alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Senin, 16 Februari 2015

JADI BENDAHARA

Laki-laki menjadi bendahara merupakan hal tabu di sekolahku. Bendahara menjadi lahan pekerjaan perempuan. Di semua bidang, koperasi, arisan, kepanitaan UTS (ulangan tengah semester), UAS (ulangan Akhir Semester), UKK (Ulangan Kenaikan Kelas), PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), Ujian Nasional, Pengembangan Kurikulum, Workshop, bendaharanya adalah perempuan. Jadi jangan coba-coba mengusik lahan kaum hawa ini.

Aku pun pernah ditertawakan dan disenyumi secara sinis, ketika aku menyampaikan keinginanku untuk menjadi bendahara dalam sebuah kepanitiaan.

“Ada apa sih dengan laki-laki? Apa salah kami?” pertanyaan ini hanya melayang-layang di angkasa tanpa pernah terjawab lagi

Maka, aneh ketika dalam kepanitiaan pembangunan RKB (Ruang Kelas Baru) tahun 2014 aku ditunjuk sebagai bendahara. Ini jelas melanggar adat. Awalnya, aku menolak dengan alasan tersebut di atas. Tapi Ibu Siti Habibah, S.Pd., wakil kepala sekolah di bidang sarana dan prasarana meyakinkanku untuk tetap menerima tugas ini.

“Nanti kami bantu Pak,” kata beliau yang memang ahli dibidang keuangan. Maklum saja, beliau adalah guru ekonomi /akutansi di sekolah kami.

Akhirnya, aku terima tugas ini walaupun masih agak ragu. Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) ini adalah bantuan sosial dari direktotar jenderal pendidikan menengah tahun anggaran 2014. Seiring dengan pelaksanaan pembangunan ruang kelas baru, aku mulai menjalankan tugasku sebagai bendahara, mengambil uang di bank, mengeluarkan uang, dan mencatatnya. Catatan inilah yang tidak boleh alpa satu kali pun. Aku pernah kehilangan uang 4 juta rupiah akibat sebuah pengeluaran lupa aku catat. Dan aku pun pernah kelebihan uang 9 juta rupiah karena aku telah mencatat sebuah hutang yang belum dibayarkan. Aku juga harus selalu membawa uang kas karena sewaktu-waktu bagian pembelian meminta uang untuk membeli keperluan pembangunan. Padahal, sebagai guru aku juga harus melaksanakan tugas mengajar. Jadi, selama menjadi bendahara, saku celanaku selalu gondal-gandul membawa uang  ratusan ribu bahkan puluhan juta rupiah. Kenapa tidak dimasukkan de brangkas? Brangkas dari Hongkong. Nah ini dia... brangkas ini harus diagendakan untuk direalisasikan karena sampai saat ini tak ada fasilitas brangkas untuk para bendahara. Besok aku usul.

Jadi bendahara harus jujur. Mengapa? Pengalamanku, ada beberapa transaksi pembelian yang disertai dengan nota kosong. Aneh juga, walaupun tidak diminta mereka menyertakan nota kosong. Kalaupun tidak secara otomatis diberi, nota kosong juga bisa diminta dengan mudah. Apakah sebuah kebiasaan atau adat? Ketika kutanyakan ke pemilik toko, mereka menjawab: “Setiap proyek pasti membutuhkannya” Benar-benar menggoda. Seandainya aku tergoda, aku pasti manfaatkan nota kosong ini. Wuih, bisa kaya mendadak. Tapi, insyaalloh aku masih merasa ber-Tuhan. Karena itu aku berusaha menjaga kepercayaan ini.

