alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Sabtu, 19 Februari 2022

PETAK UMPET


Sore itu, langit terlihat cerah. Hujan bulan Februari yang beberapa hari lalu turun tiada henti, sore ini sedikit mengalah kepada anak-anak yang ingin bermain petak umpet bersama.


Ada delapan anak yang terlibat dalam permainan ini. Satu orang yang kalah dalam "hom pim pah" akan menjadi penjaga titik sakral yang tidak boleh tersentuh oleh tujuh orang lainnya. 


Tugas pertama adalah menutup mata beberapa saat sambil menelungkup dan berhitung sampai teman-temannya bersembunyi.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Sudah belum?" teriak Ken masih dengan posisi menelungkup dan menutup mata.

"Belum," teriak Azril dari arah selatan.


Ken kembali berhitung satu sampai sepuluh.


"Sudah belum?" teriak Ken lagi.

"Belum," jawab Kan dari arah utara.


Ken kembali berhitung satu sampai sepuluh.


"Sudah belum?" teriak Ken lagi.

"Belum," jawab Osa dari arah lain.


Ken kembali berhitung. Kali ini tidak lagi satu sampai sepuluh.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas....... tiga puluh, tiga puluh satu,......" 


Suara Ken terdengar serak.


"Sudah belum?"


Tak ada jawaban dan suasana telah sepi. Artinya mereka sudah benar-benar bersembunyi. Kini, giliran Ken mencari dimana mereka bersembunyi. Tentu saja tetap waspada agar titik sakral tempat dia berhitung tadi tidak tersentuh oleh siapapun. Atau dia akan menjadi penjaga lagi.


Tak ada batas waktu kapan selesainya. Hanya teriakan ibu masing-masing anak yang bisa membubarkan permainan ini.


"Ken. Sudah sore, pulang, mandi,"

AGUSTUSAN

Bulan Agustus adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Ketika hujan sudah tidak turun, pepohonan mulai meranggas namun masih hijau, tanaman padi sudah beranak pinak, dan para petani sudah matun pindo (membersihkan gulma kedua kalinya), ciblek sudah mulai mencari rumpun padi yang pas untuk bersarang, hingar-bingar mulai muncul di mana-mana. Umbul-umbul dipasang di sepanjang jalan, bendera dikibarkan di depan setiap rumah, pagar dicat merah putih, pohon teh-tehan dirapikan,  para pemuda berlatih baris-berbaris, emak-emak mengasah kembali ketrampilannya memukul bola kasti, Pak Lurah dan perangkat desa menyiapkan panggung untuk menyambut kunjungan Pak Camat dan jajarannya yang tahun ini rencananya akan melihat perayaaan HUT RI sekaligus meninjau kegiatan Pos Yandu yang diadakan rutin setiap bulan. Dirin dan teman-temannya tak lagi saling menyapa dengan kata "assalamu alaikum", "selamat pagi" atau “hai”. Semuanya diganti dengan kata "merdeka" sambil mengepalkan tangan setinggi kepala dan dibalas oleh yang lain dengan kata "merdeka" pula sambil mengepalkan tangan setinggi langit. Mas Yanto memanfaatkan kesempatan dengan membawa bermacam bendera merah putih di keranjang sepedanya. Anak-anak tak harus pergi ke kota kecamatan untuk membeli bendera plastik. Mereka cukup mempersiapkan lidi dan membeli bendera plastik dari Mas Yanto kemudian disimpan dengan ditancapkan di dinding bambu kamarnya menunggu saat karnaval tiba atau saat Pak Camat dan para pejabat kecamatan rawuh.

Berbagai lomba antar RT mulai digelar. Lomba balap karung, lomba tarik tambang, lomba memasak, lomba kasti, lomba baris-berbaris memperebutkan berbagai macam hadiah.

