alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Selasa, 15 November 2022

KARTU ULANG TAHUN XI MIPA 3

 



































































Hari ini, siswa kelas XI MIPA 3 membuat kartu ulang tahun dalam Bahasa Prancis menggunakan kertas lipat dengan hiasannya dari berbagai bahan.

"Kalian kok kreatif sekali. Kartunya bagus-bagus,"

"Iya dong," jawab salah satu siswa.

"Kalian senang dengan pelajaran Bahasa Prancis?" tanyaku.

"Senang kalau belajarnya seperti ini karena kami bisa mengekspresikan semua kemampuan kami, menggunting, mewarnai, membuat puisi dan lain-lain."


"Iya karena kalian belajar sambil bermain juga."

Sabtu, 05 November 2022

KELAS HOROR



Mengajar pada jam terakhir (14.00-15.30) memang membutuhkan ekstra energy. Tenaga lelah dan mata mengantuk yang menyerangku didukung sepenuhnya dengan kondisi kelas yang sama sekali tak ada semangat. Imun para siswa turun drastis setelah menempuh pembelajaran sejak pukul 07.00. Mata sayu, dandanan sudah kocar-kacir, rambut acak-acakan, aroma keringat yang dilapisi bau deodorant tidak menghilangkan aroma sesungguhnya dan kepala digeletakkan di atas meja.


"Ngantuk Pak," celetuk salah satu siswa.

"Capek Pak," celetuk yang lain.


Aku tak bisa membantah kata-kata mereka.


"Ayo semangat. Sebentar lagi pulang," kataku memberi semangat yang tak berguna sama sekali.


Kubiarkan mereka dalam kondisi kritisnya.


"Saya panggil nama kalian satu per satu boleh? Siapa tahu ada do'a di antara nama kalian yang terkabulkan," tanyaku setiap aku akan mengabsen.

"Boleh Pak," jawab mereka tak semangat.


Aku memanggil mereka satu per satu tentu saja sambil memberi semangat ulang supaya jiwa mereka terpanggil untuk mengikuti pelajaranku di jam terakhir ini.


Panggilanku sampai kepada "B", ketika mereka menjawab bahwa "B" tidak masuk karena sakit.


"Ada yang tahu sakit apa B ini?" tanyaku. Setiap ada yang sakit pasti kutanyakan sakitnya dan bagaimana kondisinya sekarang. Selain karena ingin tahu, ini memancing teman-temannya supaya mengetahui kondisi temannya, berempati, lalu menjanguknya atau mendoakannya.

"Itu ada suratnya Pak, di atas meja," jawab salah satu siswa.


Kubuka surat dengan amplop dari rumah sakit yang menerangkan B tengah menjalani rawat inap.


"Sudah lima hari B sakit?"

"Iya Pak," jawab salah satu siswa.

"Sakit apa?"

"Co*i* Pak."

"Ha? What? Apa?"


Aku kaget bukan kepalang. Jantungku tiba-tiba berdegub kencang.


"Iya Pak, beneran."


Entah apa yang terjadi dengan wajahku. Mungkin pucat. Dan kulihat siswa-siswa dengan tenang dan tidak bersemangat masih menyandarkan kepala mereka di atas meja.


"Hei..hei..hei. Kalian emang ya,"

"Ada apa Pak?"

"Teman kalian kena co*i*, kenapa kalian tenang-tenang saja? Bukankah sebelumnya B bersama kalian? Kalian tidak takut? Tidak khawatir tertular?"

"Tidak boleh takut dan tidak boleh panik. Nanti imunnya turun. Malah tertular," jawab mereka dengan tenang.

"Iya betul tapi kenapa kalian tidak ada usaha sama sekali untuk menghindarinya. Kalian tak ada yang memakai masker. Wah... Kalian emang ya,"

"Pengap Pak," jawab mereka.

"Ya Tuhan... Tapi kan ini darurat. Demi kesehatan kalian. Ayo pakai masker kalian!" suruhku.

"Nggak mau Pak. Sudah biasa nggak pakai masker. Pengap. Nanti kekurangan oksigen. Malah sakit."


Aku tak bisa berbuat apa pun. Masker yang sejak tadi menempel di wajahku ku tarik ke atas untuk memastikan hidungku tertutupi. Tiba-tiba aku merasa kelas ini demikian horor dan begitu menakutkan. Dan aku sekarang berada di dalamnya. Huft.


Kulanjutkan mengabsen sampai selesai.


"Pak, AG sakit Pak," lapor salah satu siswa dari belakang.

"Minta surat ijin pulang sekarang,"

"Tanggung Pak, sebentar lagi juga pulang," jawab AG.

"Iya.  Tapi.... Ya sudah kamu istirahat saja di belakang," kataku.

Di bagian belakang ada tikar yang biasa digunakan siswa untuk sholat atau sekedar makan siang ketika istirahat siang.