Tak lupa bayar pajak. Sebagai warga negara yang baik kita harus taat membayar pajak. Bukan itu alasan sebenarnya, tapi karena proyek ini didanai oleh pemerintah, maka seluruh kegiatan dikenai pajak. Dari semua pembelian dan biaya, dihitung dulu DPP-nya (Dasar Pengenaan Pajak) yaitu 100/110. Aku harus membayarkan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 10 % dan PPh (Pajak penghasilan) sebesar 1,5% sampai dengan 3% dari DPP. Untuk pasir dan batu tidak dikenai pajak karena termasuk galian C yang pajaknya telah dibayarkan oleh pemerintah daerah. Tukang juga. Tukang yang upah hariannya di bawah 150 ribu tidak dikenai pajak. Adapun PPh pasal 22, kami harus membayar 1,5% atau 3%. Kalau kita belanja ke toko yang mempunyai NPWP  (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan membayar pajak dengan menggunakan NPWP toko maka PPh-nya hanya dikenai pajak sebesar 1,5%, tapi kalau kita membayar pajak dengan NPWP sekolah karena toko tempat kita belanja tidak mempunyai NPWP maka dikenai pajak sebesar 3 %. Makanya, hati-hati, jangan berbelanja ke toko yang tidak mempunyai NPWP.

Sampai batas akhir perjanjian penyelesaian pekerjaan selama 3 bulan atau tepatnya tanggal 31 Desember 2014, aku berhasil menyelesaikan seluruh laporan dengan lancar.

Aku bisa membuktikan bahwa laki-laki pun bisa menjadi bendahara walaupun masih ada satu tahap yang akan aku jalani yaitu pemeriksaan oleh direktorat jenderal pendidikan menengah, si pemberi bantuan sosial ini. Mudah-mudahan lancar dan tidak ada kendala.

Jumat, 13 Februari 2015

BALADA SEONGGOK BENDA

Pada sebuah batu. Bukan batu bacan, safir, zamrud, kecubung, ruby, topaz, kalimaya, giok, lavender ataupun klawing. Batu berwarna abu-abu di tepi jalan yang berdiameter kurang lebih 50 cm itu berada di depan pintu gerbang sebelah kanan sebuah rumah mewah di dekat sekolahku. Rumah itu nampak kosong karena pagar depan tertutup. Pagi itu, aku melihat seonggok benda di atas batu itu. Aku hanya melihat dari dalam mobil yang aku kendari setiap pagi. Jadi hanya indra penglihatan yang aku fungsikan. Dan cukup indra itu saja. Aku tak perlu turun dari mobil untuk meneliti lebih dalam benda tersebut. Cukup dari bentuk, letak, dan warnanya saja. Benda itu terlihat menonjol karena keberadaannya yang unik. Di atas sebuah batu yang juga hanya satu-satunya di depan rumah itu.

Hari ke-1 : Ketika baru melihatnya aku sempat penasaran melihat benda itu. Benda apakah itu? Mengapa benda itu ada di atas sebuah batu? Wajarkah? Pandangan pertamaku : benda itu berwarna kuning ada bercak hitam dan hijau. Bentuknya bulat melingkar seperti ular berdiameter sekitar 4 cm di bagian tengah dan panjang sekitar 20 cm.

Hari ke-2 : Warna kuningnya mulai menua. Sekelompok lalat nampak mengerubuti benda tersebut.

Hari ke-3 : Warnanya berubah menjadi kecoklatan. Sekelompok lalat yang kemarin mengerubutinya sudah pergi. Hanya ada satu lalat hijau besar berada di atasnya. Tubuhnya berkilat-kilat hijau nampak perkasa. Mungkin dia sedang menunjukkan kekuasaannya karena telah berhasil mengusir kelompok lalat-lalat kecil.

Hari ke-4 : Benda tersebut sudah berubah coklat tua dan kehitaman. Tak ada hewan apapun. Mungkin mereka sudah bosan.

Hari ke-5 : Benda tersebut sudah berubah hitam total.

Hari ke-6 : Warna hitamnya memudar agak krem. Volumenya agak menyusut.

Hari ke-7 : Warnanya total menjadi krem. Nampak kering seperti tembikar yang siap dibakar menjadi perkakas rumah tangga. Volumenya menyusut lebih kecil dengan diameter sekitar 3 cm.

Hari ke-8 : Benda itu kembali berwarna hitam. Bentuknya kembali membesar seperti semula. Aku menyangka itu benda baru. Ternyata dugaanku salah. Benda tersebut masih benda yang sama. Benda itu berubah kembali ke awal karena tadi malam hujan deras mengguyur kotaku. Air hujan telah melembabkannya dan membuatnya mengembang kembali. Lalat hijau nampak kembali bertengger di atasnya.