Dan yang sudah digelar sejak pertengahan bulan Juli adalah Turnamen Sepakbola Antar Desa. Turnamen ini digelar secara bergilir di semua desa se-kecamatan. Para pengurus PSSI tingkat desa yang ditempati harus mempersiapkan turnamen. Untuk tahun ini turnamen ini digelar di desa Bajong. Sebagai desa dengan kesebelasannya yang handal dan fansnya yang fanatik, semua perangkat sepakbola telah tersedia. Lapangan dengan rumput yang selalu subur berkat kerbau Mas Min dan teman-temannya sampai Pak Tuja'i sang reporter andalan telah dimiliki desa ini.

Rabu sore, Pak Tuja'i dengan sigap naik ke atas podium bambu beratap seng dengan tinggi kurang lebih tiga meter. Dari podium ini, laki-laki berjenggot dan berjambang lebat itu bisa mengamati seluruh lapangan bola dan mendeteksi seluruh pergerakan pemain yang akan dia komentari. Tangannya menggenggam erat microphone kesayangannya yang suaranya sudah disetel setengah setereo, setengah bas ditambah echo sedikit saja.

"Ya sodara-sodara, sebentar lagi pertandingan sepak bola antara kesebelasan desa Kedungjati melawan kesebelasan desa Bajong akan segera dimulai. Para pemain telah memasuki lapangan dan sedang melakukan pemanasan. Kesebelasan Bajong dengan kostum hijaunya dan Kedungjati dengan kostumnya yang merah menyala." suara Pak Tujai terdengar empuk dan sedikit serak-serak basah mantap terdengar dari corong pengeras yang telah dipasang di pohon mahoni yang paling tinggi di depan SD Negeri Bajong 1. 

Empat TOA sekaligus dipasang menghadap ke segala penjuru mata angin selama satu bulan ke depan. Ini untuk menunjukkan bahwa sepakbola tahunan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI berhadiah utama seekor kambing tidak main-main dan memancing para penonton untuk datang berbondong-bondong menonton. Tentu saja, target utama panitia adalah tiket terjual habis sesuai kapasitas tribun penonton. Perlu diketahui, kapasitas tribun di lapangan desa Bajong adalah tanpa batas karena penonton bisa duduk di pinggir pinggir lapangan, berdiri di pematang sawah, naik ke atas pohon waru, pohon randu, pohon trembesi, naik ke atas pundak temannya, atau naik apapun yang  terdapat di sekitar lapangan kecuali pohon mahoni yang telah terpasang TOA karena dikhawatirkan TOA akan hilang begitu saja.

Mesin diesel menderu-deru sengaja diletakkan di belakang SD supaya suaranya tidak mengganggu serunya reportasi Pak Tuja'i, reporter yang secara konvensi dan aklamasi telah ditunjuk sebagai reporter andalan ila yaumul kiyamah. Setiap ada pertandingan sepakbola baik antar RT, antar RW, antar desa, Pak Tujai tak pernah absen sebagai reporter.

Selama turnamen ini digelar, lapangan diseterilkan dari kedatangan kerbau Mas Min dan teman-temannya. Hal ini untuk menghindarkan para pemain, wasit dan penjaga garis menginjak benda-benda lunak berwarna hijau tua dan berbau menyengat. Mas Min untuk sementara mengalihkan Jack dan saudara-saudaranya ke selatan desa. Di pinggir jalan desa bagian selatan masih banyak tumbuh rumput liar. Cukup untuk memenuhi kebutuhan para peternak kambing dan kerbau selama satu bulan.

Belalang, jangkrik, katak hijau telah lama menyingkir ke prrsawahan di sekitar lapangan, seakan mereka telah mengerti adanya hajat tahun ini. Tak ada satupun yang berani menginjakkan kaki di rumput lapangan. Ini semua demi suksesnya Turnamen Sepakbola Se-Kecamatan dalam Rangka Memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.

Setelah mandi, Dirin dan teman-temannya mengendap-endap di pematang sawah menghindari loket tiket yang ada di jalan utama menuju lapangan. Mengetahui ada penyusup, dari loket tiket seorang pemuda panjaga loket meneriaki Dirin dan teman-temannya.

“Hei, lewat sini. Bayar tiket dulu,”

Dirin kaget dan dengan sigap menjawab: “Cari belut Mas.”

