alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Jumat, 18 Maret 2022

MENYAMBUT LEBARAN


Satu minggu menjelang lebaran, Pak Rijal sudah membeli cat oker warna hijau muda di sebuah toko bangunan di kota kecamatan untuk mengganti cat rumahnya yang sebelumnya berwarna kuning kluwus. Tentu saja beserta perlengkapannya yaitu kuas. 


Kang Jumari memilih kapur untuk memperbaharui warna dinding rumahnya dari warna putih menjadi putih lagi. Bedanya warna putih sebelumnya sudah kusam dan pudar, warna putih yang baru lebih cerah dan terlihat baru. Cairan kapur didapat dengan membeli brangkal (bongkahan batu kapur) di toko kapur Pak Iskak. Batu kapur itu dicampur air dengan komposisi yang telah ditentukan. Air akan mendidih dan batu kapur akan meleleh. Setelah dingin, adonan tersebut diaduk dan dengan kuas yang terbuat dari dari seikat batang pohon padi siap digunakan untuk mengecat pagar, dinding rumah, dan apa saja dengan warna putih polos. Tak ada warna lain selain putih. Dan itu warna yang terpaksa disukai oleh orang-orang sekelas Kang Jumari dan teman-teman gepyoknya.


Mak Munhiyah  Yu Sumiati, Yu Muningah, Yu Honimah, Yu Musniah dan emak-emak yang lain sibuk mempersiapkan makanan yang akan disajikan di hari raya. Besta pisang kapok kuning, rengginang, kue satu adalah cemilan khas yang harus ada di meja setiap rumah.


Di dapur, Sri dan Mak Munhiyah menumbuk kacang hijau dan gula pasir yang telah disangrai di sebuah lumpang. "Duk, dak, duk, dak" alu Sri dan Mak Munhiyah yang terbuat dari kayu batang pohon kelapa tua bergantian menghujam ke dalam lumpang. Tak ada benturan satu sama lain. Seiring seirama, beraturan dan bergantian. Kacang hijau di dalam lumpang pun begitu tenang bersahaja menerima tumbukan. Tak ada loncatan atau taburan yang terburai keluar sampai benar-benar lembut dan siap untuk disaring dengan ayakan tepung sebelum dicetak jadi kue satu.


Di rumah Yu Sumiati tercium aroma sriping pisang yang telah digoreng matang sebelum diadon dengan gula cair dan kemudian dijemur seharian. Pisang yang digunakan adalah pisang kapok kuning yang masih mentah. Pisang kapok kuning seakan menjadi buah endemik desa Bajong. Di mana-mana bisa tumbuh dan buahnya selalu bagus. Hampir setiap orang menanam pisang ini. Maka, pisang ini dijadikan sajian utama pada Hari Raya Idul Fitri.


Yu Honimah sedang menjemur nasi ketan yang telah dicetak bulat pipih dan siap digoreng menjelang lebaran. Tak lupa kaleng bekas Khong Guan pemberian dari anak Yu Musniah dikeluarkan dari lemari dan dibersihkan kembali. Kaleng istimewa itu dikeluarkan setahun sekali dan khusus untuk diisi rengginang.


Tak mau ketinggalan dengan yang lain, Dirin dan kawan-kawannya penuh antusias dan kebahagiaan menyambut hari raya. Berbeda dengan teman-temannya macam anaknya Pak Hakam, juragan cengkeh, padi dan segala macam hasil bumi yang punya uang lebih untuk membeli petasan merk Leo, Kuda Terbang, mercon bantingan atau mercon cengisan di kota kecamatan, Dirin dan teman-temannya memilih untuk membuat petasan sendiri. Mereka menyiapkan batang bambu bagian pangkal  untuk membuat petasan bumbung. Bagian pangkal lebih tebal dan kuat dengan ruas yang pendek-pendek sehingga tahan terhadap ledakan. Bambu sepanjang satu meter berlubang di ujung dan dibiarkan tertutup di bagian pangkal.


Bermodal minyak tanah atau karbit serta lampu sentir sebagai pemantik api, mereka meniup dan menyulut lubang bambu masing-masing yang diletakkan dengan kemiringan 15 derajat agar minyak tanah di pangkal bambu tidak tumpah.