Hari ke-9 : Benda itu sudah hilang. Tak ada lagi siapa-siapa lagi di atas batu itu. Nampak pintu gerbang sudah terbuka. Ternyata sang pemilik rumah sudah pulang.

Entah kemana nasib benda tersebut sekarang. Ke tempat sampah? atau ke kebun kosong? atau ke sungai? Masih ada tahap kehidupan lain yang masih harus dijalaninya karena benda itu belum bertemu dengan kumbang scarabidae.

EFEK UJIAN PRAKTIK

Ujian praktik Bahasa Perancis hari ini selesai pukul 11.00. Pada pukul 12.00 aku masih punya jadwal mengajar di kelas X. Sebenarnya aku masih merasa lelah setelah menguji ujian praktik kelas XII. Tapi ini adalah kewajiban. Aku tetap harus mengajar di kelas X.

Aku bergegas menuju ke kelas X MIIA 1. Para siswa masih ramai bercanda dengan teman-temannya.

"Pak, kosong saja sih Pak. Dari tadi juga kosong. Kelas lain juga banyak yang kosong," kata salah satu siswa.

"Kebetulan nih," kataku dalam hati. Betul-betul dalam hati.

Tapi aku tak boleh mengungkapkan perasaanku. Aku harus pura-pura mempunyai tekad kuat untuk mengajar.

"Kalau dari tadi sudah kosong, sekarang jangan sampai kosong. Kan sayang. Sekolah kok tidak mendapatkan ilmu. Siapa yang rugi? Untuk itu, sekarang kita mulai saja pelajaran kita," kataku

"Yaaaaahh! sekali-kali sih Pak buat refresing," timpal mereka.

Kondisi ujian praktik memang sedikit mengganggu proses pembelajaran di kelas X dan XI. Guru yang sedang bertugas menguji ujian praktik harus meninggalkan kelas X dan XI dan biasanya hanya memberi tugas. Lagi pula, dari lapangan basket terdengar soundtrack-nya ujian praktik senam berdebum keras. Konsentrasi siswa terganggu. Banyak guru yang memilih tidak mengaar dan membiarkan siswanya menonton ujian praktik senam.

"Ya sudah. Cerita saja ya?" tawarku
"Tak mau Pak, tugas saja Pak" jawab mereka

Aku paham dengan jawaban mereka. Mereka tak mau diberi cerita karena biasanya ujung-ujungnya ceritaku kembali ke materi pelajaran. Mereka dengan senang hati diberi tugas karena tugas itu bisa dikerjakan dengan cara:
1. Kerjasama dengan teman
2. Membutuhkan waktu yang lebih cepat.
3. Bisa dikerjakan sambil nonton kakak kelas XII ujian praktek senam.
4. Lebih santai dan tidak tegang.
5. Ditinggal gurunya pergi

"Ya sudah lah. Buka bukunya halaman 40. Kerjakan latihan 34 dan latihan 35. Dikumpulkan," perintahku

"Oke Pak," jawab mereka serentak.

KEMBALI PERCAYA DIRI

Setelah beberapa hari menguji praktik Bahasa Perancis, hari ini aku menemukan kepercayaan diriku kembali. Hari ini aku menguji kelas XII IPA 3. Dari 38 siswa yang mengikuti ujian praktik, hampir 70 % sangat lancar mempresentasikan wisata desa mereka. Dengan lancarnya mereka, aku merasa pelajaran yang aku ajarkan berhasil mereka serap dengan baik. Aku merasa berhasil mengajari mereka Bahasa Perancis. Betapa bahagianya aku hari ini.

Hari-hari sebelumnya, aku merasa putus asa. Dari beberapa kelas XII IPS yang sudah melakukan ujian praktik hanya sekitar 30 % yang berhasil mempresentasikan Bahasa Perancis dengan benar. Dan ini membuatku murung selama beberapa hari. Aku merasa gagal menjadi guru. Aku sempat merenung kembali untuk melanjutkan profesiku menjadi guru. Aku ingin beralih profesi. Aku merasa ada yang salah dengan diriku dan bakatku. Apakah mungkin dengan pertanda burung emprit itu, Tuhan sedang memberitahuku untuk beralih profesi menjadi peternak dan penjual burung?

