alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Sabtu, 28 Maret 2015

NILAI UJIAN SEKOLAH

Kemarin, Hari Kamis tanggal 26 Maret 2015 adalah hari terakhir Ujian Sekolah. Mata pelajaran yang diujikan hanya satu. Untuk itu, kegiatan pada hari itu, dilanjutkan dengan koreksi bersama Ujian Sekolah.

Koreksi Ujian Sekolah dilakukan bersama-sama dalam satu ruangan. Masing-masing mata pelajaran dikoreksi oleh 2 orang guru. Jadi ada 38 guru yang mengoreksi untuk 19 mata pelajaran.

Sebelumnya, salah satu panitia Ujian Sekolah mengumumkan bahwa nilai Ujian Sekolah ini juga harus dikirim ke panitia tingkat pusat melalui panitia tingkat provinsi setelah sebelumnya nilai raport semester 3,4,5 juga dikirim.

Aku jadi bertanya-tanya. (Siapa tahu ada yang bisa menjawab). Untuk apa nilai Ujian Sekolah dan nilai raport semester 3, 4, dan 5 dikirimkan ke panitia UN pusat? Bukankah, kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan formal ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan rapat Dewan Guru.*) Apakah ini tidak menyebabkan persaingan antar sekolah karena seakan-akan nilai raport dan nilai Ujian sekolah akan dilombakan di tingkat pusat.



*) VII.2. Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan nomor 0031/P/BSNP/III/2015 tentang Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2014/2015.

HARI AIR

Tanggal 24 Maret kemarin pukul 23.00, aku menerima sms dari Kemkominfo yang isinya: Dalam rangka HARI AIR DUNIA 22 Maret 2015, ayo menjadi Generasi Peduli dengan melestarikan air.
Setiap tanggal 22 Maret memang selalu diperingati sebagai Hari Air Sedunia (World Day for Water). 

Inisiatif peringatan ini di umumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Dengan perayaan ini, ita disadarkan pada pentingnya air bersih.

Menurut berita, di seluruh dunia, kebutuhan air bersih mutlak diperlukan untuk memberikan jaminan akan kelangsungan hidup rakyatnya. Kekurangan air bersih telah mengancam kesehatan masyarakat, mengancam stabilitas politik, dan juga mengancam lingkungan.

Setelah membaca sms dari Kemkominfo, aku malah bingung. Bagaimana cara melestarikan air?

Menurut lembaga masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup, cara melestarikan air adalah sebagai berikut:

1. Hemat air.
Pasti. Aku sekarang sedang irit air PAM karena rata-rata aku membayar rekening PDAM Rp. 90.000,-. Karena itu, aku sekarang memakai air sumur. Terbukti irit. Irit biaya maksudnya karena aku sekarang hanya membayar rekening PDAM hanya Rp. 40.000,-. Apakah irit air? Tidak sama sekali.

2. Tidak mencemari air.
Ini yang tak mungkin aku lakukan. Pembuangan air sisa sabun, dapur, dan toilet masuk ke sungai. Pasti sungainya tercemar oleh zat-zat berbahaya. Solusinya? Haruskah aku mandi tak pakai sabun, mencuci pakaian tak memakai detergen, mencuci piring tak memakai pembersih. Terus terang, aku tak berani. Jangankan tak pakai sabun. Mandi sehari 2 kali memakai sabun mandi yang paling wangi saja, keringatku masih mencemari lingkungan. Apalagi tak pakai sabun. Hii....mengerikan.

Please, tolonglah Pak Presiden, Pak Wakil Presiden, Pak Menteri, atau Pak siapa sajalah, beri aku solusi agar air pembuangan kamar mandi, dapur dan toiletku tidak mencemari sungai. Bagaimana air yang mengalir ke selokan sudah bersih kembali. Soalnya, itu saluran selokan se-RT sudah dari sononya menuju ke sungai. Aku tak bisa berbuat apapun.

Sedangkan menurut UUD 45, urusan air adalah urusan sampeyan-sampeyan semua. Pasal 33 kan sudah mengatakan “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Jadi, silahkan airnya dikuasai, dikelola, dilestarikan, dibersihkan oleh negara, aku sebagai salah satu rakyat juga berhak memakai, menggunakan dan memanfaatkannya. Jangan sebaliknya ya, airnya dikuasai, rakyat membeli, pengelolanya kaya raya.