"Dung"

"Dung"

"Dung"


Bak meriam Belanda, suara petasan bumbung bersahutan. Asap mengepul dan terlempar dari ujung bambu. Tupai di pelepah daun kelapa gading menjingkat kaget, hampir jatuh, dan segera lari terbirit-birit.

Kamis, 17 Maret 2022

ES PUASA




Klining...klining..

Es...es...


Suara kliningan yang terbuat dari bel sepeda bekas yang diberi gagang kayu dan  bandul dari mur yang diberi tali ditengah2 kliningan menimbulkan bunyi hanya dengan menggoyang-goyangkan gagangnya. Dimantapkan dengan suara penjualnya "es..es" menunjukkan bahwa penjual es sedang berkeliling menjelang maghrib. 


Wanto, Toha, Tukimin dan Edi memanfaatkan momentum puasa untuk berjualan es menjelang buka puasa. Mereka mengambil es dari seorang juragan Cina di kota kecamatan. Hanya di kota kecamatan, es bisa diproduksi karena hanya kota kecamatan yang sudah dialiri listrik. Dan hanya pengusaha yang sebagian besar adalah orang Cina yang mempunyai freezer pembuat es.


Berjalan kaki melalui pematang sawah untuk mempersingkat jarak tempuh, mereka berangkat setelah asar dan sampai di desa tepat menjelang maghrib.


Masing-masing anak membawa termos es panjang bertutup kayu yang ketika dibuka berbunyi "pluk". Berkeliling dari rumah ke rumah, es dengan bentuk yang khas bergagang bambu yang mereka bawa terjual laris manis diserbu anak-anak.


Esoknya mereka akan kembali ke kota kecamatan untuk setor hasil penjualan dan kembali membawa es untuk dijual lagi.

LAMPU SENTIR RAMADLAN


Seminggu menjelang Ramadlan, aroma udara yang berubah, aroma puasa. Tak bisa digambarkan tapi terasa dengan jelas. Alam selalu memberitahu bahwa ramadlan akan segera tiba. Matahari bersinar sendu dan tak begitu menyengat. Sore hari terasa hangat, udara terasa sedikit kering tapi nyaman walaupun musim hujan baru saja berlalu. Suasana terasa syahdu.


Semua orang bergembira menyambut datangnya bulan Ramadlan. Semua orang bersiap-siap untuk menyambut bulan ini. Sri meluangkan waktu untuk membersihkan rumah dan halaman secara khusus, mengelap kaca jendela dan pintu, membersihkan sawang (rumah laba-laba) yang menggelantung di bawah usuk dengan sapu ijuk bertangkai panjang dan menyapu lantai semen yang di sana-sini sudah banyak yang berlubang, memotong teh-tehan dan membersihkan rumput di depan rumah. Mak Munhiyah mencuci mukena, sajadah dan sarung, membersihkan semak, rumput, memotong daun-daun pisang kering yang menjuntai dan menjadi sarang codot, menyapu sampah di kebun, dan membakarnya.


Pak Rijal menebang beberapa bambu berukuran kecil di kebun belakang rumah.


"Mau bikin lampu sentir ya Pak?" tanya Sri.

"Iya. Kan sudah adatnya bikin lampu sentir dari bambu setiap bulan puasa," jawab Pak Rijal.

"Bikin berapa Pak?" tanya Sri.

"Untuk depan rumah kanan kiri, dua lampu dengan satu sumbu. Untuk jalanan setapak di belakang rumah, bikin tiga lampu masing-masing tiga sumbu. Untuk dekat sumur bagian luar, satu lampu dengan satu sumbu. Nanti tugasmu setiap sore menyalakan lampunya dan mengecek minyak tanahnya,"

"Iya Pak," jawab Sri.


Dengan cekatan, Pak Rijal memotong bambu berukuran 1,5 meter sebagai tiangnya yang bagian bawahnya dibuat runcing untuk ditancapkan ke tanah. Untuk lampu sentir bersumbu satu, tiang berfungsi sekaligus sebagai lampu. Ada ruas tempat minyak di atasnya. Jadi ruas bambu bagian atas disisakan sepanjang kurang lebih 20 centimeter sebagai tempat minyak tanah.


