan mereka ke kantin?” tanyaku lebih lanjut
“Baru saja Pak, waktu bel ganti pelajaran,” jawab salah satu siswi
“Ini kan belum waktunya istirahat, belum waktunya ke kantin,” jelasku, “ya sudah kita mulai pelajaran kita.”

Aku mulai membagikan fotocopy-an materi pelajaran pada hari ini yaitu volonte dan pouvoir. Kubuka pelajaranku dengan sebuah dialog. Lalu kujelaskan tentang kata kerja vouloir dan pouvoir serta konjugasinya. Beberapa siswa mengajukan pertanyaan tentang infinitive yang mengikuti kata kerja pouvoir dan vouloir.

Setelah pelajaran berjalan kurang lebih 30 menit, 8 siswa datang. Mereka menyalamiku satu per satu.

“Dari mana kalian?” tanyaku pura-pura tidak tahu
“Dari kantin Pak,” jawab salah satu siswa
“Ini waktunya istirahat?” tanyaku lagi
“Bukan Pak,” jawab mereka
“Kenapa kalian ke kantin,”
“lapar Pak,” jawab mereka dengan jujur.
“Ini sudah 30 menit. Kalian tahu konsekuensinya masuk kelas terlambat?”
“Tahu Pak. Mendapat hukuman,”
“Kalian mau dihukum apa?” tanyaku

Tak ada jawaban.

“Suruh lari keliling lapangan Pak,” kata salah satu siswi
“Suruh jalan jongkok saja Pak,” kata siswi yang lain.
“Suruh push up Pak,”

“Saya tak mau menghukum fisik kepada kalian. Nanti saya melanggar undang-undang HAM dan perlindungan anak. Kalian minta surat ijin ke guru piket saja,” kataku
“Jangan Pak. Lebih baik lari keliling lapangan Pak 10 kali,” jawab salah satu siswa
“Tidak. Kalian minta surat ijin masuk ke guru piket,” kataku

Mereka menuruti perintahku. Mereka pergi keluar kelas. Aku menutup pintu dan melanjutkan pelajaran. 15 menit kemudian mereka kembali.

“Guru piketnya tidak ada Pak,” lapor salah satu siswa
“Jangan bohong. Guru piket kan ada 4. Kalian cari salah satunya. Pasti ada,” kataku
“Dihukum fisik saja sih Pak,” minta mereka
“Nah, benar kan. Kalian pasti belum ke guru piket. Sudah, sana cari guru piket. Kalian tak boleh masuk sebelum membawa surat ijin masuk,” kataku

Aku kembali melanjutkan pelajaran sampai selesai. Akan tetapi, siswa-siswa itu belum juga kembali.
Bel istirahat berbunyi. Ketika aku keluar kelas, mereka datang.

“Kemana saja kalian?” tanyaku
“Kami minta surat ijin ini Pak,” kata salah satu siswa sambil menyodorkan surat ijin masuk
“Kok lama sekali?” tanyaku
“Kan kami dihukum. Terus ngisi buku pelanggaran.”
“Dihukum apa kalian?” tanyaku
“Ini ada yang sabuknya disita, ada yang sepatunya disita karena tidak sesuai aturan. Terus kami harus menyanyikan lagu nasional Pak. Satu per satu. Jadi lama Pak. Pokoknya satu album full.

Jumat, 01 April 2016

SEBUAH CERITA RINGAN: TERLAMBAT TUJUH MENIT

Sita setengah berlari-lari tergopoh-gopoh memasuki pintu gerbang. Tak lupa tangannya menyambar pucu-pucuk daun tetehan yang masih diselimuti embun di balik pintu gerbang. Kebiasaan yang tak bisa dihilangkan sejak ia bersekolah di sini. Di lobi, Pak Bejo sedang membaca koran.

“Selamat pagi Pak,” sapa Sita
“Selamat Pagi,” jawab Pak Bejo

“Tujuh menit ya Pak?” tanya Sita sambil memandang jam dinding di atas Pak Bejo. Jarum panjang sudah 2 langkah melewati angka 1, jarum pendek masih tegar berada di angka 7.