Pak Rijal mengajak Sri berangkat dengan tiket khusus sebagai donatur yang berhak menonton seluruh pertandingan dari babak penyisihan sampai babak final.

"Tumben Sri, kamu nonton sepak bola?" tanya Mak Munhiyah.

"Kan gratis Mak. Emak nggak ikut sekalian?" tanya Pak Rijal.

"Nggak ah. Mending masak daripada lihat orang ngejar-ngejar bola nggak jelas," jawab Mak Munhiah.

Pak Rijal dan Sri berjalan kaki menuju lapangan bersama orang-orang yang berbondong-bondong ke lapangan. Tak hanya laki-laki yang datang, emak-emak dan  anak-anak juga ikut menonton sepak bola atau hanya sekedar membeli aneka jajanan dari puluhan penjual tiban yang juga datang dari berbagai penjuru kecamatan.

"Eh, Mas Yanto ikut nonton juga?" seru Dirin melihat Mas Yanto di belakang gawang sebelah utara.

"Hei Dirin, Eko, Afif. Kalian juga nonton?" tanya balik Mas Yanto.

"Iya Mas. Kan gratis,"

"Kok gratis?"

"Kan lewat sawah,"

"Kalian curang. Nggak boleh begitu."

"Soalnya nggak punya duit buat beli tiket Mas. Mas Yanto kok tumben nonton sepak bola?"

"Kan yang main kesebelasan Kedungjati. Mas Yanto pingin lihat aksi pemain favorit Mas Yanto,"

"Oh iya ding. Sekarang yang main kesebelasan Kedungjati. Siapa sih pemain andalan Kedungjati Mas?"

"Ealah kamu nggak tahu ya. Zaki, sang penyerang tengah. Nama lapangannya Jacque dan Iskandar, sang penjaga gawang, nama lapangannya Alex. Sudah terkenal se-kecamatan," terang Mas Yanto menjelaskan.

"Yang kutahu cuma pemain Bajong Mas. Soalnya pemain Bajong paling top. Ada Tuhadi, Sururi, Sugri, Bahi, pokoknya top semua. He he he."

"Kamu tahu nggak Kedungjati pasti juara."

"Nggak mungkin Mas. Pasti kalah sama Bajong,"

"Tunggu saja nanti."

"Oke Mas. Berani taruhan?"

"Hush, nggak boleh taruhan.

"Kalau begitu, hadiah aja Mas. Kalau Kedungjati juara, aku kasih Mas Yanto hadiah jangkrik sliring. Kalau Bajong yang menang Mas Yanto kasih aku sepeda. Setuju?" usul Dirin.

"Enak pala Lu. Puyeng pala Gue,"

Rabu, 16 Februari 2022

EYANG CINA


"Mau ikut ngga?" tanya eyangku, Eyang Iyah

"Ke mana Eyang?" tanyaku.

"Ke Purbalingga, ke rumahnya Eyang Cina," jawabnya.

"Ikut," jawabku tanpa basa-basi.


Aku sangat senang diajak ke rumah Eyang Cina. Begitulah aku menyebutnya karena beliau seumuran dengan eyangku dan Cina. Menurut eyangku, nama sesungguhnya tertulis Tjien, diucapkan Cin, nama dengan satu kata yang sama sekali tak biasa dan tak enak didengar. Maka, seenak selera lidahku, aku memanggilnya Eyang Cina. 


Eyang Cina adalah sahabat karib eyangku. Kata eyangku, ibuku dan keenam saudaranya bisa sekolah berkat bantuan Eyang Cina. Orang Konghuchu yang terpaksa menulis Kristen di KTP-nya ini, setiap lebaran memberi hadiah sarung dan sajadah. Eyang Cina juga memberikan bantuan untuk pembangunan langgar kecil eyangku.


Aku segera mandi dan ganti baju, baju terbaik sisa lebaran tahun lalu yang kupunya saat itu. Celana pendek berwarna coklat pramuka dan kemeja lengan pendek warna abu-abu cerah, sebuah paduan atasan dan bawahan yang sama sekali tidak padu.


