alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Kamis, 19 Maret 2015

PERTANYAAN TABU

Setelah salam pembuka dan apersepsi, aku memulai pelajaranku.

“Hari ini, kita akan membuat teks tentang memperkenalkan orang lain. Sekarang perkenalkan orang tua kalian, ayah dan ibu kalian. Mon pere s’appelle bla bla bla, Ma mere s’appelle bla bla bla. Umur mereka, il a bla bla bla ans dan elle a bla bla bla  ans. Jangan lupa sebutkan profesinya. Il est bla bla bla, elle est bla bla bla. Kemudian sebutkan penghasilan mereka. Il gagne bla bla bla rupiah par mois. Elle gagne bla bla bla rupiah par mois.”

Mereka semua diam tak menulis. Hanya saling tengok dengan temannya.

“Kenapa diam? Ayo ditulis!” suruhku

“Kata Bu Sosiologi, kita tidak boleh menanyakan umur dan profesi, penghasilan, berat badan dan sifat. Itu tidak sopan Pak,” katanya lagi
“Itu kan kalau baru kenal. Kalau sudah kenal ya boleh-boleh saja,” kataku membela diri.

Mereka diam dengan jawabanku. Kemudian ada salah satu anak yang berkata:

“Saya mau tanya boleh Pak?
“Boleh, silahkan? Jawabku
“Gaji Bapak per bulan berapa Pak?”

Aku terkejut dengan pertanyaan seperti itu. Aku bingung menjawabnya. Terus terang agak ragu untuk menjawabnya. Aku pikir ada benarnya juga kata Bu Sosiologi.

Sebenarnya aku akan menjawab: “Jangan tanya gaji lah. Nggak enak saya menjawabnya”, tapi pasti mereka akan berkata: “kan kita sudah kenal Pak” dan aku pasti dituduh tidak konsisten. Maka dengan berat hati dan demi mulusnya acara aku mengajar, aku menjawab juga.

“Gaji saya sekitar Rp. 3.000.000,-. Sekarang perkenalkan orang tua kalian masing-masing. Kerjakan,” perintahku
“Siap Pak,” jawab mereka


*)NB: bla bla bla maksudnya titik titik titik, diisi sesui dengan identitas masing-masing

Rabu, 18 Maret 2015

WISATA GALANGAN KAPAL

Sejak peristiwa demonstrasi nelayan tanggal 3 Maret 2015, nama "Batang" mulai muncul. Demonstrasi yang menuntut pembatalan pelarangan penggunaan cantrang itu menjadi heboh karena terjadi bentrok antara polisi dan nelayan serta perusakan sarana umum. Di mana-mana muncul #saveBatang menyaingi #saveKPK. Orang bertanya-tanya di mana Batang? mengapa demo nelayan juga terjadi di Batang? Apakah di Batang ada nelayan? ada ikan? ada cantrang? Orang sibuk browsing tentang Batang.

Kini, giliran pemerintah lah yang menangkap rasa penasaran ini. Pemerintah wajib mengkampanyekan dan mengangkat potensi Batang, pantai, nelayan, perikanan, cantrang dan industri yang sebenarnya sudah mendunia tapi masih tersembunyi yaitu galangan kapal. Batang adalah salah satu tempat pembuatan kapal kayu terbaik di Indonesia. Banyak perusahaan pembuatan / galangan kapal kayu yang berdiri di Batang. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak saja memproduksi kapal nelayan, tapi juga kapal penumpang dan kapal pesiar dari kayu dengan berbagai ukuran. Pembuatan kapal ini tidak hanya melayani kebutuhan lokal, tapi juga nasional dan internasional.