“Sita, kamu terlambat kenapa?” tanya Pak Bejo

“Bangun kesiangan Pak,” jawab Sita sambil memilih jenis hukuman di “Daftar Sanksi Siswa Terlambat” yang ditempel di sebuah whiteboard di dinding. Masing-masing ada 20 jenis hukuman untuk keterlambatan 1-5 menit, 5-10 menit, 10-15 menit dan >15 menit. Tinggal pilih.

“Saya pilih membantu Mas Nung Pak,” kata Sita
“Ok, silahkan!”

Sita segera melepaskan jaket dan tas punggungnya. “Titip ya Pak,” kata Sita sambil meletakannya di bangku panjang Pak Bejo. Sita segera menuju taman di sebelah kanan sekolah.

“Mas Nung... masih ada yang bisa kubantu?” sapa Sita
“Pilih menggantikan Mas Nung mencabuti rumput atau mengaduk kompos?” tanya Mas Nung
“Ada yang lebih bersih nggak?” tanya Sita
“Ada. Mengantar surat ke kecamatan,” jawab Mas Nung
“Jauh amat, nggak mau ah,”
“Hmmm.... kamu cukur bonsai di pojok itu saja, jenggotnya sudah mulai gondrong. Guntingnya di kotak alat. Hati-hati ya, jangan sampai pethak,” suruh Mas Nung

“Ok..” Sita mengambil gunting pohon di kotak alat. Ia aga ragu. Ia belum pernah memotong tanaman. Pelan-pelan, ia mulai memotong tunas-tunas hijau muda yang baru tumbuh sekitar 10 centimeter. Ia hanya memotong daun-daun mudanya untuk mengikuti pola daun tua yang sudah berbentuk. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati karena ia, bahkan semua siswa tahu bonsai itu adalah bonsai kesayangan Mas Nung. Kurang lebih 30 menit, pekerjaannya selesai.

“Sudah selesai Mas Nung,” kata Sita

Mas Nung mendekat dan memeriksa hasil kerja Sita. Kanan kiri atas bawah.

“Bagus, rapi. Kamu punya bakat juga Sita,”
“Iya dong, siapa dulu.... Sita” kata Sita senang.
“Terima kasih, besok terlambat lagi ya,” canda Mas Nung
“Huh, enak aja,” jawab Sita sambil cuci tangan.

Sita kembali ke depan menghadap Pak Bejo.

“Sudah selesai Sita? Besok jangan terlambat lagi ya..nih,” kata Pak Bejo sambil menyerahkan sesobek kertas buram berukuran 10 x 15 cm. Tak ada tulisan apapun di atas kertas tersebut, hanya ada tanda tangan Pak Bejo. Tanda tangan yang sederhana dan mantap.

“Iya Pak. Terima kasih,” kata Sita sambil merenggut tas dan jaketnya.

#
“Tok....tok ...tok, assalamu’alaikum...,” kata Sita sambil membuka pintu.
“Wa’alaikum salam,” jawab Bu Tuti dan teman-temannya

Sita menyerahkan kertas sobekan dari Pak Bejo kepada Bu Tuti.

“Silahkan duduk Sita. Nanti kamu pelajari materi yang ketinggalan ya,” kata Bu Tuti

“Iya Bu, jawab Sita.

Minggu, 08 Februari 2015

HUKUMAN FISIK?

Bel berbunyi 2 kali. Jam dinding menunjukkan pukul 08.30. Aku keluar dari ruang kelas XII IPA 2. Aku berjalan menuju kantor. Sejenak aku minum air putih yang telah disediakan di mejaku oleh Pak Sukalimi. Sekitar 3 menit aku menghela nafas di ruang guru sambil menikmati semilir angin dari kipas angin di atasku. Dari keluar kelas dan istirahat di ruang guru aku membutuhkan waktu sekitar 6 menit

Dengan langkah yang masih mantap, aku menuju ruang kelas X IIS 1. Ruang itu berada di lantai 2 di gedung ..........? (Ah, jadi ada ide untuk mengusulkan nama untuk setiap gedung di sekolahku). Walaupun belum ada namanya, gedung itu telah berdiri megah dengan 5 ruang kelas di lantai pertama dan 5 ruang di lantai kedua. Berjarak sekitar 200 meter dari ruang guru. Dengan jalanku yang biasa saja, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, aku bisa menempuh waktu sekitar 7 menit. Artinya, aku baru sampai di kelas X IIS 1 pada pukul 08.43.