Hari ini, aku kembali. Seperti Fernando Torres yang menemukan kepercayaan dirinya kembali di Atletico Madrid bertahun-tahun gagal bersinar bersama Chelsea. Terima kasih aku ucapkan kepada siswa-siswaku di kelas XII IPA 3, Devi dan kawan-kawan. Kalian hebat. Kehebatan kalian menjadi kebanggaan gurumu.

Aku berharap, kelas-kelas berikutnya memberiku amunisi yang lebih banyak agar aku lebih bersemangat menjadi guru.

Karena aku belum siap menjadi penjual burung.

Kamis, 12 Februari 2015

DEMI MERTUA

Demi mertuaku yang sakit-sakitan, motor yang dibawa istriku kukembalikan.
Mungkin awalnya sebagai tanda sayang orang tua kepada anaknya, motor satu-satunya di rumah diserahkan ke istriku setelah kami pindah ke kota lain. Satu tahun kami pindah, mertuaku mulai sakit-sakitan. Karena beliau hanya berdua di rumah, maka tak ada orang yang diandalkan untuk menolong kecuali para tetangga. Mengantar ke dokter, membelikan obat, memanggil tukang pijat, dan aktvitas kesehatan lainnya sangat tergantung kepada tetangga. Kendalanya, ketika tetangga dimintai tolong untuk mengantar ke dokter misalnya, mereka juga harus sekalian meminjam motor karena di rumah mertuaku sudah tak ada motor. Ketika mendengar kabar tersebut, aku langsung minta istriku untuk mengikhlaskan motornya. Alhamdulillah, dia ikhlas.

"Nanti biar aku beli sepeda saja Ma," kataku kepada istriku.

Untuk waktu cepat, kemungkinan yang paling realistis adalah beli sepeda. Selain tidak membutuhkan dana besar, juga anti polusi dan menyehatkan. Sekolahku juga tak terlalu jauh, hanya 2 km ke arah selatan.

Motor pun kuantar ke rumah mertua di Kebumen. Dan di rumahku sekarang hanya ada 1 motor. Aku harus siap antar jemput istri dan anak-anakku setiap hari. Tempat kerja istri sekitar 3 km dari rumah ke arah utara. Sekolah anak pertamaku sekitar 2 km ke arah timur. Sekolah anak keduaku sekitar 2 km ke arah selatan.

Beberapa hari kemudian aku mulai berprofesi ganda, selain menjadi guru juga menjadi tukang ojek istri dan anak-anakku. Setelah beberapa hari profesi ini aku jalankan dan aku mulai lelah, belum juga ada dana untuk membeli sepeda. Kelihatannya murah, cukup dengan uang 1 juta dapat beli sepeda tapi nyatanya uang satu juta pun belum ada.

"Ya Alloh, berilah hambamu rizki untuk membeli sepeda," itu do'aku setiap malam.

Pada hari ke-10, doaku dikabulkan. Ibuku meneleponku:

"Rumahmu yang depan dibongkar saja. Dibuat garasi. Soalnya Om-mu mau mengirim mobil ke rumahmu."

Bagai petir di siang bolong, aku terbengong-bengong.

"Ya Alloh, Engkau Maha Pemurah. Aku hanya minta sepeda, Engkau beri aku mobil. Masya Alloh, Allohu Akbar," kataku dalam hati

Mungkin Tuhan pun menjawab. "Enak saja kau minta sepeda. Kau egois. Kau mau enak sendiri. Lha yang mau ngantar anak-anakmu sekolah siapa? Istrimu kah? Terlalu."

TES CPNS

Pada tanggal tahun 2009, aku mengikuti pendaftaran tes CPNS. Umurku saat itu 34, batas terakhir untuk mendaftar tes karena tahun 2010 umurku sudah lebih dari 35. Formasi yang aku daftar adalah guru Bahasa Perancis di Kabupaten Batang. Dibutuhkan hanya 1 orang.