Sedangkan untuk lampu sentir yang bersumbu tiga, Pak Rijal memotong satu ruas bambu tersendiri yang ujung kanan kirinya rapat. Kemudian dibuat tiga buah lubang sebagai tempat sumbu. Ruas ini dipasang secara hotisontal dengan sebuah tiang di bawahnya.


Untuk tempat sumbunya, Pak Rijal memanfaatkan kaleng bekas. Kaleng tersebut dipotong jadi sebuah lembaran. Dari lembaran ini, dibuat lingkaran berdiameter kurang lebih 4 centimeter dan ditengahnya dilubangi kurang lebih 5 milimeter sebagai tempat tatakan sumbu. Batang pegangan sumbu ini juga dibuat dari lembaran kaleng bekas. Kaleng dipotong persegi empat dengan ukuran 3 cm x 3 cm. Kemudian digulung  membentuk tabung dengan diameter kurang lebih 5 milimeter dan tinggi tabung 3 centimeter. Ujung batang pegangan sumbu ini dimasukkan ke tatakan dan dikencangkan. Untuk sumbunya, Pak Rijal memanfaatkan kain bekas daster Mak Munhiyah.


Sumbu, dan bambu dirangkai menjadi lampu sentir dan ditancapkan di tempatnya masing-masing. Sri menuangkan minyak tanah yang dibelinya di warung Pak Budi ke masing-masing lampu.


Lampu sentir siap dinyalakan di setiap malam bulan Ramadhan. Dengan lampu-lampu sentir yang dibuat oleh semua warga, orang tidak takut lagi pergi ke langgar atau masjid untuk "bandungan", membaca Al-Qur'an bersama sampai larut malam.


Setiap pagi, Sri tidak perlu mematikan lampu-lampu sentir ini satu per satu karena  ketika hari sudah siang, siapapun yang lewat akan meniup dan mematikan lampu sentir yang masih menyala.

Sabtu, 19 Februari 2022

PETAK UMPET


Sore itu, langit terlihat cerah. Hujan bulan Februari yang beberapa hari lalu turun tiada henti, sore ini sedikit mengalah kepada anak-anak yang ingin bermain petak umpet bersama.


Ada delapan anak yang terlibat dalam permainan ini. Satu orang yang kalah dalam "hom pim pah" akan menjadi penjaga titik sakral yang tidak boleh tersentuh oleh tujuh orang lainnya. 


Tugas pertama adalah menutup mata beberapa saat sambil menelungkup dan berhitung sampai teman-temannya bersembunyi.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Sudah belum?" teriak Ken masih dengan posisi menelungkup dan menutup mata.

"Belum," teriak Azril dari arah selatan.


Ken kembali berhitung satu sampai sepuluh.


"Sudah belum?" teriak Ken lagi.

"Belum," jawab Kan dari arah utara.


Ken kembali berhitung satu sampai sepuluh.


"Sudah belum?" teriak Ken lagi.

"Belum," jawab Osa dari arah lain.


Ken kembali berhitung. Kali ini tidak lagi satu sampai sepuluh.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas....... tiga puluh, tiga puluh satu,......" 


Suara Ken terdengar serak.


"Sudah belum?"


Tak ada jawaban dan suasana telah sepi. Artinya mereka sudah benar-benar bersembunyi. Kini, giliran Ken mencari dimana mereka bersembunyi. Tentu saja tetap waspada agar titik sakral tempat dia berhitung tadi tidak tersentuh oleh siapapun. Atau dia akan menjadi penjaga lagi.


Tak ada batas waktu kapan selesainya. Hanya teriakan ibu masing-masing anak yang bisa membubarkan permainan ini.


