(Seri ke-28)
Jumat, 12 Februari 2021
MOBIL JAMU KELILING
Rabu, 27 Januari 2021
BELAJAR MENGETIK
Gedung itu megah sekali. Jendelanya berkaca lebar-lebar dan bersih. Di depannya berjajar pot-pot berisi berbagai macam bunga. Bercat krem nampak bersih. Ada tiga anak tangga untuk memasukinya.
“Wow, gedung apa ini?”
Di depan pintu aku ternganga sementara anak-anak yang lain
berebut memasukinya. Kuikuti anak yang lain, masuk pelan-pelan sembari
mengamati pintu, gagang pintu, lantai, plafon, meja, kursi, dan mesin tik.
Hari ini aku akan belajar mengetik. Mesin tik, walaupun
sudah pernah kulihat di kelurahan tapi baru kali ini aku bisa menatapnya secara
langsung dan sebentar lagi menyentuhnya. Berbeda dengan mesin tik di kelurahan
yang hanya satu-satunya berada di meja Pak Carik berwarna abu-abu blutek, mesin
tik di ruangan ini banyak sekali berjajar di atas meja. Warnanya putih gading
dan mengkilap. Ini pasti mahal sekali. Pantas saja, sekolah menempatkan benda-benda
ini di ruangan yang begitu megah dan gedung ini di bangun di bagian depan
sekolah agar semua orang bisa berdecak kagum. Siapapun yang lewat di depan
sekolah dan sedikit berjinjit dapat melihat barang-barang mewah ini.
“Ayo, anak-anak hari ini kita akan praktik mengetik dengan
sepuluh jari,” teriak Pak Sudirman berdidi di depan. Kemudian beliau
menunjukkan papan tuts besar di dinding depan bagian atas yang berisi
huruf-huruf yang persis sama dengan yang ada di mesin tik. Rupanya itu adalah
gambar tuts mesin tik yang diperbesar.
“Siapkan jari-jari kalian di atas tuts,” lanjut Pak Sudirman
dengan suara khasnya.
Aku menempatkan jari-jariku di atas tuts mesin tik. Sedikit
gemetar. Dimulai dari jari kelingking tangan kiri yang harus kutempatkan di
atas huruf A. Kemudian jari manis kiri di atas huruf S, jari tengah kiri di
atas huruf D, jari telunjuk kiri di atas huruf F, jari telunjuk kanan di atas
huruf J, jari tengah kanan di atas huruf K, jari manis kanan di atas huruf L,
dan jari kelingking kanan di atas ;.
“Sekarang lihat ke depan, jangan lihat tutsnya.”
“Nanti kalau salah pegang gimana Pak?” Tanya salah satu
temanku.
“Rasakan jari telunjuk kanan dan kiri kalian. Di tuts huruf
F dan J ada jendulan kecil. Itu sebagai patokan agar jari kalian tidak
kelayaban ke mana-mana. Jari telunjuk kalian jangan sampai pergi dari tuts yang
ada jendulannya tersebut.”
Kuraba pelan dan kurasakan benar adanya. Ada jendulan kecil
di tuts huruf F dan J.
“Sekarang mulai. Tekan jari sesuai huruf yang saya
sebutkan,” kata Pak Sudirman.
Aku tertegun. Sebentar lagi aku akan mengoperasikan mesin
hebat ini. Sebuah mesin yang bisa menulis dengan rapi seperti di buku paket dan
lurus tanpa penggaris. Istimewa.
“A,” teriak Pak Sudirman.
“Tak..” suara serempak dari mesin tik-mesin tik berbarengan.
Aku tersentak, kaget dan bingung. Namun sekejap kemudian aku
menguasai keadaan, kemudian kupencet jari kelingking kiriku dengan keras “tak”.
Semua temanku menengok ke arahku.
“A,” teriak Pak Sudirman lagi.
Kali ini aku tak mau tetinggal. Kupencet jari kelingking
kiriku dengan semangat “tak”.
Pelajaran “A” diulang-ulang sampai 10 kali. Jari kelingking
kiriku sungguh pegal sebelum pindah ke huruf S dan seterusnya.
Pelajaran mengetik selesai. Sungguh indah pengalamanku hari
ini walaupun jari-jariku sakit semua.
Kamis, 21 Januari 2021
LEPEN PUCANG
Jumat, 01 Januari 2021
BATU TUNGGUL
Kenangan masa kecil yang tak terlupakan oleh anak-anakku ketika masih tinggal di Kebumen sepuluh tahun yang lalu adalah mencari "Batu Tunggul". Maka ketika mudik liburan semester gasal ke rumah simbah, mereka kembali mencari batu tunggul.
Batu tunggul adalah batu berbentuk berlian segi enam berukuran kecil dari 2 mm sampai 1 cm, tergantung besar kecilnya batu induk. Batu berbentuk berlian ini tidak sekeras, sekinclong dan semengkilap berlian. Warnanya putih kusam. Tapi bentuknya yang mirip berlian menjadi sumber mainan bagi anak-anak.