Berkebaya hijau dan berjarik, eyangku yang tak pernah lepas dari tembakau susur di bibirnya menyuruhku mengangkat bekal bawaan ke becak yang telah menunggu. Tiga sisir pisang kapok kuning, lima butir kelapa, dan sekantong beras ketan kuangkat ke becak.


Becak adalah satu-satunya alat transportasi umum di desaku menuju ke jalan raya sebelum kami menunggu angkot ke arah kota Purbalingga.


Beberapa saat menunggu, sebuah armada "isuzu" berwarna kuning kusam dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini membawa kami menuju kota.


Inilah yang kutunggu-tunggu. Naik angkot dengan kaca yang bisa dibuka sehingga angin masuk dan menerpa wajahku adalah sebuah sensasi tersendiri dengan aroma asapnya. Aroma gas buang hasil pembakaran bensin ini hanya bisa kunikmati ketika Bang Taufik, orang desa kami yang sukses di Jakarta, pulang kampung membawa motor. Anak-anak seusiaku mengejar motornya untuk menghirup aroma asapnya.


Kami turun di alun-alun dan berjalan kaki sebentar menuju rumah Eyang Cina. Aku memanggul kantong beras ketan dan eyangku mengangkat pisang dan kelapa.


"Assalamu alaikum," ketika kami tiba di rumah eyang Cina.

"Waalaikum salam. Eh, ada tamu agung.  Ayo masuk," jawab eyang Cina yang nampak sangat gembira menerima kedatangan kami. Beliau masih sehat namun keriput di wajahnya sama dengan keriput di wajah eyangku.

Kami dibawa ke ruang di belakang tokonya yang belum buka.

"Wah kok repot-repot," kata eyang Cina menerima bawaan kami.

"Kebetulan baru panen Ci. Ada sisa beras ketan. Siapa tahu ingin nyicipi," jawab eyangku. Eyangku memanggil Eyang Cina dengan sebutan "Ci" yang artinya "Mbakyu".


Eyangku dan eyang Cina terlibat obrolan yang hangat. Maklum, dua sahabat itu sudah lama tak bertemu. Beberapa saudara Eyang Cina ikut nimbrung ngobrol. Eyang Cina dengan saudara-saudaranya masih memakai bahasa Cina yang aku dan eyangku tak paham. Dan Eyang Cina lah yang menerjemahkan artinya.


Aku hanya duduk sambil menikmati secangkir teh yang disuguhkan dan mengamati ruang tamu yang masih sama. Aku selalu kagum dengan hiasan yang ada di ruang tamu Eyang Cina. Hiasan kertas warna merah dengan tulisan emas menempel di dinding. Aku tak paham dengan tulisannya. Tapi tata ruangnya menarik. Gambar harimau di sudut kanan dengan bola-bola lampion merah kusam di sebelahnya. Ada kertas kecil-kecil dengan tulisan Cina di atas pintu. Kata eyangku itu adalah jimatnya Eyang Cina.


Setelah beberapa saat berbincang dan sudah terobati kerinduan keduanya, eyangku mohon pamit.


"Sebentar-sebentar," kata Eyang Cina menyuruh kami menunggu.


Eyang Cina membawakan kami beberapa kaleng biscuit. Salah satunya bermerk "Khong Guan".  Ini yang kusuka. Hanya saat lebaran, aku bisa menikmati biscuit macam ini, saat paman dan pakdeku mudik. Tapi kali ini, tak perlu menunggu lebaran. Khusus untuk eyangku, Eyang Cina memberinya oleh-oleh istimewa, tembakau terbaik yang sudah "matang" yang paling enak se-kabupaten.

Rabu, 14 Juli 2021

MENCARI IKAN LAGI

 Di akhir musim penghujan ini, volume air sungai semakin mengecil. Ikan pun semakin menghilang. Yang tersisa adalah anak-anak ikan yang masih kecil dari telur yang telat menetas. Pasti induk ikan ini salah perhitungan karena sebentar lagi sungai akan mengering. Biasanya telur ikan menetas pada awal musim hujan sehingga anak-anak mereka dapat bertumbuh kembang dengan baik. Dalam kondisi menjelang kemarau dan sungai biasanya mengering, ke manakah mereka akan mencari perlindungan? Oh kasihan. Kini, mereka hidup sendiri. Induk-induk mereka entah pergi ke mana. Tapi itulah alam. Ada yang pandai berhitung ada yang tidak pandai.