Dengan adanya potensi ini, aku usulkan kepada siapa saja yang membaca blog ini. Potensi galangan atau pembuatan kapal kayu jangan hanya menjadi milik para pengusaha kapal dan para tukang kayunya. Devisa atau hasil yang diperoleh bukan hanya dari penjualan kapal-kapal tersebut. Potensi galangan kapal bisa digunakan untuk wisata edukasi.  Wisata ini meliputi segala seluk beluk tentang pembuatan kapal kayu di Batang. Menarikkah? Pasti. Aku saja belum pernah melihat secara langsung cara membuat kapal yang sebenarnya. Dengan wisata ini,  para wisatawan berkesempatan melihat cara pembuatan kapal cara menjalankan /operasi kapal, beberapa jenis kapal yang diproduksi oleh galangan kapal di Batang, dan peralatan dan perlengkapan kapal /nelayan seperti cantrang, payang, dan sebagainya. Ketika wisatawan datang, pasti akan muncul beberapa usaha lainnya. Pedagang makanan minuman, pedagang oleh-oleh khas Batang, tukang parkir, pemandu wisata, dan sebagainya. Dan seperti di Hollywood, Amerika Serikat yang menyediakan kerajinan miniatur piala oscar, di Borobudur menyediakan miniatur candi borobudur, di Prambanan menyediakan miniatur candi prambanan, dan di monas menyediakan miniatur monas. Di Batang belum ada pembuat kerajinan miniatur kapal kayu. Nah, dengan wisata edukasi galangan kapal ini, potensi pembuatan kerajinan miniatur kapal kayu pasti akan muncul.

Wahai pemerintah, berilah sarana untuk wisata galangan kapal ini. Perbaikilah jalan menuju tempat-tempat galangan kapal, ajaklah para pengusaha kapal untuk menangkap potensi ini.

Wahai pengusaha kapal, bukalah perusahaan panjenengan semua, berilah kesempatan orang lain untuk menyaksikan pembuatan kapal-kapal di tempat panjenengan.

Wahai para pengusaha kuliner, pengusaha batik, pengusaha hotel, monggo bersama-sama memikirkan potensi Batang untuk wisata lokal dan internasional.

Wahai para pemuda, persiapkan diri Anda semua. Berpikir kreatiflah dengan potensi Anda di bidang ketrampilan, teknologi, kerajinan, kesenian dan lain-lain.

Wahai masyarakat Batang, tunjukkan potensi Anda semua. Tunjukkan keramahan Anda. Berilah kenyamanan dan keamanan kepada para tamu yang akan datang ke tempat Anda.

Begitu saja usulku. Semoga ada yang membaca kemudian mengusulkan kepada yang bersangkutan dan merealisasikan demi Batang yang lebih maju.

DIMANA BATANG?

“Bapak tinggal di mana?” tanya seseorang yang mengajakku berkenalan di Jakarta.
“Di Batang,” jawabku
“Sumatera ya?” kata dia
“Bukan, di Jawa Tengah,” jawabku lagi.
“Jawa Tengah? Di sebelah mana ya?” tanya dia kembali.
“Sebelah timur Pekalongan,” kataku sambil menyebut tetangga kabupaten yang lebih dulu terkenal dengan batiknya.
“Kecamatan ya?” tanya dia penasaran
“Bukan. Kabupaten tersendiri, Kabupaten Batang.”
“o...Saya baru tahu.”


Aduh, capek deh. Tapi aku  menarik nafas lega, akhirnya tempat tinggalku terdeteksi juga. Aku baru sadar ternyata tempat tinggalku belum dikenal orang, ternyata tempat tinggalku di wilayah antah berantah, entah dimana, bahkan mungkin belum muncul di peta, atau mungkin di planet lain. 

Omegat.

Selasa, 17 Maret 2015

PAK ROSIDI

Sore ini, ketika aku kembali lagi ke sekolah untuk melakukan absensi dengan finger print, kulihat Pak Rosidi sedang membersihkan tanaman di dalam pot. Beberapa pot tanaman dibersihkan, disiram dan dipupuk. Karena rasa cintanya pada tanaman, Pak Rosidi selalu merawat dan memantau perkembangan tanaman-tanaman miliknya yang telah disumbangkan ke sekolah. Salah satunya adalah pandan bali atau dragon blood tree. Tanaman yang bernama latin dracaena draco dan termasuk keluarga agavaceae ini sedang dibersihkan daun keringnya dan diberi tambahan pupuk.