"Ken. Sudah sore, pulang, mandi,"

AGUSTUSAN

Bulan Agustus adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Ketika hujan sudah tidak turun, pepohonan mulai meranggas namun masih hijau, tanaman padi sudah beranak pinak, dan para petani sudah matun pindo (membersihkan gulma kedua kalinya), ciblek sudah mulai mencari rumpun padi yang pas untuk bersarang, hingar-bingar mulai muncul di mana-mana. Umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan, bendera dikibarkan di depan setiap rumah, pagar dicat merah putih, pohon teh-tehan dirapikan,  para pemuda berlatih baris-berbaris, emak-emak mengasah kembali ketrampilannya memukul bola kasti, Pak Lurah dan perangkat desa menyiapkan panggung untuk menyambut kunjungan Pak Camat dan jajarannya yang tahun ini rencananya akan melihat perayaaan HUT RI sekaligus meninjau kegiatan Pos Yandu yang diadakan rutin setiap bulan. Dirin dan teman-temannya tak lagi saling menyapa dengan kata "assalamu alaikum", "selamat pagi" atau “hai”. Semuanya diganti dengan kata "merdeka" sambil mengepalkan tangan setinggi kepala dan dibalas oleh yang lain dengan kata "merdeka" pula sambil mengepalkan tangan setinggi langit. Mas Yanto memanfaatkan kesempatan dengan membawa bermacam bendera merah putih di keranjang sepedanya. Anak-anak tak harus pergi ke kota kecamatan untuk membeli bendera plastik. Mereka cukup mempersiapkan lidi dan membeli bendera plastik dari Mas Yanto kemudian disimpan dengan ditancapkan di dinding bambu kamarnya menunggu saat karnaval tiba atau saat Pak Camat dan para pejabat kecamatan rawuh.

Berbagai lomba antar RT mulai digelar. Lomba balap karung, lomba tarik tambang, lomba memasak, lomba kasti, lomba baris-berbaris memperebutkan berbagai macam hadiah.

Dan yang sudah digelar sejak pertengahan bulan Juli adalah Turnamen Sepakbola Antar Desa. Turnamen ini digelar secara bergilir di semua desa se-kecamatan. Para pengurus PSSI tingkat desa yang ditempati harus mempersiapkan turnamen. Untuk tahun ini turnamen ini digelar di desa Bajong. Sebagai desa dengan kesebelasannya yang handal dan fansnya yang fanatik, semua perangkat sepakbola telah tersedia. Lapangan dengan rumput yang selalu subur berkat kerbau Mas Min dan teman-temannya sampai Pak Tuja'i sang reporter andalan telah dimiliki desa ini.

Rabu sore, Pak Tuja'i dengan sigap naik ke atas podium bambu beratap seng dengan tinggi kurang lebih tiga meter. Dari podium ini, laki-laki berjenggot dan berjambang lebat itu bisa mengamati seluruh lapangan bola dan mendeteksi seluruh pergerakan pemain yang akan dia komentari. Tangannya menggenggam erat microphone kesayangannya yang suaranya sudah disetel setengah setereo, setengah bas ditambah echo sedikit saja.

"Ya sodara-sodara, sebentar lagi pertandingan sepak bola antara kesebelasan desa Kedungjati melawan kesebelasan desa Bajong akan segera dimulai. Para pemain telah memasuki lapangan dan sedang melakukan pemanasan. Kesebelasan Bajong dengan kostum hijaunya dan Kedungjati dengan kostumnya yang merah menyala." suara Pak Tujai terdengar empuk dan sedikit serak-serak basah mantap terdengar dari corong pengeras yang telah dipasang di pohon mahoni yang paling tinggi di depan SD Negeri Bajong 1. 

Empat TOA sekaligus dipasang menghadap ke segala penjuru mata angin selama satu bulan ke depan. Ini untuk menunjukkan bahwa sepakbola tahunan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI berhadiah utama seekor kambing tidak main-main dan memancing para penonton untuk datang berbondong-bondong menonton. Tentu saja, target utama panitia adalah tiket terjual habis sesuai kapasitas tribun penonton. Perlu diketahui, kapasitas tribun di lapangan desa Bajong adalah tanpa batas karena penonton bisa duduk di pinggir pinggir lapangan, berdiri di pematang sawah, naik ke atas pohon waru, pohon randu, pohon trembesi, naik ke atas pundak temannya, atau naik apapun yang  terdapat di sekitar lapangan kecuali pohon mahoni yang telah terpasang TOA karena dikhawatirkan TOA akan hilang begitu saja.