Saat-saat seperti ini dimanfaatkan oleh Ken dan Kan untuk menangkap anak ikan yang masih kecil dan nampak jinak. Sore menjelang asar, berbekal seser, gelas plastik dan botol beling, Ken dan Kan turun ke sungai mereka mencari ikan.


"Ken Kan ini di sini banyak ikannya," teriakku sambil menunjukkan tempat anak ikan berkumpul. Cukup dengan melambaikan tangan untuk membentuk bayangan di tempat berkumpulnya ikan, Ken dan Kan memahami isyaratku dan segera menyerok anak-anak ikan.


"Jangan pakai seser. Pakai gelas plastik saja. Pelan-pelan," kataku memberi komando.


Mata seser yang mereka gunakan terlalu lebar untuk menyerok anak ikan yang masih sangat kecil.


"Kan, ayo mandi, sudah sore," teriak pengasuh Kan tiba-tiba.


Beberapa saat Kan nampak berdiskusi serius dengan Ken membahas hasil tangkapan mereka dan tak mempedulikan panggilan Mba pengasuhnya. 


"Ayo pada naik. Sudah sore. Mandi. Terus berangkat TPQ," teriakku setelah terdengar suara adzan asar dari toa mushola.

"Yahhh...," gerutu Ken yang selalu berdoa supaya TPQnya libur supaya tidak ada tes TPQ.


Mereka bergegas naik. Aku membantu memegang botol beling, gelas plastik dan sesernya.


"Ini nanti dipelihara dimana Ken?" tanyaku

"Di ember," jawabnya singkat.


"Yah, di ember. Minta beliin aquarium dong," 


(maaf sedikit kalimat provokasi supaya ayah ibunya membelikan aquarium untuk memelihara hasil tangkapan Ken dan Kan) 🤭🤗😁


Jumat, 12 Februari 2021

MOBIL JAMU KELILING

(Seri ke-28)

Aduhai jamu j*** pujaanku terkenal sepanjang masa. Kasiatnya terbukti.... Saudara-saudara berjumpa lagi dengan jamu j***. Encok, pegel linu, kecapekan, semua akan sembuh dengan jamu j***. Kukuruyuuuuk." Lagu dan suara promosi dengan pengeras suara di atas sebuah mobil itu memanggil para pembelinya.
Mobil box kecil itu berhenti di perempatan. Sebuah mobil dengan warna dominasi kuning dan putih serta bergambar mozaik ayam jantan yang menjadi logo dari produk jamu tersebut. Mobil itu terkesan hingar bingar karena lampu terpasang di atas, di samping dan di belakang. Pintu belakang dibuka dan ada rak-rak untuk memajang jamu. Berbagai jenis jamu yang ditawarkan. Sebuah meja kecil dikeluarkan. Di atasnya ada gelas, sendok, tremos, dan telur ayam kampung sebagai tempat untuk melayani pembeli. Salah satu penjual dengan sigap melayani para pembeli, baik yang diseduh dan diminum langsung di tempat maupun yang beli jamu sachetan untuk dibawa pulang. Musik tak henti berputar sambil memperkenalkan produk jamu yang dijual. Mobil ini datang secara rutin sebulan sekali dengan ciri yang sama.
Tidak hanya orang tua yang datang untuk membeli jamu. Anak-anak datangl untuk menonton atraksi orang bertubuh kecil atau (maaf cebol). Berpakaian rapi, kemeja, celana jeans dan bersepatu, orang bertubuh kecil itu menari, melompat, dan salto di atas atap mobil tersebut mengikuti irama musik yang diputar, kadang bermain sulap, melucu, menyapa dan bercanda dengan para pembeli. Dan sesekali menirukan suara kluruk ayam jantan. Kedatangan penjual jamu ini menjadi hiburan tersendiri bagi desa yang jauh dari hingar bingar itu.
Mendengar ramai-ramai dengan musik khasnya, Mak Munhiah tak mau ketinggalan.
"Sri, temani emak beli jamu yuk,"
Walaupun masih kesal dengan sikap emaknya tadi siang, Sri yang masih berkutat dengan novelnya, segera meletakkan novelnya dan menemani emaknya.
“Sekalian cari hiburan,” kata Sri dalam hati.
Mak munhiah membeli jamu pegal linu yang diseduh dan diminum di tempat sekaligus membeli beberapa sachet jamu kuat pria untuk Pak Rijal serta param pusaka untuk persediaan luluran ketika badan pegal-pegal.
"Sri, kamu nggak pingin minum jamu?" tanya Mak Munhiah.
"Nggak Mak. Sri sehat-sehat kok." jawab Sri.
"Minum jamu itu bukan untuk yang sakit saja lho Mba. Untuk yang cantik juga bisa biar tetap cantik dan tetap sehat tentunya. Ini ada jamu biar kulit tetap kenceng dan halus," rayu penjualnya genit.
Sri tersenyum kecut menanggapi penjual jamu itu.