Batu induk tempat bersemayam batu tunggul ini adalah batu sungai-sungai yang bermuara dari pegununungan Karangsambung yang dikenal dengan situs batuan purbanya berada 20 km ke arah utara kota Kebumen. Batu induk ini mempunyai ciri khas totol-totol putih. Batu ini bisa berukuran sekepalan tangan atau lebih kecil. Bagi orang Kebumen dan sekitarnya, batuan ini digunakan sebagai bahan bangunan. Bagi anak-anak, sisa ayakan /sortiran batu yang terlalu besar dan mempunyai ciri seperti tersebut di atas menjadi sumber untuk diambil batu tunggulnya.
"Hore, aku dapat banyak batu tunggul," teriak anakku.
Cara mendapatkan batu tunggul ini adalah dengan cara memecahkan batu induknya dengan batu lain yang lebih besar. Di tengah-tengahnya, pasti terdapat batu tunggul. Batu tunggul ini lebih keras dari batu induknya. Jadi ketika batu induknya pecah, batu tunggul tidak ikut pecah dan seakan-akan terpisah dari dari batu induknya. Tak perlu diasah, batu tunggul ini sudah berbentuk berlian.
BERAS
"Dari desa ya oleh-olehnya beras," kata ibuku menyuruhku membawa beras berbobot kurang lebih 20 kg ketika aku harus kembali merantau setelah satu minggu mudik Tahun Baru ke desa untuk menengok orang tuaku.
"Terlalu banyak bu," kataku.
"Bisa untuk beberapa bulan," jawab ibuku.
"Kalau kelamaan malah mubadzir, nggak bisa dikonsumsi. Muncul kutu berasnya."
"Jangan khawatir, sudah ibu kasih daun jeruk. Nggak akan berkutu. Disimpan sampai setengah tahun juga aman," kata ibu.
Kulihat ada beberapa lembar daun jeruk yang sudah kering di permukaan beras.
"Kalau ingin beras menjadi awet, berilah daun jeruk di berasnya. Di lapisan paling bawah, kemudian beri daun jeruk lagi di lapisan beras kedua dan seterusnya. Tinggi setiap lapisan sekitar sepuluh centimeter," terang ibu.
"Daun jeruk kering?" tanyaku karena kulihat daun jeruknya sudah kering.
"Daun jeruk yang masih segar, masih hijau. Nanti kering sendiri kalau sudah lama di beras,"
Akhirnya kubawa beras tersebut ditambah setandan pisang, jeruk, dan sekarung ketela setelah kemarin kubawakan ibuku sekaleng Khong Guan.
Kamis, 24 Desember 2020
DURIAN
Musim durian telah tiba. Tempat nongkrong para penjual durian musiman telah ditempati. Salah satunya adalah di sebelah selatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kalisari Batang. Penjual dengan mobil bak terbuka ini adalah langgananku. Selain terkenal murah, penjualnya ahli dalam memilihkan durian yang manis, manis kepahit-pahitan, dan anyeb (tak manis).
"Ma, tadi di sebelah Rumah Sakit ada penjual durian langganan kita," kataku sesampaiku di rumah.
"Kok nggak beli?" tanya istriku.
"Nggak. Soalnya lupa nggak bawa HP," jawabku
"Apa hubungannya? Beli durian kan pakai duit?" istriku bingung.
"Soalnya nggak bisa mem-foto. Tak ada foto, status-ku kurang valid,"
"Niat makan durian atau niat bikin status?," kata istriku dengan muka dilipat-lipat. 🤕
TOTEBAG
"Maaf Pak, kami tidak menyediakan tas plastik. Kami menawarkan totebag. Silahkan bisa dipilih!" kata kasir di salah satu toko buku terbesar di Indonesia yang ada di Purwokerto.
Karena buku yang kami beli lumayan banyak dan tak mungkin kami tenteng dengan tangan, kami memilih salah satu totebag yang tersedia. Ada banyak tema gambar yang terdapat di totebag tersebut. Penghijauan, lingkungan hidup, pengelolaan sampah dan ikon kota Purwokerto. Kami memilih ikon kota Purwokerto yaitu Bawor, tokoh pewayangan bersenjata kudi yang hanya dimainkan pada pementasan wayang kulit di wilayah banyumas dan sekitarnya.
Tapi satu tas ini tidak mampu memuat buku yang kami beli. Akhirnya kami beli totebag lain bergambar masjid agung "Baitussalam" sebuah masjid yang berdiri megah di sebelah barat alun-alun Putwokerto.
Terus terang, buah tangan seperti inilah yang kami cari di Purwokerto, berupa benda yang bisa dipajang dan tahan lama walaupun hanya berupa totebag. Selama ini kami hanya membawa getuk goreng Sokaraja sebagai oleh-oleh yang sekali telan langsung habis tak berbekas.