"Kok belum pulang Pak?" sapaku
"Iya nih, mau nge-les-i anak," jawab beliau.
"Anak kelas berapa Pak?" tanyaku
"Kelas XII, itu sudah kumpul di mushola."
"Kok nggak di rumah saja Pak?" tanya Bu Tarmi yang sejak tadi juga ikut memperhatikan beliau membersihkan tanaman.
"Di rumah juga boleh. Di sekolah juga boleh. Semaunya anak saja Bu. Pokoknya 24 jam, kalau mereka mau, saya siap memberikan tambahan pelajaran matematika.

Aku tertegun dengan jawaban beliau. Kata-kata "24 jam" artinya beliau siap memberikan ilmunya untuk anak didiknya kapanpun. Inilah guru sejati. Guru yang benar-benar mendidik muridnya sepenuh jiwa tanpa kenal lelah, tanpa mengharap imbalan dan tentu saja tanpa tanda jasa. Ia hanya ingin anak didiknya bisa dan bisa.

Bapak berbintang cancer yang wajahnya mirip dengan Komisaris Jenderal Bahrodin Haiti dan sering dipanggil "Kak Ros" oleh rekan-rekan guru ini memang sangat mencintai matematika. Keilmuannya di bidang matematika tidak diragukan lagi. Beliau menguasai matematika dari hulu sampai ke hilir. Beliau selalu memberikan rumus-rumus praktis, ringan dan mudah kepada siapapun yang membutuhkan atau menanyakan. Akupun pernah diberikan rumus praktik kwadrat yang ternyata sangat berguna untuk anakku.

Pembawaannya yang kalem membuat murid-muridnya terkadang sembrono memanggilnya "Om". Tapi beliau tak marah dengan panggilan tersebut. Beliau hanya tersenyum.

Mudah-mudahan beliau selalu diberi kesehatan dan umur panjang sehingga ilmunya masih bisa ditularkan kepada semua orang.


Ini orang yang mirip dengan beliau

BERHENTI MEROKOK

1111 adalah sebuah angka cantik. 1-1-11 atau 1 Januari 2011 adalah salah satu tanggal yang bersejarah dalam hidupku.

Hampir 20 tahun, tepatnya mulai tahun 1993 aku tak bisa putus dari merokok. Alasan awal aku merokok adalah sosialisasi. Lingkungan dan teman-temanku merokok. Agar aku bisa luwes bergaul maka aku merokok. Awalnya pahit tapi lama-lama aku kecanduan. Setelah aku bisa merokok, rasa pede-ku tumbuh. Aku pun bisa lebih luwes bergaul. Setiap bertemu dengan teman, aku bisa menawarkan sesuatu yang pantas ditawarkan yaitu rokok. Rokok juga bisa untuk penanda sembuh dari sakit. Selama sakit, orang menjadi tak enak merokok. Kalau merokok sudah mulai enak berarti tanda-tanda sakitnya mulai sembuh.

Bertahun-tahun merokok membuat aku tak bisa lepas dari benda tersebut. Tiada hari tanpa rokok. Prinsipku, lebih baik tak makan dari pada tak merokok. Kegiatan harian yang wajib disertai rokok adalah nongkrong di toilet dan setelah makan. Ni’matul udud ba’da dahar.

Pernah beberapa kali ada keinginan untuk berhenti merokok karena batuk dan dada sesak. Tapi setelah batuk dan sesak didadaku sembuh, aku mulai merokok lagi. Bahkan setelah berumah tangga dan istriku memintaku untuk berhenti merokok, aku tak bisa. Mengurangi pun tidak.

Suatu saat aku ingin berhenti merokok karena dadaku kembali sesak. Kali ini agak parah dan agak lama. Tapi aku masih tak bisa menghentikan sama sekali. Aku hanya bertekad menguranginya. Untuk menetapkan tekadku, aku mengadakan perjanjian dengan anak pertamaku (8 th): kalau aku ketahuan merokok, anakku boleh menjewerku. Namun demikian, aku tak kapok. Aku lebih memilih dijewer oleh anakku daripada mematikan rokokku. Padahal dadaku dan nafasku sudah mengkip-mengkip. Aku tetap merokok.