Rabu, 27 Januari 2021

BELAJAR MENGETIK

 

Gedung itu megah sekali. Jendelanya berkaca lebar-lebar dan bersih. Di depannya berjajar pot-pot berisi berbagai macam bunga. Bercat krem nampak bersih. Ada tiga anak tangga untuk memasukinya.

“Wow, gedung apa ini?”

Di depan pintu aku ternganga sementara anak-anak yang lain berebut memasukinya. Kuikuti anak yang lain, masuk pelan-pelan sembari mengamati pintu, gagang pintu, lantai, plafon, meja, kursi, dan mesin tik.

 

Hari ini aku akan belajar mengetik. Mesin tik, walaupun sudah pernah kulihat di kelurahan tapi baru kali ini aku bisa menatapnya secara langsung dan sebentar lagi menyentuhnya. Berbeda dengan mesin tik di kelurahan yang hanya satu-satunya berada di meja Pak Carik berwarna abu-abu blutek, mesin tik di ruangan ini banyak sekali berjajar di atas meja. Warnanya putih gading dan mengkilap. Ini pasti mahal sekali. Pantas saja, sekolah menempatkan benda-benda ini di ruangan yang begitu megah dan gedung ini di bangun di bagian depan sekolah agar semua orang bisa berdecak kagum. Siapapun yang lewat di depan sekolah dan sedikit berjinjit dapat melihat barang-barang mewah ini.

 

“Ayo, anak-anak hari ini kita akan praktik mengetik dengan sepuluh jari,” teriak Pak Sudirman berdidi di depan. Kemudian beliau menunjukkan papan tuts besar di dinding depan bagian atas yang berisi huruf-huruf yang persis sama dengan yang ada di mesin tik. Rupanya itu adalah gambar tuts mesin tik yang diperbesar.

 

“Siapkan jari-jari kalian di atas tuts,” lanjut Pak Sudirman dengan suara khasnya.

 

Aku menempatkan jari-jariku di atas tuts mesin tik. Sedikit gemetar. Dimulai dari jari kelingking tangan kiri yang harus kutempatkan di atas huruf A. Kemudian jari manis kiri di atas huruf S, jari tengah kiri di atas huruf D, jari telunjuk kiri di atas huruf F, jari telunjuk kanan di atas huruf J, jari tengah kanan di atas huruf K, jari manis kanan di atas huruf L, dan jari kelingking kanan di atas ;.

 

“Sekarang lihat ke depan, jangan lihat tutsnya.”

“Nanti kalau salah pegang gimana Pak?” Tanya salah satu temanku.

“Rasakan jari telunjuk kanan dan kiri kalian. Di tuts huruf F dan J ada jendulan kecil. Itu sebagai patokan agar jari kalian tidak kelayaban ke mana-mana. Jari telunjuk kalian jangan sampai pergi dari tuts yang ada jendulannya tersebut.”