Mesin diesel menderu-deru sengaja diletakkan di belakang SD supaya suaranya tidak mengganggu serunya reportasi Pak Tuja'i, reporter yang secara konvensi dan aklamasi telah ditunjuk sebagai reporter andalan ila yaumul kiyamah. Setiap ada pertandingan sepakbola baik antar RT, antar RW, antar desa, Pak Tujai tak pernah absen sebagai reporter.

Selama turnamen ini digelar, lapangan diseterilkan dari kedatangan kerbau Mas Min dan teman-temannya. Hal ini untuk menghindarkan para pemain, wasit dan penjaga garis menginjak benda-benda lunak berwarna hijau tua dan berbau menyengat. Mas Min untuk sementara mengalihkan Jack dan saudara-saudaranya ke selatan desa. Di pinggir jalan desa bagian selatan masih banyak tumbuh rumput liar. Cukup untuk memenuhi kebutuhan para peternak kambing dan kerbau selama satu bulan.

Belalang, jangkrik, katak hijau telah lama menyingkir ke prrsawahan di sekitar lapangan, seakan mereka telah mengerti adanya hajat tahun ini. Tak ada satupun yang berani menginjakkan kaki di rumput lapangan. Ini semua demi suksesnya Turnamen Sepakbola Se-Kecamatan dalam Rangka Memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.

Setelah mandi, Dirin dan teman-temannya mengendap-endap di pematang sawah menghindari loket tiket yang ada di jalan utama menuju lapangan. Mengetahui ada penyusup, dari loket tiket seorang pemuda panjaga loket meneriaki Dirin dan teman-temannya.

“Hei, lewat sini. Bayar tiket dulu,”

Dirin kaget dan dengan sigap menjawab: “Cari belut Mas.”

Pak Rijal mengajak Sri berangkat dengan tiket khusus sebagai donatur yang berhak menonton seluruh pertandingan dari babak penyisihan sampai babak final.

"Tumben Sri, kamu nonton sepak bola?" tanya Mak Munhiyah.

"Kan gratis Mak. Emak nggak ikut sekalian?" tanya Pak Rijal.

"Nggak ah. Mending masak daripada lihat orang ngejar-ngejar bola nggak jelas," jawab Mak Munhiah.

Pak Rijal dan Sri berjalan kaki menuju lapangan bersama orang-orang yang berbondong-bondong ke lapangan. Tak hanya laki-laki yang datang, emak-emak dan  anak-anak juga ikut menonton sepak bola atau hanya sekedar membeli aneka jajanan dari puluhan penjual tiban yang juga datang dari berbagai penjuru kecamatan.

"Eh, Mas Yanto ikut nonton juga?" seru Dirin melihat Mas Yanto di belakang gawang sebelah utara.

"Hei Dirin, Eko, Afif. Kalian juga nonton?" tanya balik Mas Yanto.

"Iya Mas. Kan gratis,"

"Kok gratis?"

"Kan lewat sawah,"

"Kalian curang. Nggak boleh begitu."

"Soalnya nggak punya duit buat beli tiket Mas. Mas Yanto kok tumben nonton sepak bola?"

"Kan yang main kesebelasan Kedungjati. Mas Yanto pingin lihat aksi pemain favorit Mas Yanto,"

"Oh iya ding. Sekarang yang main kesebelasan Kedungjati. Siapa sih pemain andalan Kedungjati Mas?"

"Ealah kamu nggak tahu ya. Zaki, sang penyerang tengah. Nama lapangannya Jacque dan Iskandar, sang penjaga gawang, nama lapangannya Alex. Sudah terkenal se-kecamatan," terang Mas Yanto menjelaskan.

"Yang kutahu cuma pemain Bajong Mas. Soalnya pemain Bajong paling top. Ada Tuhadi, Sururi, Sugri, Bahi, pokoknya top semua. He he he."

