alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Kamis, 24 Desember 2020

TARIK TAMBANG GAGANG SAPU



Mereka menemukan "alat" untuk bermain. Sebuah gagang sapu bekas yang sapunya sudah rusak.


"Ayo, kita main tarik tambang!" ajak Ken kepada Kan, Be dan Na.


Kan bersama Na, adik perempuannya di satu sisi dan Ken bersama Be, adik sepupunya di sisi lain.


"Satu, dua, tiga, mulai," teriak Ken memberi aba-aba untuk memulai saling menarik ganang sapu.


Mereka saling menarik dengan sekuat tenaga sambil tertawa-tawa. Belum ada yang menang ketika nenek mereka keluar rumah.


"Sudah berhenti... Nanti jatuh," teriak sang nenek.


Tak ada kata berhenti. Teriakan sang nenek tak diacuhkan sama sekali. Mereka terus melanjutkan permainan mereka. Akhirnya nenek mereka menyerah, berhenti berteriak dan kembali masuk rumah. Mereka berhenti dengan sendirinya setelah mereka merasa capek sebelum ada yang menang di antara mereka.


"Sudah capek ah. Kita main yang lain saja yuk!" ajak Kan sembari mencari benda apa yang sekiranya dapat digunakan untuk bermain.


Bahagianya melihat mereka bermain mengisi liburan sekolah.

Minggu, 20 Desember 2020

TIKET



Gelisahku kembali melanda. Tiada yang hak menjadi bathil. Tiada manusia lepas dari khilaf dan salah. Tapi salah yang telah jelas tak seharusnya dikhilafkan.


"Ah, cuma sepuluh ribu. Jumlah yang tak berarti,"


Bagi Imam Al Ghazali, seekor lalat yang nampak hina dina pun menjadi perantara untuk masuk surga.


Huft, entahlah. Yang penting sepuluh ribunya kubayarkan. Itupun masih berat untuk ikhlas.

Sabtu, 19 Desember 2020

PANTAI UJUNGNEGORO, BATANG



Semburat jingga di ujung pagi, mengiringi langkahku merengkuh beribu cemara laut yang memanjang dari Sigandu sampai Ujungnegoro.

Riuh rendah kehidupan para pesepeda mulai menggeliat. Bercucur keringat, meningkatkan imun, menghempaskan Covid-19 yang semakin menggila.


Langkah demi langkah, tergapai loket masuk pantai Ujungnegoro.

Kubuka kaca mobilku.


"Selamat pagi. berapa orang Pak?" tanya seorang pemuda keluar dari ruang loket.

"Dua orang mas," jawabku sambil menunjuk satu istriku yang berada di belakang setir.

"Eh, Pak Bela. Silahkan lanjut saja."


Aku terpana dia menyebut namaku. Kuamati lebih cermat. Ah, iya. Dia muridku. Tapi siapa namanya, aku lupa.


"Eh berapa? ini uangnya," kataku sembari menyodorkan uang dua puluh ribuan.

"Nggak Pak. Buat Bapak gratis. Free." jawabnya.

"Nggak boleh gitu. Masuk ya harus bayar," desakku.

"Beneran Pak. Ga usah bayar. Gratis," jawabnya bertahan.


Perdebatan tanpa batas yang harus segera kuakhiri dengan jawaban menyerahku.

"Ya sudah lah. Terima kasih ya,"


Dari pos loket, seorang petugas mengarahkan kami ke tempat parkir.

"Mas, itu tadi yang berbaju merah siapa namanya ya. Saya kok lupa ya," tanyaku ke Mas Parkir.

"Miftah Arif Pak. Dulu murid Bapak ya?" tanyanya.

"Iya. Saya lupa namanya. Soalnya sudah lama lulusnya."


Debur ombak beradu dengan batuan karang di pantai ujungnegoro. Pasir lembut nan sejuk menjadi saksi keindahan pantai utara. Beberapa rajungan keluar dari lubangnya. Sekedar menengok siapa gerangan yang berkunjung di pagi yang indah ini.

"Oh, Pak guru rupanya" mungkin itu yang terucap di bibir-bibir rajungan itu karena tahu aku diloloskan dari loket tiket begitu saja tanpa bayar.