Kuraba pelan dan kurasakan benar adanya. Ada jendulan kecil di tuts huruf F dan J.

“Sekarang mulai. Tekan jari sesuai huruf yang saya sebutkan,” kata Pak Sudirman.

Aku tertegun. Sebentar lagi aku akan mengoperasikan mesin hebat ini. Sebuah mesin yang bisa menulis dengan rapi seperti di buku paket dan lurus tanpa penggaris. Istimewa.

“A,” teriak Pak Sudirman.

“Tak..” suara serempak dari mesin tik-mesin tik berbarengan.

Aku tersentak, kaget dan bingung. Namun sekejap kemudian aku menguasai keadaan, kemudian kupencet jari kelingking kiriku dengan keras “tak”. Semua temanku menengok ke arahku.

“A,” teriak Pak Sudirman lagi.

Kali ini aku tak mau tetinggal. Kupencet jari kelingking kiriku dengan semangat “tak”.

Pelajaran “A” diulang-ulang sampai 10 kali. Jari kelingking kiriku sungguh pegal sebelum pindah ke huruf S dan seterusnya.

Pelajaran mengetik selesai. Sungguh indah pengalamanku hari ini walaupun jari-jariku sakit semua.

 

 

Kamis, 21 Januari 2021

LEPEN PUCANG


Pagi menjelang. Embun tipis masih melayang-layang setelah semalam berkencan dengan hujan. udara dingin masih terasa menusuk kulit. Kutunggu mentari di depan rumah sembari menunggu istriku membuatkan kopi.
"Pisang Pak," tawar ibu pedagang pisang berhenti di depan rumah sambil menurunkan keranjang bambu dari gendongannya.
Kudekati pedagang pisang tersebut dan kutengok keranjangnya.
"Pisang ijo niki pintenan Bu?" (pisang hijau ini berapanan Bu) tanyaku memakai Bahasa Jawa kromo. Ada beberapa jenis pisang yang ada di keranjang tapi aku tertarik dengan pisang hijau.
"Meniko kalih doso ewu," (Ini dua puluh ribu) jawab ibu dengan Bahasa Jawa kromo juga.
Kuambil uang lima puluhan ribu dan kubayarkan. Sang ibu penjual melepas simpul selendang lurik tenunnya yang digunakan untuk menggendong keranjang yang diikat ujungnya yang digunakan untuk menyimpan uang, lalu mengambil uang tiga puluh ribu sebagai kembalian.
Sembari menunggu kembalian, aku basa-basi bertanya:
"Panjenengan daleme pundi Bu, kok gasik sampun dugi mriki?" (Anda rumahnya mana Bu, kok pagi-pagi sudah sampai sini)
"Kulo saking Lepen Pucang," (Saya dari Lepen Pucang) jawabnya singkat.
Aku diam membeku, terpaku dan berpikir "Lepen Pucang" itu daerah mana? Tak ada desa di wilayah Kabupaten Batang bernama "Lepen Pucang". Apakah mungkin ibu ini berasal dari kabupaten, provinsi atau negara lain? Tapi nampak tak mungkin.
Setelah berpikir sejenak, aku tersadar. "Lepen" adalah Bahasa Jawa kromo yang artinya "Kali". Jadi, "Lepen Pucang" adalah "Kali Pucang" tetangga desa.
Untung saja, dari awal aku tak menggunakan Bahasa Indonesia. Pasti si ibu akan menjawab "Saya dari Sungai Pinang". Dan aku semakin bingung.
Jadi, sangat aneh dan membingungkan jika nama-nama tempat diterjemahkan.
Misalnya : WONOGIRI menjadi Hutan Gunung, SURABAYA menjadi Hiu Buaya, BANYUMAS menjadi Air Mas, BANYUWANGI menjadi Air Harum.
A: Anda berasal dari mana Mas?
B: Hutan Gunung
A: oh Wonogiri?
B: Yups.
Dan pasti aku tak berani menyebut daerah tempatku berasal "PURBALINGGA".