Benar saja. Pada pukul 08.43 WIB aku tiba di ruang kelas X IIS 1. Kulihat beberapa kursi kosong. Aku ucapkan salam dan kuabsen satu per satu. Dari hasil absensi, aku mendapati ada 7 siswa yang sedang keluar kelas. Kutanya ketua kelas:

"Kemana mereka?"
"Di kantin Pak," jawab Gentur sang ketua kelas.
"Tolong dipanggil," suruhku. Gentur segera beranjak menuju kantin.

Sekitar 10 menit Gentur kembali.
"Mereka tak mau kembali Pak. Katanya tanggung, makannya baru separoh," jawabnya
"Wah, tidak beres ini. Tak bisa dibiarkan," kataku dalam hati
"Dihukum saja Pak," teriak teman-temannya.
"Suruh lari keliling lapangan 10 kali Pak," kata Oliv
"Suruh jalan jongok 20 kali Pak," sahut Davi
"Suruh push up 50 kali Pak" kata yang lain

Sekitar 15 menit kemudian, mereka datang.
"Maaf Pak, kami terlambat," kata salah satu dari mereka
"Sudah kenyang?" tanyaku
"Sudah Pak," jawab Said sambil cengar-cengir kecut.
"Kalian ini bagaimana. Kalian tahu ini belum waktunya istirahat. Kenapa kalian ke kantin? Kalian sadar tidak sudah melakukan pelanggaran?" kataku berceramah
"Iya Pak. Kami mengaku salah," kata Panca
"Karena kalian sudah mengakui kesalahan, kalian minta dihukum apa? tanyaku sembari aku berp[ikir jenis hukuman apa yang pantas untuk mereka.
"Lari keliling lapangan Pak," jawab Indra
"Tidak," jawabku spontan. Aku teringat berita kemarin sore di televisi. Seorang anak SMP dihukum berlari keliling lapangan basket. Baru dua putaran, anak tersebut pingsan lalu meninggal dunia. Orang tuanya tidak terima. Kemudian guru yang menghukumnya dipanggil oleh dinas pendidikan. Kata kepala dinas, guru tersebut pasti mendapat sanksi.
Aku yakin anak itu meninggal bukan hanya karena lari 2 putaran lapangan basket. Pasti ada penyebab lain. Tapi apa mau dikata, guru yang menghukumnya lah yang kini menjadi kambing hitam. Oh...nasib.

Aku tak mau itu terjadi padaku. Lagi pula, aku tahu mereka baru saja makan. Tak mungkin kondisi perut baru terisi penuh langsung disuruh lari. Tapi aku terus terang masih bingung alternatif hukuman apa yang akan aku berikan.

"Disuruh minta tanda tangan guru di semua kelas saja Pak. Biar kapok. Pelajaran yang lain juga seperti itu," kata salah satu siswa.

"Iya..itu saja. Kalian tulis kalimat: "Saya berjanji tidak akan terlambat mengikuti pelajaran lagi". Kemudian bawahnya di buat tabel berisi Kelas, Nama Guru, Tanda Tangan. Kalian minta ijin ke Bapak atau Ibu guru yang sedang mengajar di kelas. Kemudian kalian ucapkan kalimat itu keras-keras di depan kelas. Terus minta tanda tangan kepada Bapak atau Ibu guru yang sedang mengajar. Satu per satu. tidak boleh rombongan. Paham?" kataku walaupun aku pikir hukuman itu jelas-jelas mengganggu kelas lain karena harus meminta waktu tersendiri di setiap kelas untuk menjalankan hukuman tersebut. Tapi apa boleh buat, hanya satu alternatif hukuman itu yang ada. Belum ada alternatif hukuman lain yang muncul di dalam otakku.

Ini adalah PR buatku. Mencari alternatif hukuman yang tepat untuk pelanggaran-pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh siswa. Harus dipertimbangkan bobot (ringan dan beratnya) pelanggaran, nilai (mendidik dan tidaknya) hukuman, serta efek hukuman terhadap siswa.

Dan seharusnya, ini dibicarakan dengan semua guru. Agar ada keadilan dalam memberikan hukuman kepada siswa.

Mari Bapak Ibu Guru, kita bicarakan ini.