Kusapa mereka. Tapi mereka tak mau mendekat. "Jangan Dekat-dekat. Cukup dari situ saja. Kami belum tahu guru macam apa Anda. Jangan-jangan Anda  sama  saja dengan para pemburu rajungan yang selama ini mengejar-ngejar kami untuk dibikin peyek,"


Aku jongkok. Kuulurkan tanganku tanda persahabatan. Tapi mereka masih saja curiga. Semakin kudekatkan tanganku. Mereka masih juga enggan bersapa. Bahkan lari bersembunyi ke dalam lubang 

"Tak apalah, kau masih curiga. Aku maklum adanya."


Kunikmati ombak yang menggelitik kakiku berkali-kali. Kuhirup angin laut sepoi-sepoi.

Kerengkuh seonggok pasir. Kurasakan gemerisiknya bersama rumah-rumah kerang yang tercecer ditinggal penghuninya ke surga.


Pagi ini segera berlalu. Mentari telah menyapaku. Sinarnya hangat membelai kulitku. Saatnya pulang.


Di pelataran parkiran, kusempatkan menyapa penjual ciwel dan nasi jagung. Dua bungkus ciwel seharga empat ribu rupiah dan tiga bungkus nasi jagung seharga lima ribu rupiah kuhempaskan ke dalam plastik kresek dan kubawa pulang.


"Ya terus terus. Kiri..kiri." teriak Mas pemarkir.

Kusodorkan selembar uang lima ribuan.

"Nggak usah Pak. Buat Bapak gratis,"


Ealah, rupanya semua penghuni di Pantai Ujungnegoro ini sudah bersekongkol dengan Miftah Arif untuk menggratiskan semuanya kepadaku.


Kalau begitu, aku akan lebih sering datang ke sini.

Rabu, 02 Desember 2020

MANGGA GAJAH






Untuk kedua kalinya aku membeli mangga yg ukurannya lebih besar dari mangga biasa. Bobotnya mencapai 1 kilogram.


"Mba, ini mangga apa?" tanyaku kepada Mba penjual mangga.

"Mangga gajah," jawabnya singkat.

"Minggu kemarin aku membeli mangga gajah warnanya hijau. Kok sekarang kuning. Apa nggak salah Mba?" protesku. 


Mangga yang hijau cenderung bulat, sedangkan mangga yang kuning cenderung lonjong. Aku yakin jenis mangga ini berbeda. Tapi mengapa namanya sama-sama gajah.


"Kan sama-sama besar. Jadi namanya gajah,"

"Harusnya namanya dibedakan Mba. Kan yang satu hijau yang satu kuning,"

"Wah sampeyan pasti nggak pernah ke kebun binatang. Jadi nggak tahu tentang gajah. Gajah itu bermacam-macam. Ada gajah Afrika, gajah Jawa, gajah Sumatera. Semuanya berbeda-beda tapi namanya tetap gajah. Mangga gajah juga seperti itu, ada yang kuning ada yang hijau," jelas Mba penjual.


Kali ini aku terdiam dan hanya membatin "perasaan di kebun binatang hanya ada satu jenis gajah". Tapi aku tetap memilih diam daripada tambah dikatain 'sampeyan tak pernah sekolah'.

Jumat, 27 November 2020

KELAS MADAME NINGRUM

Pertama masuk kelas, Madame Ningrum menyajikan lagu, film pendek dan puisi yang kemudian dikaji oleh para peserta. Ada lagu “Qui pourrait?”-nya Lou, ada film pendek “Memo”, dan puisi “Le pont Mirabeau”, puisi karya Guillaume Apollinaire yang sejak 1913 sampai sekarang masih saja terkenal, semacam puisi “Aku”-nya Chairil Anwar di Indonesia. Selain memutarkan lagu, film pendek dan puisi, Madame Ningrum juga membaca sendiri sebuah puisi berjudul “Enseignant”, sebuah puisi tentang guru. Suaranya menggelegar dan mendayu-dayu dengan artikulasi Prancis-nya yang indah. Excellent.


Mengikuti kelas Madame Ningrum tak ada ngantuknya. Suara perempuan yang mempunyai moto “Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas sampai Tuntas” ini cetar membahana dan cukup membuat adrenalin kami terpacu untuk mempelajari aplikasi yang beliau ajarkan yang mendukung pembelajaran Mendengar dan Berbicara Bahasa Prancis.


Prinsip hidupnya yang menjunjung tinggi kejujuran dan “sekecil apapun yang kita lakukan akan kembali ke diri sendiri” membuat beliau bersungguh-sungguh dalam memberikan materi pelatihan. Mobiltasnya tinggi untuk berkeliling kelas mendatangi satu per satu, menyapa, membimbing, dan tak lupa memfoto para peserta (cekrek..cekrek) dalam membuat dan mempresentasikan aplikasi padlet, screencast-O-Matic, dan voicethread. 