Konon, saat ini perusahaan di bawah pengelolaan pemerintah baru bisa melayani 10 juta sambungan rumah atau 60 juta orang atau 25 % dari total penduduk. Volume yang dikelola adalah 3,2 miliar liter air. Sedangkan air bersih yang dikelola oleh swasta dalam bentuk air kemasan adalah sebesar 20,3 miliar liter. Banyak perusahaan besar yang mencari untung sebesar-besarnya dengan air.

Seandainya pemerintah menguasai seluruh pengelolaan air kemudian mengelolanya dengan baik menjadi saja air yang benar-benar bersih dan siap minum dan melayani seluruh penduduk di Indonesia dengan gratis, tentu tak perlu ada perusahaan swasta yang mengelola air.

Aku pun tak perlu mengelola air sendiri dengan membuat sumur dan tak perlu anakku mengatakan:


“Pa, sekarang kita mempunyai perusahaan air sendiri ya?”

Jumat, 27 Maret 2015

UJIAN BAHASA PERANCIS (MUDAH ATAU SULIT)

Ujian Bahasa Perancis diujikan pada hari terakhir yaitu pada hari Kamis tanggal 26 Maret 2015. Tak disangka, soal yang seharusnya dikerjakan dalam waktu 90 menit, dalam waktu 30 menit sudah ada siswa yang selesai dan keluar dari ruang ujian. Kejadian ini menimbulkan kecurigaan.

“Wah, nggak beres nih Bahasa Perancis,” komentar salah satu guru.

Aku pun menjadi merasa dicurigai. Agak malu juga. Tapi setelah dipikir-pikir ternyata betul-betul malu.

Aku mempunyai dua alternatif mengapa para siswa keluar lebih awal: (1) soalnya terlalu mudah atau (2) soalnya terlalu sulit. Kalau terlalu mudah, wajar mereka keluar lebih awal dan alhamdulillah karena itu artinya siswa-siswaku benar-benar memahami dan menguasai Bahasa Perancis. Kalau terlalu sulit, juga wajar mereka keluar lebih awal. Aku pernah mengajarkan kepada mereka, mengerjakan soal tes atau ujian harus jujur pada diri sendiri. Kalau tak bisa mengerjakan soal, tinggalkan saja dan tidak perlu mencari jawaban dari teman atau mencontek.

Walaupun aku sudah menenangkan diri dengan 2 alternatif tersebut tapi malunya tetap tak bisa ditutupi. Padahal aku merasa bahwa aku sudah membuat soal dengan hati-hati dan kuperhatikan betul tingkat kesulitan soal (susah, sedang, mudah).

Dengan kejadian ini, aku sekarang memahami mengapa dalam tata tertib peserta Ujian Nasional tahun 2015 (Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan nomor 0031/P/BSNP/III/2015 tentang Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2014/2015) nomor 16 berbunyi: “yang telah selesai mengerjakan soal sebelum waktu UN berakhir tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan sebelum berakhirnya waktu ujian”.

Rupanya ini juga untuk menghindari rasa malu.

Rabu, 25 Maret 2015

BELUM MANDI

Pagi ini, aku berangkat sekolah tidak mandi. Gara-garanya adalah air PAM mati. Air yang tersisa hanya satu ember dan dipakai anakku. Sebenarnya di mushola ada kamar mandi dan pasti ada airnya karena mushola menggunakan air sumur. Tapi karena belum pernah mandi di mushola, aku lebih memilih menahan diri untuk tak mandi. Lagian, pasti antri. Untuk menutupi bau yang pasti tak wangi, aku menggunakan minyak wangi. Minyak wangi yang tak pernah kupakai. Minyak wangi ini dibelikan istriku. Minyak wangi khusus pria, merk terkenal. Yang iklannya ada cowok pakai minyak wangi ini dan semua cewek ikut. Katanya baunya enak. Aku sebenarnya tak suka pakai minyak wangi. Jadi minyak wangi ini masih utuh. Tapi apa boleh buat, pagi ini aku terpaksa memakainya.

Sekali kusemprot, baunya menohok hidung.

"Kok nggak enak Ma!" kataku pada istriku.
"Nggak enak gimana? Wangi sekali. Segaaar.." kata istriku.
"Baunya nyegrak," kataku
"Ini memang minyak wangi khusus pria. Jadi yang bisa merasakan wanginya adalah perempuan," kata istriku membela.

Iya mungkin. Buktinya aku memang lebih menyukai minyak wangi yang dipakai oleh istriku, minyak wangi khusus perempuan.

Dengan wangi-wangian seperti ini, aku jadi percaya diri memasuki ruang kelas walaupun tak mandi.

"Wuih, Pak guru pakai minyak wangi. Enak sekali baunya. Minyak wangi apa Pak?" kata Sinta

Aku hanya tersenyum menanggapi pujian itu.