Sebenarnya pada saat pendaftaran aku dalam keadaan sakit tipus. Istriku yang berperan untuk mengisi formulir pendaftaran lewat internet dengan alamat www.cpns.jatengprov.go.id yang dibuka dari tanggal 30 Oktober sampai dengan 9 Nopember 2009 pukul 24.00. Setelah berhasil mendaftar dan menge-print formulir pendaftaran, kemudian formulir tersebut dikirim bersama dengan surat lamaran, pas foto 4 x 6 dan fotocopy ijazah S1 + Akta IV legalisir. Dan istriku sempat kesal juga karena menulis surat lamarannya sampai 5 kali. Dan itu pun terbalik. Kertas folio berisi 2 lembar atau 4 halaman. Istriku menulis di halaman 1. Karena suratnya panjang dan tidak cukup satu halaman maka dilanjutkan ke halaman berikutnya. Seharusnya dilanjutkan ke halaman ke 3 agar tidak bolak-balik dalam 1 lembar kertas. Tapi istriku menulis di halaman ke 4. Jadi, ketika kulipat, aku bingung. Akhirnya kertas folio itu kulipat dengan semua tulisan berada di tengah. Artinya, halaman ke-1 berubah menjadi halaman ke-3 dan halaman ke-4 berubah menjadi halaman ke-2. Bingung kan? di praktikkan saja pakai kertas folio sebenarnya, nanti paham. Dan yang terjadi adalah surat tersebut menjadi ditulis dari halaman ke-3 berlanjut ke halaman ke-2. Kayak Al-Qur'an persis. Ketika kusuruh mengganti lagi, dia bilang:

"Ganti saja sendiri. Tanganku sudah capek"

Dalam keadaan badan masih menggigil, aku mencoba menulis, ternyata tanganku gemetar, pulpenku bergoyang-goyang. Sama sekali gagal. Akhirnya tulisan terakhir istriku itulah yang kutempeli materai 6.000 dan kububuhkan tanda tangan di atasnya. Ini juga salah. Aku baru tahu aku telah melakukan kesalahan setelah berkas itu dikirim via pos. Ternyata dalam aturan baku, surat lamaran tak perlu memakai materai.

"Biar diterima lah," kataku dalam hati membela diri.

Sebulan kemudian aku mendapatkan surat panggilan bersama kartu ujian untuk mengikuti tes seleksi. Aku membeli contoh-contoh soal tes CPNS, UUD 45, UU tentang partai politik, UU tentang pemilu, UU tentang guru dan dosen, UU tentang otonomi daerah, UU Sisdiknas, berbagai peraturan pemerintah, buku tetang susunan pemerintahan. Aku menghabiskan Rp. 315.000,- untuk berbelanja buku. Aku hapalkan pasal-pasal UUD 1945 beserta ayat-ayatnya. Kuhapalkan nama-nama menteri. Aku pelajari semua buku tersebut.

Walaupun demikian aku tidak berharap banyak dengan pendaftaran ini. Pendaftar yang berhasil lolos administrasi sebanyak 80 orang terdiri dari lulusan Pendidikan Bahasa Perancis sebanyak 74 orang dan Sastra Perancis + akta IV sebanyak 6 orang. Aku termasuk di antara 6 orang tersebut. Aku menyadari umur sangat berpengaruh dalam metabolisme otak. Daya serap otakku sudah terbatas. Aku hanya bisa berusaha dan berdo'a.

Pada tanggal 6 Desember 2009 aku akan mengikuti tes yang diselenggarakan di SMP Negeri 4 Batang. Aku sengaja datang sehari sebelumnya karena aku belum tahu daerah Batang. Perjalanan dari Kebumen pukul 9 pagi menggunakan bus sampai Batang pukul 17.00. Sore itu juga aku langsung menuju lokasi tes untuk memastikan aku tidak tersesat ke tempat lain. Setelah mengetahui lokasi SMP N 4 Batang, aku mencari hotel untuk menginap. Beberapa hotel yang aku datangi ternyata penuh. Ada satu hotel yang masih tersisa satu kamar VIP yaitu hotel Yudistira, di jalan Jenderal Sudirman atau jalan Pantura, sekitar 5 km dari SMP N 4 Batang. Kamar berisi 2 bed, televisi layar cembung 29' dan AC itu harus aku bayar dengan 350 ribu di muka. Begitu lelahnya, jam 20.00 malam aku sudah tertidur.