Pada saat presentasi, para peserta saling bertanya, memberi masukan, kritikan dan saling belajar. Sangat menarik.

Rabu, 18 November 2020

DILARANG MENGAMBIL MADU

Lokasi SMA Negeri 2 Batang yang masih dikelilingi hutan (walaupun sekarang sudah mulai dibangun perumahan di sekitarnya) menyebabkan sekolah ini mendapat julukan SMA Alaska (Alas Kabeh). Rindangnya pepohonan di dalam maupun di sekitar sekolah membuat suasana sejuk, hijau, dan segar.


Tak hanya pepohonan, segala macam binatang masuk dan bersarang di area sekolah. Ada luwak yang membangun keluarga sakinah mawadah warohmah di plafon mushola. Ada ular yang bersemedi di bawah tumpukan genteng bekas. Ada lipan besar-besar yang main lari-lari di tumpukan kayu. Ada aneka burung yang menjalin kasih dan membangun sarangnya di pepohonan. Dan ada beberapa keluarga lebah yang membangun kerajaannya di atap-atap kelas, di bawah genteng dan di dalam plafon. 


Keluarga-keluarga binatang ini hidup berdampingan secara harmonis dengan para siswa, para guru, staf TU dan kepala sekolah. Kami secara tulus ikhlas tidak saling mengganggu.


Namun akhir-akhir ini ada sedikit gangguan. Potensi lebah di sekolah ini menjadi incaran para pencari madu untuk memanen madunya yang liar. Awalnya mereka meminta ijin dan dijinkan. Toh, manfaat lebah memang untuk diambil madunya. Para pemburu madu ini menjalankan kegiatannya pada hari Sabtu atau Minggu (sebulan sekali) ketika sekolah libur namun tetap dibuka karena banyak anak-anak yang melakukan aktifitas basket, volleyball, badminton, bermain musik, menari atau kegiatan lainnya. Sayangnya, para pemanen madu ini kurang bertanggung jawab. Genteng dan plafon menjadi rusak dan dibiarkan begitu saja. Bekas sarang lebahnya juga kadang berserakan di lantai.


Untuk menghindari kerusakan lebih lanjut, akhirnya sekolah secara resmi mengumumkan "DEMI KEAMANAN, TIDAK DIIJINKAN MENCARI/ MENGAMBIL MADU DI AREA SMA NEGERI 2 BATANG"


Kini hidup kami kembali tenang.

Jumat, 13 November 2020

SATU KAMAR SATU ORANG

Setelah melewati pemeriksaan dan prosedur kesehatan anti Covid-19 di pintu masuk, para peserta pelatihan menuju resepsonist untuk check in kamar. Dengan menunjukkan KTP, Mba resepsionist (yang pasti cantik walaupun wajahnya ditutupi masker) dengan cekatan melayani para peserta. Ternyata kamar yang ditempati peserta Diklat adalah sebuah kamar yang seharusnya untuk dua orang namun diisi satu orang.


“Karena ada Covid-19, untuk menghindari perkumpulan dan untuk menjaga jarak, maka satu kamar hanya untuk satu orang,” kata salah seorang panitia.


Kamar yang sangat nyaman dengan satu tempat tidur lebar ukuran 2 x 2 meter (bisa tidur dengan berbagai gaya, miring ke kanan, miring ke kiri, terlentang, tengkurap, atau sambil rol depan, rol belakang dan salto)


Eits, tunggu dulu. Bagi sebagian orang, satu kamar satu orang merupakan pelayanan yang istimewa dan membuat nyaman. Tapi  diam-diam, ada yang tidak berani tidur sendirian dan memilih bergabung dengan peserta lainnya tanpa diketahui oleh panitia.


“Bayangkan, malam-malam di kamar sendirian. Mau keluar pun berjalan melewati lorong hotel sendirian. Sepi. Tak ada orang satu pun. Semua kamar terkunci. Sangat mengerikan. Iya kan Pak?” kata salah satu peserta perempuan kepadaku untuk mencari pembenaran supaya aku mendukungnya bergabung dengan temannya.


Daripada bermasalah, aku mengiyakan saja. Minimal aku turut menenangkan hatinya agar tidak  begitu merasa bersalah.


“Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Pak,” pintanya

“OK, siap,” jawabku dengan mantap.