"Tumben Pak, pakai minyak wangi. Minyak wangi mahal ini, minyak wangi khusus pria," kata Ita sambil mengendus-endus bau minyak wangiku.
"Aku tahu, aku tahu, ini gara-gara air PAM mati kan Pak," teriak Indra, siswa yang rumahnya satu komplek denganku.
"He, sama-sama tidak mandi dilarang buka rahasia ya," teriakku juga.

"Ooo... belum mandiiii," teriak anak sekelas serempak.

Minggu, 22 Maret 2015

KRENGSENG

Dusun yang pertama kali kuhapal di kepalaku ketika aku memulai hidup di Batang adalah Krengseng. Dusun ini masuk wilayah desa Rowobelang, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.

Tanpa sanak tanpa saudara, aku menginjakkan kaki di kota Batang untuk bertugas sebagai guru PNS. Saat aku pertama kali menghadap kepala sekolah yaitu Drs. Miswadi, M.Pd. untuk menyerahkan surat tugas di sekolah baruku. Saat itu, Bapak Miswadi menghendakiku untuk langsung bertugas.

“Maaf Pak, saya belum punya kos di Batang. Ini saja tadi pagi saya langsung dari Kebumen, kalau misalnya ditunda minggu depan bagaimana?” kataku mencoba menawar.
“Kalau ditunda berarti ini mau pulang lagi ke Kebumen? Terus besok kalau ke sini lagi, belum punya kos lagi. Mending hari ini langsung tugas saja sambil mencari kos,” kata beliau.

Kemudian beliau memanggil salah satu stafnya yaitu Mas Slamet. Beliau menanyakan kepada Mas Slamet apakah di rumahnya masih ada kamar kosong. Kemudian Mas Slamet meninggalkan kami beberapa saat. Aku dan Bapak Miswadi ngobrol ngalor ngidul sampai Mas Slamet datang.

“Ada Pak. Tapi belum ditata. Nanti siang insyalloh sudah siap,” kata Mas Slamet.

Setelah sekolah usai, aku diantar Mas Slamet ke rumahnya di dusun Krengseng, ke arah selatan dari sekolahku. Aku dipersilahkan menengok kamar untukku. Aku berkenalan dengan ayah dan ibunya Mas Slamet, Bapak dan Ibu Alwi. Ternyata Mas Slamet sudah berumah tangga dan tinggal di rumah sendiri. Sedangkan Bapak dan Ibu Alwi hanya tinggal berdua saja di rumah itu. Putra-putranya telah berumah tangga semua dan telah menempati rumah sendiri-sendiri. Jadi, rumah orang tua Mas Slamet ini bukan kos-kosan. Hanya kebetulan rumahnya besar dan mempunyai beberapa kamar yang sudah kosong.

Sejak hari itu, aku mulai mengenal Batang. Dimulai dari sebuah dusun yang ternyata cukup sederhana dan terpencil. Mata pencaharian masyarakatnya adalah petani dan pedagang. Kehidupan keagamaannya sangat kental karena ada banyak mushola dan TPQ yang berdiri di dusun ini. Dusun ini terpisah dari dusun yang lain dan terpisah dari pusat kota. Padahal dusun ini hanya sekitar 3 kilometer dari alun-alun Batang. 

Ketersendirian dusun ini sangat terasa ketika malam mulai tiba. Selepas isya, para penduduk sudah mulai melepas lelah di pembaringannya. Untuk keluar dari dusun ini, harus melewati hutan sengon, kebun rambutan, kebun singkong, kebun tebu tanpa penerang.  Lampu pertama yang terlihat saat keluar dari dusun ini adalah lampu di depan sekolahku (sekitar 500 meter dari dusun ini). Kemudian masih melewati beberapa kebun lagi sebelum sampai di jalan Pemuda. Benar-benar jauh dari keramaian kota, jauh dari kebisingan. Ketika malam mulai larut, hanya jangkrik dan teman-temannya menjadi satu-satunya hiburanku. Semalam, aku serasa hidup di tengah belantara.

Di waktu pagi hari berikutnya, aku benar-benar merasakan kesegaran. Mentari menyambutku dengan penuh senyum. Air bening dari sumur sedalam kurang lebih 14 meter menyegarkan tubuhku. Burung-burung berkicau gembira, berloncatan dari dahan ke dahan dan terbang mengejar kekasihnya. Para lelaki mengangkat cangkul ke ladang dan para perempuan menggendong rinjing bambu ke pasar. Mereka menyapa ramah dengan senyum begitu ikhlas. Anak-anak berjalan kaki dan bersepeda berangkat sekolah dengan gembira. Aku sangat menikmati kehidupan bersama manusia-manusia bersahaja. 

