alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Selasa, 10 Maret 2015

SALAM KOMANDO

Khutbah Jum'ah berakhir dan muadzin mengumandangkan "iqomah". Aku segera berdiri. Dari belakangku, seseorang maju di shafku dan berdiri di sampingku.

"Pak Bas," sapa dia lirih sambil tersenyum. Aku lupa namanya. Tapi aku tak mungkin lupa wajahnya. Dia adalah salah satu mantan muridku, lulus 3 tahun yang lalu. Badannya tinggi besar dan rambutnya cepak model militer.

Secara spontan dia mengajakku salaman. Aku pun mengulurkan tanganku. Pada saat aku akan menarik tanganku kembali (aku kira sudah selesai), dia melanjutkan dengan menggenggam tanganku di bagian ibu jariku. (posisi seperti mau lomba panco). Aku dengan sigap melayaninya. Kugenggam juga ibu jarinya dengan erat. Tiba-tiba, dia menarik tangannya ke posisi semula dan kembali bersalaman seperti umumnya.

"Eh, Maaf Pak," kata dia sambil mencium tanganku, nampak kikuk.
"Nggak apa-apa. Tak ada yang salah," kataku sambil senyum dan menepuk pundaknya.

(Kataku dalam hati: "Emang lu doang yang bisa salam komando. Gue juga bisa")

Sayang, aku tak sempat mengobrol lebih lanjut dengannya karena sholat Jum'at sudah dimulai.

Jumat, 06 Maret 2015

"KIRA-KIRA” SUTRADARA

Kamera siap? satu...dua...tiga! teriakku
Joko (diperankan oleh Joko)     : Pa’e.. (Sambil keluar dari rumah)
Bapak (diperankan oleh Pak Tujanto) : Ono opo Jok? (sambil memberesi kayu bakar) 
Joko       : Ma’e nang endi Pa’?
Bapak    : Wis lungo pasar.
Joko       : Yo wis yo Pa’, aku mangkat sekolah sit. (lalu mencium tangan bapaknya)
Bapak    : Iyo Le, sing ati-ati. Sing sregep ben pinter. Ben sesuk cita-citamu kelakon dadi dokter. Ora koyo Bapakmu. Dadi wong ora nduwe. Isone mung ngangkut sampah.

“Stop. Adegan ayahnya terlalu panjang. Nasehatnya terlalu banyak. Tak usah dinasehati. Cukup pamitan dan salaman. Ulangi lagi!” kataku persis seperti sutradara. Padahal baru latihan.

Adegan diulangi.
Joko       : Pa’e..
Bapak    : Ono opo Jok?
Joko       : Ma’e nang endi Pa’?
Bapak    : Wis lungo pasar.
Joko       : Yo wis yo Pa’, aku mangkat sekolah sit. (lalu mencium tangan ayahnya)
Bapak    : (Diam) terus (nampak bingung apa lagi yang harus dilakukan)

“Stop. Kok jadi begini ya,” kataku

“Malah jadi kaku Pak. Seperti yang awal saja, percakapannya biarkan apa adanya,” kata Pak Kasmudi

Itulah sekelumit peristiwa pembuatan film indie di sekolahku. Film indie adalah film independen yang sebagian besar dibuat di luar studio film besar. Sesuai namanya, film independen ini dibuat secara bebas, mandiri, dan merdeka. Oleh karena itu, film ini biasanya menggambarkan sesuatu yang apa adanya (sesuai aslinya).

Ide awal pembuatan film ini berasal dari Bu Titin, guru Bahasa Indonesia yang diberi tugas oleh Bapak Kepala Sekolah untuk membuat film dalam rangka lomba di kabupaten. Aku yang tak tahu apa-apa diminta untuk membantu. Selain aku, ada Pak Kasmudi yang kemungkinan tak tahu apa-apa juga. Para pemainnya adalah siswa-siswa kelas XI. Ide cerita telah dibuat oleh Bu Titin tapi skenario, adegan dan percakapan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di tempat syuting. Di dalam naskah cerita juga tak ada naskah dialog. Kata-kata dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa daerah Batang. Urusan bahasa dan kata-kata diserahkan sepenuhnya kepada para pemain yang lebih tahu tentang Bahasa Jawa daerah Batang yang mereka gunakan sehari-hari.