"Kamu tahu nggak Kedungjati pasti juara."

"Nggak mungkin Mas. Pasti kalah sama Bajong,"

"Tunggu saja nanti."

"Oke Mas. Berani taruhan?"

"Hush, nggak boleh taruhan.

"Kalau begitu, hadiah aja Mas. Kalau Kedungjati juara, aku kasih Mas Yanto hadiah jangkrik sliring. Kalau Bajong yang menang Mas Yanto kasih aku sepeda. Setuju?" usul Dirin.

"Enak pala Lu. Puyeng pala Gue,"

Rabu, 16 Februari 2022

EYANG CINA


"Mau ikut ngga?" tanya eyangku, Eyang Iyah

"Ke mana Eyang?" tanyaku.

"Ke Purbalingga, ke rumahnya Eyang Cina," jawabnya.

"Ikut," jawabku tanpa basa-basi.


Aku sangat senang diajak ke rumah Eyang Cina. Begitulah aku menyebutnya karena beliau seumuran dengan eyangku dan Cina. Menurut eyangku, nama sesungguhnya tertulis Tjien, diucapkan Cin, nama dengan satu kata yang sama sekali tak biasa dan tak enak didengar. Maka, seenak selera lidahku, aku memanggilnya Eyang Cina. 


Eyang Cina adalah sahabat karib eyangku. Kata eyangku, ibuku dan keenam saudaranya bisa sekolah berkat bantuan Eyang Cina. Orang Konghuchu yang terpaksa menulis Kristen di KTP-nya ini, setiap lebaran memberi hadiah sarung dan sajadah. Eyang Cina juga memberikan bantuan untuk pembangunan langgar kecil eyangku.


Aku segera mandi dan ganti baju, baju terbaik sisa lebaran tahun lalu yang kupunya saat itu. Celana pendek berwarna coklat pramuka dan kemeja lengan pendek warna abu-abu cerah, sebuah paduan atasan dan bawahan yang sama sekali tidak padu.


Berkebaya hijau dan berjarik, eyangku yang tak pernah lepas dari tembakau susur di bibirnya menyuruhku mengangkat bekal bawaan ke becak yang telah menunggu. Tiga sisir pisang kapok kuning, lima butir kelapa, dan sekantong beras ketan kuangkat ke becak.


Becak adalah satu-satunya alat transportasi umum di desaku menuju ke jalan raya sebelum kami menunggu angkot ke arah kota Purbalingga.


Beberapa saat menunggu, sebuah armada "isuzu" berwarna kuning kusam dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini membawa kami menuju kota.


Inilah yang kutunggu-tunggu. Naik angkot dengan kaca yang bisa dibuka sehingga angin masuk dan menerpa wajahku adalah sebuah sensasi tersendiri dengan aroma asapnya. Aroma gas buang hasil pembakaran bensin ini hanya bisa kunikmati ketika Bang Taufik, orang desa kami yang sukses di Jakarta, pulang kampung membawa motor. Anak-anak seusiaku mengejar motornya untuk menghirup aroma asapnya.


Kami turun di alun-alun dan berjalan kaki sebentar menuju rumah Eyang Cina. Aku memanggul kantong beras ketan dan eyangku mengangkat pisang dan kelapa.


"Assalamu alaikum," ketika kami tiba di rumah eyang Cina.

"Waalaikum salam. Eh, ada tamu agung.  Ayo masuk," jawab eyang Cina yang nampak sangat gembira menerima kedatangan kami. Beliau masih sehat namun keriput di wajahnya sama dengan keriput di wajah eyangku.

Kami dibawa ke ruang di belakang tokonya yang belum buka.

"Wah kok repot-repot," kata eyang Cina menerima bawaan kami.

"Kebetulan baru panen Ci. Ada sisa beras ketan. Siapa tahu ingin nyicipi," jawab eyangku. Eyangku memanggil Eyang Cina dengan sebutan "Ci" yang artinya "Mbakyu".