Hanya sepuluh hari aku tinggal di dusun ini dan bergelut dengan kehidupan sederhana ini sampai aku menemukan rumah kontrakan. Rasanya tak sanggup melepas perpisahan dan melupakan dusun yang indah ini.

Sabtu, 21 Maret 2015

KEMIN

Setiap jum'at pagi, pukul 06.00 sampai 07.00, acara di sekolahku adalah olahraga bagi guru dan staf TU. Berbagai aktifitas kesehatan kami lakukan sebelum mengajar yang dimulai pada pukul 07.30. Kadang senam, volleyball, basketball, atau jalan-jalan ke luar sekolah.

Acara yang paling aku sukai adalah jalan-jalan. Berkeliling menghirup udara segar di lingkungan sekitar sekolah sekalian melihat-lihat tumbuh-tumbuhan yang hijau. Sebagian besar wilayah di sekitar sekolah kami adalah hutan tanaman rakyat. Ada jati, sengon, atau tanaman perkebunan lainnya seperti kebun rabutan, singkong dan tebu.

Suatu ketika, sembari melintasi kebun tebu, Bu Kandriyah berkata kepadaku:

"Pak, ini bau kemin kalau ingin tahu," kata beliau. Beliau menunjukkan kepadaku karena aku memang dikategorikan sebagai guru baru di sekolah ini dan bukan berasal dari kota ini.
"Kemin? Apa itu Bu?" tanyaku. Aku benar-benar tak tahu kosa kata itu.
"Hmm... apa ya," kata beliau nampak ragu untuk mengucapkannya.
"Apa Bu?" tanyaku semakin penasaran.
"Celeng Pak," kata beliau tampak kikuk.
"O...celeng," kataku sambil mengendus-endus bau yang mungkin beda dengan yang lain. Memang tercium bau agak penguk seperti bau tikus got/wirog.
"Bau penguk ini ya Bu?" tanyaku penasaran.
"Iya benar. Ini artinya ada kemin di sekitar sini Pak. Mungkin baru melintasi daerah sini. Atau mungkin ada sarangnya di kebun tebu ini," kata beliau menjelaskan.

Aku belum bisa membayangkan, wilayah sekolahku ternyata masih berupa alam liar. Masih ada binatang yang masuk kerajaan animali, filum chordata, kelas mammalia, ordo artiodactyla, famili suidae, genus sus, spesies sus verrucosus di sekitar sekolahku.

Bahkan kata Pak Sanyar, penjaga malam di sekolah kami, pada malam hari hewan bernama latin sus scrofa yang merupakan nenek moyangnya babi ini sering melintas di jalan depan sekolah kami.

Aku jadi merinding.

Jumat, 20 Maret 2015

LUWAK

Pagi ini kulihat meja komputer di ruang guru berantakan. Cover printer pecah. Kertas berserakan. Jejak kecil nampak jelas di atas meja. Saat kulihat, ternyata plafon jebol. Kata Pak Tris, staf Tata Usaha bagian bersih-bersih, itu adalah ulah luwak.

“Tadi pagi saya menyapu, ada luwak lari keluar lewat pintu,” kata Pak Tris.

Di sekolah kami, plafon jebol karena luwak tidak hanya sekali ini, tapi sudah berkali-kali. Para keluarga luwak membangun sarangnya di atas plafon. Dari baunya, semua orang sudah paham itu luwak. Sisa bau wangi khas daun pandan dari tubuh bernama latin paradoxurus hermaproditus ini masih tertinggal di tempat jatuhnya luwak.

Kejadian ini membuat kami sedikit repot karena printer rusak dan kertas dan dokumen di atas meja komputer berantakan. Untuk mengusir luwak agar tak bersarang di plafon masih mustahil. Selain, luwak tersebut masih liar, keberadaannya di atas plafon seringkali tidak diketahui karena mereka adalah binatang nocturnal yang aktif pada malam hari. Untuk menangkapnya juga sangat sulit. Beberapa kali Pak Tris dan teman-temannya mencoba mengintai dan menyergap, tak pernah berhasil.

“Masuk ke plafonnya juga entah lewat mana, mungkin bisa membuka genting,” tambah Pak Tris.

Itulah resiko letak sekolah yang berada di tengah hutan dan jauh dari pemukiman penduduk. Kami harus hidup berdampingan dengan binatang liar, salah satunya adalah luwak.