Kami bukan pelaku cineas yang telah lama malang melintang di dunia film. Kami baru saja mencoba membuat film dengan ilmu “kira-kira”. Posisi kamera, adegan, percakapan, semuanya diatur “kira-kira” yang paling bagus.

Aku pun menjadi “kira-kira” sutradara. Kenapa aku? Awalnya karena tak ada satu orang pun yang memberi aba-aba ketika adegan dimulai dan diakhiri. Akhirnya, tanpa sengaja, aku memberi aba-aba: “kamera siap?” tanyaku kepada kameramen. Setelah kameramen menyatakan siap, aku lanjutkan “satu dua tiga” (seharusnya kata “tiga” diganti “action”). Pada akhir adegan juga aku bilang "stop" (seharusnya "cut"). Aku lupa. Untuk pengambilan gambar selanjutnya pasti kuganti dengan “action” dan "cut", agar menjadi “beneran” sutradara.

MENGEJA BATANG


Setelah menyusuri jalan Yos Sudarso dari arah utara, (jangan menduga yang tidak-tidak ya… Swear aku bukan dari Bong Chino. Aku hanya mencari kuliner untuk tajilan yasinan di musholaku), aku berhenti di lampu merah. Tepat di depanku adalah alun-alun Batang, alun-alun yang baru saja direnovasi sehingga nampak semakin indah dan megah.

Tiba-tiba di sebelahku berhenti sebuah sepeda motor yang dinaiki oleh seorang ibu bersama anak perempuannya yang berumur sekitar 5 tahun. Anak itu duduk di depan.

“Ma, itu tulisan apa?” tanya si anak sambil menunjuk huruf yang berjajar dari timur ke barat di alun-alun. Huruf-huruf yang membentuk sebuah kata itu tetap kelihatan jelas di malam hari karena selain ukurannya yang besar, di tepi huruf terdapat lampu selang LED berwarna biru mengikuti bentuk huruf. Indah sekali.

“Coba dieja!” suruh ibunya
“b-a ba, t-a ta, n-g. Ma, n-g dibaca apa sih?” tanya anak itu kesulitan mengeja 2 huruf konsonan berdampingan di akhir tulisan tersebut.
“Coba dibaca yang depan dulu!” kata ibunya
“Bata, ditambah n-g. Batang ya Ma?” tebak anak itu.
“Betul, kamu pintar,” kata sang ibu.
“Hore, aku bisa membaca huruf n-g. ng…ng, batang” teriak si anak sambil terus mengucapkan “ng..ng..ng” dari rongga hidungnya.

Ternyata selain berfungsi untuk penanda, ikon, dan identitas kota, tulisan BATANG di alun-alun itu berfungsi untuk melatih anak membaca konsonan nasal atau sengau “ng”. Salut.

Kamis, 05 Maret 2015

DEMO NELAYAN

Pada tanggal 3 Maret 2015 nelayan Batang melakukan demo di gedung DPRD Kabupaten Batang mengenai penolakan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 2/Permen-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets). Dalam demo ini terjadi tindakan anarkis dengan merusak prasarana umum serta terjadi bentrok dan aksi pukul antara polisi dan para nelayan.

Bukan demo ini yang aku risaukan tapi efek demo tersebut terhadap siswa-siswaku. Di antara mereka ada yang anak nelayan dan ada anak polisi. Tadi siang, di kelasku terjadi perdebatan antara anak nelayan yang menyalahkan polisi dan anak polisi yang menyalahkan nelayan.

"Memangnya kemarin kamu ikut demo?" tanyaku kepada Nasrul si anak nelayan
"Tidak Pak," jawab Nasrul
"Terus kamu juga ikut mengamankan jalannya demo?" tanyaku kepada Ardi si anak polisi
"Tidak Pak," jawab Ardi
"Kok kalian tahu?" tanyaku lagi.
"Katanya sih Pak"

"Nah kan. Kalian tidak usah ikut-ikutan. Biar pihak berwenang yang menyelesaikan. Saya yakin urusan ini akan segera selesai. Mereka pasti berdamai. Kenapa? Lha yang didemo di Jakarta, kok kita, sesama saudara yang bertengkar? Aneh," kataku.