Pagi jam 07.00 aku berangkat menuju lokasi. Benar saja, para peserta tesnya masih muda-muda, cantik-cantik dan tampan-tampan. Pasti banyak yang baru lulus kuliah. Aku merasa minder dan grogi melihat mereka. Otak mereka pasti masih encer. Aku berusaha rileks sambil membaca ulang soal-soal tes CPNS. Pada pukul 07.45 bel masuk berbunyi. Mungkin sudah adatnya orang bingung, nerveus, capek, KTP asliku sebagai syarat mengikuti tes ternyata masih ditahan di resepsionist hotel sebagai syarat ceck-in. Aku benar-benar gugup. Aku segera minta tolong ke tukang parkir untuk mengantarku ke hotel mengambil KTP. Dengan kecepatan tinggi, Pak Tukang Parkir yang ternyata adalah salah satu staf TU SMP N 4 Batang mengantarku ke hotel Yudistira. Jadilah beliau menjadi tukang ojek dadakan. Sampai di hotel KTPku tak boleh diminta sebelum ceck out, akhirnya aku ceck out saat itu juga. Tas yang ada di kamar hotel aku bawa sekalian ke SMP N 4. Aku terlambat 10 menit dan bersyukur karena masih diperbolehkan mengikuti tes. Tasku kutitipkan di Ruang TU.
Oh..iya. Pak Ojek dadakan tadi aku beri ongkos Rp. 50.000. Menurutku terlalu banyak. Wah, ternyata bakhil juga diriku ini. Tapi karena di dompetku hanya ada uang pecahan 50 ribuan, bismillah aku berikan juga dengan niat sekalian shodaqoh.

Masih dengan nafas ngos-ngosan aku buka soal tes. Oh My God. Soal berjumlah 200 sebagian besar adalah masalah fiskal dan moneter. Otakku benar-benar blank. Tak ada yang aku ketahui tentang makhluk bernama fiskal dan moneter ini. Aku kerjakan soal-soal tersebut dengan lebih banyak menggunakan instink. Pada pukul 09.00 sudah mulai ada yang selesai. Satu per satu peserta mulai keluar. Aku bertambah gugup. Keringatku mengucur deras karena masih banyak soal yang belum aku kerjakan. Pukul 09.30 benar-benar tinggal aku sendiri bersama Pak Pengawas. Untung saja, Pak Pengawas berkata: "Selesaikan saja sampai waktuya habis. Saya tunggu" Oh..benar-benar bagai oase di gurun sahara. Hatiku terasa "nyes" dan otakku kembali normal. Aku kerjakan soal yang belum sempat aku kerjakan. Sampai waktu berakhir, aku berhasil mengerjakan semua soal.

Saat aku keluar, Pak Ojek dadakan tadi sudah menunggu di depan pintu sambil membawa tasku.
"Bapak saya antar ke hotel lagi?"
"Tidak Pak, saya langsung pulang ke Kebumen," jawabku
"Kalau begitu, saya antar ke terminal langsung Pak," kata beliau
"Terima kasih Pak, tak usah repot-repot. Saya ke terminal naik angkot saja. Saya sudah tidak tergesa-gesa lagi kok," jawabku
"Nggak apa-apa Pak. Saya antar saja Pak. Monggo," kata beliau sambil menaikkan tasku di depan dan men-starter motornya. Aku tak kuasa menolak. Aku berpikir dalam hati, mungkin benar ongkos tadi terlalu banyak. Tapi aku kan sudah ikhlas. Mungkin beliau tidak enak hati dengan ongkos yang begitu banyak sehingga beliau harus menggantinya dengan cara mengantarku kembali.