Eyangku dan eyang Cina terlibat obrolan yang hangat. Maklum, dua sahabat itu sudah lama tak bertemu. Beberapa saudara Eyang Cina ikut nimbrung ngobrol. Eyang Cina dengan saudara-saudaranya masih memakai bahasa Cina yang aku dan eyangku tak paham. Dan Eyang Cina lah yang menerjemahkan artinya.


Aku hanya duduk sambil menikmati secangkir teh yang disuguhkan dan mengamati ruang tamu yang masih sama. Aku selalu kagum dengan hiasan yang ada di ruang tamu Eyang Cina. Hiasan kertas warna merah dengan tulisan emas menempel di dinding. Aku tak paham dengan tulisannya. Tapi tata ruangnya menarik. Gambar harimau di sudut kanan dengan bola-bola lampion merah kusam di sebelahnya. Ada kertas kecil-kecil dengan tulisan Cina di atas pintu. Kata eyangku itu adalah jimatnya Eyang Cina.


Setelah beberapa saat berbincang dan sudah terobati kerinduan keduanya, eyangku mohon pamit.


"Sebentar-sebentar," kata Eyang Cina menyuruh kami menunggu.


Eyang Cina membawakan kami beberapa kaleng biscuit. Salah satunya bermerk "Khong Guan".  Ini yang kusuka. Hanya saat lebaran, aku bisa menikmati biscuit macam ini, saat paman dan pakdeku mudik. Tapi kali ini, tak perlu menunggu lebaran. Khusus untuk eyangku, Eyang Cina memberinya oleh-oleh istimewa, tembakau terbaik yang sudah "matang" yang paling enak se-kabupaten.

Rabu, 14 Juli 2021

MENCARI IKAN LAGI

 Di akhir musim penghujan ini, volume air sungai semakin mengecil. Ikan pun semakin menghilang. Yang tersisa adalah anak-anak ikan yang masih kecil dari telur yang telat menetas. Pasti induk ikan ini salah perhitungan karena sebentar lagi sungai akan mengering. Biasanya telur ikan menetas pada awal musim hujan sehingga anak-anak mereka dapat bertumbuh kembang dengan baik. Dalam kondisi menjelang kemarau dan sungai biasanya mengering, ke manakah mereka akan mencari perlindungan? Oh kasihan. Kini, mereka hidup sendiri. Induk-induk mereka entah pergi ke mana. Tapi itulah alam. Ada yang pandai berhitung ada yang tidak pandai.


Saat-saat seperti ini dimanfaatkan oleh Ken dan Kan untuk menangkap anak ikan yang masih kecil dan nampak jinak. Sore menjelang asar, berbekal seser, gelas plastik dan botol beling, Ken dan Kan turun ke sungai mereka mencari ikan.


"Ken Kan ini di sini banyak ikannya," teriakku sambil menunjukkan tempat anak ikan berkumpul. Cukup dengan melambaikan tangan untuk membentuk bayangan di tempat berkumpulnya ikan, Ken dan Kan memahami isyaratku dan segera menyerok anak-anak ikan.


"Jangan pakai seser. Pakai gelas plastik saja. Pelan-pelan," kataku memberi komando.


Mata seser yang mereka gunakan terlalu lebar untuk menyerok anak ikan yang masih sangat kecil.


"Kan, ayo mandi, sudah sore," teriak pengasuh Kan tiba-tiba.


Beberapa saat Kan nampak berdiskusi serius dengan Ken membahas hasil tangkapan mereka dan tak mempedulikan panggilan Mba pengasuhnya. 


"Ayo pada naik. Sudah sore. Mandi. Terus berangkat TPQ," teriakku setelah terdengar suara adzan asar dari toa mushola.

"Yahhh...," gerutu Ken yang selalu berdoa supaya TPQnya libur supaya tidak ada tes TPQ.


Mereka bergegas naik. Aku membantu memegang botol beling, gelas plastik dan sesernya.


"Ini nanti dipelihara dimana Ken?" tanyaku

"Di ember," jawabnya singkat.


"Yah, di ember. Minta beliin aquarium dong," 


(maaf sedikit kalimat provokasi supaya ayah ibunya membelikan aquarium untuk memelihara hasil tangkapan Ken dan Kan) 🤭🤗😁