"Mudah-mudahan peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi. Dan kalian sebagai generasi muda harus bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini untuk membangun kota kalian ini menjadi lebih maju," lanjutku dengan penuh optimisme.

Sip kan kata-kataku?

PASCA PRA-UN

Pra-UN adalah uji oba Ujian atau semacam try out menjelang Ujian Nasional. Pra-UN di sekolahku dilaksanakan dari hari Senin-Rabu, tanggal 2-5 Maret 2015. Setelah 3 hari melaksanakan Pra-UN, para siswa kelas XII tetap menjalankan aktivitas belajarnya seperti biasa.

Pada saat aku masuk kelas, mereka mencegatku.

"Pak refresing sih Pak, kami capek 3 hari menjalani Pra-UN. Masa hari ini kami diajar juga," kata salah satu siswa.
"Iya Pak," kata yang lain menimpali.
"Kalian ini aneh. Kalau mau refresing kenapa kalian berangkat ke sekolah?" tanyaku
"Nanti kalau bolos, kami dihukum Pak."
"Kan pakai surat ijin. Tulis surat yang menyatakan bahwa hari ini saya tidak masuk sekolah karena kelelahan dan butuh istirahat," lanjutku
"Kalau anak sekelas ijin semua ya pasti dikira kami kongkalingkong. Pasti dihukum juga."
"Ya sudah, resiko kalian. Karena kalian berangkat sekolah ya kalian harus siap menerima pelajaran," jawabku sambil melanjutkan pelajaran.

Kulihat mereka nampak "hidup segan dan mati pun tak mau". Ada yang mengantuk. Ada yang melamun. Ada yang ngobrol dengan temannya. Apa boleh buat, aku tetap menunaikan tugasku dan melanjutkan pelajaran. Sama sekali tak nyaman mengajar dengan kondisi seperti ini. Tapi aku harus bertahan dengan suasana seperti ini karena ini kewajiban.

Empat puluh lima menit berjalan, semakin parah.

Aku menyadari bahwa mereka memang betul-betul jenuh dan stress, secara psikis butuh refreshing. Mereka butuh penyegaran otak setelah 3 hari berturut-turut menjalankan Pra-Un. Tapi bagaimana caranya? Diliburkan? Bukan solusi. Di rumah belum tentu bisa refreshing dan memulihkan otak. Sekolah seharusnya mempunyai program refreshing dan memulihkan otak pasca Pra-UN. Dengan cara apa? Refreshing biasanya dilakukan dengan terapi yang menyenangkan: jalan-jalan, makan bersama, ngobrol bareng, nge-game, mendengarkan musik dan lain-lain. Tapi ini harus dikoordinasi agar tujuan pemulihan kesegaran otak benar-benar terwujud bersama-sama, tidak bisa dilakukan secara separatis.

Aku yakin tidak hanya siswa-siswa di kelasku ini saja yang mengalami kejenuhan. Kelas lain pun pasti demikian. Tapi aku heran mengapa para guru tidak pernah membicarakannya. Apakah mereka tidak mengalami apa yang aku alami sekarang ini? Atau mereka sudah tahu cara menyegarkan otak para siswa Atau aku saja yang tak bisa membuat para siswa tidak jenuh dan tidak dalam menerima pelajaran? Atau aku saja yang tidak mempunyai tips untuk memulihkan psikis dan menyegarkan otak para siswa?

Ternyata benar. Hanya aku yang tak tahu cara menyegarkan otak para siswa. Hanya aku yang tidak bisa mengobati kejenuhan para siswa karena hanya aku yang mengajar di kelas. Kelas lainnya kosong. Tak ada yang mengajar. Oooo..aku baru paham. Begitu ya caranya.

Minggu, 01 Maret 2015

BAGUETTE DAN BURJO

Setelah semalam berjuang dengan penuh keringat untuk menggerogoti baguette, akhirnya aku menyerah. Kusimpan sisa baguette-ku di kulkas supaya tidak dihabiskan tikus.