Pada bulan Desember 2010, aku benar-benar bertekad menghentikan rokok. Alasannya bukan karena dadaku sesak tapi karena aku tak bisa membelikan susu untuk anakku (3 th). Mengerikan. Pada bulan itu, aku harus hutang ke tetangga untuk membeli susu untuk anakku. Kebutuhan susu untuk anakku adalah Rp. 200.000 per bulan, sementara aku merokok sehari 1 bungkus seharga Rp. 12.000,- atau Rp. 360.000 per bulan. Aku mencoba logis, dengan tak merokok, aku pasti bisa membelikan anakku susu. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 2011 aku berhenti merokok, sebuah perbuatan yang sangat berat. 2 bulan awal, aku menjadi setengah gila. Tapi ini harus kulakukan demi susu anakku. Aku hanya bisa mengambil hikmahnya saja: sebenarnya ini cara Tuhan menyelamatkan aku.

Sabtu, 14 Maret 2015

EVADIR

Evadir atau evaluasi diri adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menilai apakah perangkat, sarana dan kegiatan yang dilakukan olehnya memenuhi standar operasional pelaksanaan (SOP) guru atau belum. Ada 25 hal yang harus dinilai dan dievaluasi. Evaluasi diri kali ini adalah evaluasi terhadap pelaksanaan tugas guru pada semester yang lalu yaitu semester gasal tahun pelajaran 2014/2015.

Anehnya, evaluasi diri ini diuji bukan oleh diri guru sendiri tapi akan diuji atau dievaluasi pada hari Senin tanggal 16 Maret 2015 oleh pengawas sekolah. Pengawas sekolah akan memeriksa perangkat beserta bukti fisik dari 25 hal tersebut. Satu per satu guru akan ditanya dan harus bisa membuktikan terpenuhinya 25 hal tersebut beserta bukti fisiknya. Pada semester yang lalu aku sudah mengikuti evadir dan mendapatkan nilai C (artinya: Cukup memalukan).


Untuk itu, pada hari-hari ini aku dan semua guru sibuk menata, mencari, dan membuat bukti fisik mengenai tugas yang telah kami lakukan pada semester kemarin. Jurnal siswa, agenda mengajar, jurnal penilaian, remidial, pengayaan, jurnal siswa kami siapkan sebaik-baiknya. Beberapa kekurangan kami sempurnakan. Agenda harian, absensi siswa, soal ulangan harian, kisi-kisi, bukti hasil ulangan, analisis nilai, program remidial, dan program pengayaan, proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kami persiapkan sebaik-baiknya.


Dan demi nilai, aku mengerjakan evadir ini tidak hanya di rumah tapi juga di sekolah. Karena itu, maaf, beberapa hari ini aku tak mengajar di kelas.



Para siswa pasti senang.

BUDAYA MALU

Papan besar semacam billboard berukuran 1 x 2 meter terpasang di sebelah pintu masuk ruang guru. Di papan ini tertulis 11 budaya malu bagi aparatur pemerintah di Kabupaten Batang. Budaya malu yang ditulis berdasarkan SK Bupati Nomor 061/233/2014 ini setiap hari kulihat. 11 budaya malu tersebut adalah sebagai berikut :

1.         malu tidak menjaga nama baik dan korps aparatur pemerintah.
2.         malu untuk bekerja tanpa program.
3.         malu bekerja tanpa pertanggungjawaban.
4.         malu pekerjaan terbengkalai.
5.         malu sering tak masuk kerja tanpa alasan.
6.         malu sering minta ijin tidak masuk kerja.
7.         malu sering meninggalkan kerja tanpa alasan penting.
8.         malu terlambat masuk kantor.
9.         malu tidak ikut apel.
10.      malu pulang sebelum waktunya.
11.      malu berpakaian seragam rapi dan tanpa atribut lengkap.

Dengan 11 budaya malu ini diharapkan bisa mendorong PNS untuk menjadi lebih baik.

Namun, terus terang saja, selama ini aku hanya melihatnya. Tadi aku baru membacanya secara detail karena aku akan menuliskan 11 budaya malu itu di blog ini.

Aku jadi malu.