"Huk..huk..huk," tiba-tiba ada siswa yang batuk.

"Kamu kenapa?"

"Batuk pilek Pak. Sudah dua hari nggak sembuh-sembuh," jawabnya.

"Kenapa nggak ijin saja. Istirahat di rumah?" tanyaku.

"Nanti ketinggalan pelajaran Pak,"

"Ya Tuhan.." perasaanku semakin tidak enak. 


Suasana kelas ini semakin mengerikan. Aku semakin panik. Gila. Kenapa aku berada di kelas ini? Ya Tuhan, lindungilah aku.


Dan hari ini adalah ulangan lisan. Setiap siswa harus melakukan presentasi satu per satu. Seharusnya di depanku.


"Presentasinya di depan papan tulis." kataku.

"Nanti Bapak nggak mendengar," protes salah satu siswa.

"Suaranya yang keras," sanggahku tak kurang akal.


Kupanggil satu per satu untuk melaksanakan presentasi. Dan mereka satu per satu maju ke depan papan tulis.


"Pak, lihat nilainya dong," kata salah satu siswa mendekatiku setelah selesai presentasi.

"Tidak boleh. Khusus hari ini nilai bersifat rahasia," kataku.

"Yacch," gerutunya.


Bel berbunyi tepat beberapa saat setelah ulangan lisan selesai.


"Silakan bersiap-siap lalu berdoa," kataku.


Mereka memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Daaaannn....memakai masker. Ya Tuhan, manusia macam apa mereka?


"Hei kalian sejak tadi disuruh memakai masker, tidak mau. Kenapa sekarang memakai masker?" teriakku.

"Kan di jalan banyak debu Pak," jawab mereka.

"Astaghfirullah.." kataku sambil mengelus dada.


Mereka berdoa membaca surat "Al 'asr" dan doa penutup majelis. 


Sebelum mereka selesai berdoa. aku telah berdiri di depan pintu.


"Merci beaucoup. Au revoir. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh," kataku setelah mereka selesai membaca doa untuk mengakhiri pembelajaran siang ini. Aku bersiap untuk kabur secepat kilat.


"Pak, salim Pak," teriak salah satu siswa.


"Tidaaak," teriakku segera melarikan diri.


Rabu, 02 November 2022

HUKUMAN JAMAN SEKARANG

 



Era pendidikan sekarang sudah berbeda dengan jaman dahulu. Scoring, sanksi dan hukuman sudah tidak berlaku lagi. Sekolah sekarang harus menjadi sekolah yang ramah anak, ramah siswa, ramah tamu, dan ramah-ramah yang lain dengan mengutamakan 5 S, Senyum Sapa Salam Sopan dan Santun. Budaya positif tetap harus diutamakan. 


Penegakan tata tertib dan pelanggaran terhadap tata tertib diselesaikan dengan diskusi, nasehat, perhatian dan kesepakatan.


Dulu, kesalahan dihukum dilakukan secara otoriter dengan hukuman fisik yang keras, misalnya dilempar penghapus (dulu pengapusnya terbuat dari kayu yang berkualitas, keras dan berat semacam kayu jati, bukan kayu ecek-ecek). Bisa dibayangkan jika penghapus mengenai jidat. Sakitnya lahir batin. Tiga hari tidak akan sembuh nonongnya. Penghapus sekarang terbuat plastik, ringan dan lembut, ketika dilempar akan melayang meliuk-liuk dan mendarat dengan lembut. Jadi, hukuman lempar penghapus, bukan sesuatu yang "wah" lagi. Hukuman lempar penghapus sudah tidak relevan di jaman sekarang.


Karena hukuman harus diselesaikan dengan kesepakatan, maka aku dan siswa di kelas harus bersepakat. Kami harus menyepakati hukuman apa yang relevan sebagai pengganti lempar penghapus untuk melempar jidat siswa: lempar handphone? lempar laptop? lempar meja? Lempar kursi? lempar mantan?lempar manusia tak berguna? atau yang lain?


Mari kita bersepakat.

Kamis, 27 Oktober 2022

FUTSAL

 



Untuk memeriahkan pertandingan futsal antar kelas dalam rangkaian ASG (Alaska School Game), diadakan pertandingan futsal antar guru dan staf TU (laki-laki). Dua puluh sembilan guru dan staf TU laki-laki dibagi menjadi 2 team yaitu team merah dan team putih. Masing-masing beranggotakan 14 dan 15 orang. Tersedia banyak cadangan untuk bergantian bermain. Aku berada di team merah. Setelah ratusan purnama, baru kali ini aku.kembali bermain bola.


Pengalamanku sebagai kiper (penjaga gawang) kesebelasan Wahid Hasyim sewaktu masih kuliah di Jogja, membuatku tetap memilih posisi sebagai penjaga gawang. 


"Penjaga gawang itu santai, tidak banyak mengeluarkan tenaga dan keringat," anganku.