Pagi ini, aku masih teringat baguette-ku yang masih meringkuk di kulkas. Rasa penasaranku belum hilang. Kali ini sepertinya akan berhasil. Aku teringat burjo alias bubur kacang ijo. Biasanya burjo dicampur dengan roti tawar. Aku segera meluncur burjo hangat untuk sarapan pagi.

Kusajikan buburku. Kupotong-potong lagi baguette-ku. Kucelupkan. Kutunggu sampai meresap.
Kucicipi pelan-pelan.

Berhasil. Buburku berkolaborasi dengan baguette secara sempurna.

BAGUETTE

Tadi sore aku menemani istri ke sebuah toko roti membelikan burger untuk anak-anakku. Pada awalnya, aku tak tertarik untuk membeli. Aku hanya melihat-lihat saja. Tapi ketika kulihat sepotong roti yang panjangnya sekitar 70 cm, aku mendekatinya. Kubaca tulisannya: Baguette, French bread. Wow... ada baguette, roti Perancis. Keren. Aku tergoda untuk membelinya. Walaupun aku sudah tahu tentang baguette dan sudah menjelaskannya kepada siswa-siswaku dengan mantap tapi aku belum tahu rasa dan bentuk yang sebenarnya.  Aku hanya tahu lewat buku, majalah dan internet.

Di toko ini, ada 2 jenis baguette, yang panjang dan yang pendek. Aku memilih yang pendek berukuran 30 cm, yang di wadahnya tertulis: half french bread. Namanya juga mencicipi. Jangan yang besar, cukup yang kecil saja.

Sampai rumah kubuka baguette-ku. Benar juga menurut cerita bahwa baguette itu keras dan alot. Aku potong sedikit. Kucicipi. Rasanya tawar khas roti dan alotnya minta ampun. Lalu aku mencoba menaati aturan. Cara makan baguette adalah dipotong-potong lalu di siram dengan sop. Aku pun membeli sop kesukaanku, sop balungan. Sop dengan potongan tulang sapi dan sisa-sisa dagingnya menjadi soto favoritku. Rasanya enak. Kaldunya legit.

Baguette kuambil 1/4. Lalu kupotong kecil-kecil. Sekarang, ada 4 potong di dalam mangkok. lalu kusiram denga sop balungan-ku. Kutunggu sampai meresap. Kemudian kusendok, kucicipi dan kurasakan sensasinya di lidah. Kukunyah pelan-pelan. 10 detik kudiamkan baguette-ku meresap dan hancur di lidah. Rasanya aneh. Rasa rotinya hilang. Rasa sopnya juga hilang. Aroma daging sapinya masih ada. Tapi rasa kecut alias masam sangat tajam, seperti rasa tomat yang terlalu banyak. Kusendok lagi baguettenya. Masih sama. Mungkin yang ketiga beda. Sama saja. Potongan terakhir kusendok. Sama. Teksturnya serupa pangsit basah di dalam bakso Malang. Ternyata, baguette tak cocok dimakan menggunakan sop. Lha kok orang Perancis memakannya dengan sop. Pasti ada yang keliru nih. Sop balunganku yang keliru atau lidahku yang salah? Mungkin sop Perancis beda dengan sop Indonesia.

Kucoba dengan yang lain. Siapa tahu cocok. Aku membeli soto. Juga soto kesukaanku yaitu Soto Madura. Mungkin enak. Langkahnya kubalik. Kutaruh soto di mangkok, lalu 1/4 baguette yang telah kupotong kecil-kecil kumasukkan ke adonan soto. Sepotong baguette kucicipi. Tak ada rasa roti. Hanya murni rasa soto. Sama saja. Tak cocok lagi.

Kesimpulanku: Tak ada yang pas untuk dicampur dengan baguette ini. Sementara baguette-ku terbaring kaku di atas meja menunggu aksi si pemilik.

Akhirnya, malam ini aku sibuk dengan kegiatan baruku. Di pojok dapur, aku menggerogoti baguette alot sambil cengar-cengir.