Dalam perjalanan naik ojek dadakan ini, kami mengobrol dan berkenalan. Beliau bernama Aliyasa. Umurnya sekitar 50-an. Beliau menjadi staf TU di SMP N 4 batang sudah 15 tahun. Beliau bahkan mendo'akanku mudah-mudahan 1 orang yang diterima sebagai guru Bahasa Perancis adalah aku.
"Amiiiiin," kataku.Tak kusangka ada orang yang bersedia mendoakanku dengan begitu tulus. Bukan karena uang 50 ribu. Aku yakin itu.

Pada suatu hari Rabu tanggal 23 Desember 2009 pukul 09.00, saat aku sedang mengajar di kelas, tiba-tiba Bu Yani masuk kelasku tanpa permisi dan langsung menarik tanganku ke luar kelas. Aku dan para siswaku kaget. Aku ditarik sampai ruang guru. Ternyata di salah satu meja di ruang guru sudah dibuka koran "Suara Merdeka" dan ada sebuah nama yang sudah distabilo warna kuning dan itu adalah namaku.
"Alhamdulillaaaah," aku langsung sujud syukur. Aku diterima menjadi guru Bahasa Perancis SMA di Kabupaten Batang. Tak terasa air mataku meleleh.

"Selamat ya Pak," kata teman-temanku.


Minggu, 08 Februari 2015

UJIAN PRAKTIK

Hari ini, ujian praktik dimulai. Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok dan mengikuti 2 pelajaran praktik setiap hari. Jurusan IPA harus mengikuti ujian praktik Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Perancis, TIK, Pendidikan Agama, Olahraga dan Seni Budaya. Jurusan IPS hanya mengikuti ujian praktik Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, Bahasa Perancis, TIK, Pendidikan Agama, Olahraga dan Seni Budaya. Kulihat semua siswa sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian praktik tersebut. Bagi siswa yang mengikuti ujian praktik biologi, fisika, dan kimia, mereka harus menyiapkan bahan di laboratorium masing-masing. Bagi siswa yang mengikuti ujian praktik bahasa, bibir mereka nampak komat-kamit menghafalkan teks pidato drama dan presentasi. Bagi yang mengikuti ujian olahraga, mereka berkumpul di lapangan.

Hari pertama, Senin tanggal 9 Februari 2015, jadwal ujian praktik Bahasa Perancis adalah kelas XII IPS 3. Kelas ini juga dibagi menjadi 2 kelompok. Sesion pertama, pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.30: kelompok 1 mengikuti ujian praktik Bahasa Perancis dan kelompok 2 mengikuti praktik Seni Budaya. Pada pukul 07.00 anak-anak sudah siap di kelasnya. Aku harus mencari ruang kelas yang kosong untuk melakukan ujian praktik. kebetulan ruang kelas XII IPS 3 kosong. Semua siswa di luar ruangan. Mereka melakukan ujian praktik bergiliran satu per satu.

Selembar teks yang sudah diketik rapi dengan huruf Times New Roman ukuran 12 dikumpulkan dan mereka mempresentasikan tulisan tersebut tanpa teks. Beberapa siswa berhasil melakukannya dengan lancar. Beberapa siswa yang lain harus remidi dan menghafalkan ulang presentasinya. Masing-masing siswa menghabiskan rata-rata hanya 5 menit untuk mempresentasikan "wisata desa"nya dalam Bahasa Perancis.

Pukul 09.00, kelompok 1 telah selesai mengikuti ujian Bahasa Perancis. Sementara kelompok 2 masih mengikuti ujian Seni Budaya.

Pada pukul 10.00 sesion kedua dimulai. Kelompok 2 mengikuti ujian praktik Bahasa Perancis dan kelompok 1 mengikuti ujian praktik Seni Budaya. Sesion kedua berjalan lancar. Pada pukul 11.00 ujian praktik Bahasa Perancis usai.

Masih ada 6 hari lagi, ujian praktik Bahasa Perancis dilaksanakan. Aku harus menjaga kondisi tubuh dan stamina agar ujian praktik ini berjalan lancar.