Pukul 13.30, pertandingan pun dimulai. Menggunakan lapangan basket yang untuk srmentara disulap menjadi lapangan futsal, panas terasa menyengat. Permukaan lantai masih panas, sementara mendung yang biasanya datang setelah dhuhur, kali ini seakan enggan untuk mendekat.


Namun demikian untuk menjaga supremasi team merah, aku tetap bertahan di bawah sengatan matahari. Pertandingan berlangsung seru tapi teamku lebih sering terdesak. Aku pun mati-matian menjaga gawangku jangan sampai kebobolan. Aku pontang-panting, berlari, menubruk, dan meloncat untuk menyelamatkan gawangku. Tidak seperti perkiraan awal, aku tak bisa santai. Dan akhirnya, gempuran lawan membuat gawangku kebobolan 4 goal.


Malam harinya, tubuhku terasa remuk redam, tulang linu-linu, otot kaku dan pegal-pegal.


"Makanya, nggak usah aneh-aneh Pa. Ingat umur. Bukannya sehat malah sakit," kata istriku.

Senin, 24 Oktober 2022

SRIKAYA

 




"Ayo murah. Hanya dua puluh lima ribu rupiah per kilo. Besar-besar," teriak Bu Yanti menawarkan Srikaya hasil kebunnya.


Srikayanya besar-besar. Dengan kulit warna kuning.


""Hari ini hanya bawa lima buah. Yang mau beli, silahkan pesan dulu. Minggu depan sudah panen," imbuh Bu Yanti.


Srikaya (annona squamosa) adalah salah satu tanaman semak yang buahnya banyak menganfung zat besi. Sedangkan bijinya dapat digunakan sebagai pestisida alami dan pemberantas kutu rambut. Makanya, jangan sekali-kali mengunyah biji srikaya. Bukannya kenyang, kau akan keracunan. Tapi kalau ditelan tanpa dikunyah, biji srikaya akan tetap utuh dan keluar bersama kotoran. Semacam kopi yang ditelan oleh luwak dan menjadi kopi luwak. Siapa tahu bisa dibuat menjadi kopi biji srikaya. Coba saja.


"Saya pesan satu kilo Bu," kataku.


Banyak ibu-ibu yang ikut memesan Srikaya. Bu Yanti nampak sibuk mencatat pesanan. Namun, karena aku pesan paling awal, aku tidak perlu menunggu satu minggu lagi. Aku diberi tiga buah Srikaya yang sudah dibawanya.


"Ini satu kilo Bu?" tanyaku.

"Kurang lebihnya satu kilo," jawab beliau sambil menimbang-nimbang tiga buah Srikaya itu dengan tangannya.


Aku tak mau protes dan percaya saja dengan timbangan manual tangannya. Kuberikan uang dua puluh lima ribu rupiah sebagai tanda sah pembayaran atas satu kilo srikaya.


Tak mau rugi, sampai rumah kutimbang srikaya tersebut.


"Jangan-jangan kurang dari satu kilo," batinku.


Akan kuprotes seandainya timbangannya sampai kurang dari 1 kg. Akan kuurus sampai ke ujung langit atas ketidaksesuaian ini.


Dengan penuh hati-hati kuambil timbangan dan kuletakkan 3 buah srikaya tersebut di atas timbangan. Ternyata hasilnya adalah 1,25 kilogram. 


Kali ini, aku jadi ragu-ragu untuk mengurus ketidaksesuaian hasil timbangan ini kepada Bu Yanti.

Sabtu, 22 Oktober 2022

LESTI HARUS BERLATIH SILAT



Menanggapi isu KDRT yang melibatkan Lesti Kejora dan Rizky Billar yang berseliweran di Tik Tok dan group WA, istriku gemas dengan kelakuan suami yang suka menganiaya istrinya. 


"Lesti seharusnya berlatih silat. Biar bisa menghadapi suami yang suka bertindak sewenang-wenang," gerutu istriku.

"Ma, kekuatan perempuan itu seberapa sih untuk menghadapi laki-laki?" sanggahku.

"Setidaknya bisa untuk membela diri," katanya ngotot.

"Tetap kalah Ma," kataku.

"Eh, kalau sudah tahu kelemahan laki-laki pasti bisa menang. Tinggal ditendang. Ciaat duk," ujar istriku.

"Laki-laki juga sudah tahu kelemahannya sendiri. Tinggal ditutupi pakai mangkuk. Aman."

"Kan tidak semua laki-laki tahu," kata istriku ngeyel.

"Sudah tahu semua Ma," kataku.

"Pokoknya Lesti harus belajar silat."


"Nggak perlu Ma. Lihat berita tuh. Lesti sudah mencabut laporan sambil nangis-nangis. Sudah damai," terangku.


"Berarti ada kesempatan Lesti belajar silat. Ciaat," kata istriku sambil memperagakan kakinya menendang.


"Sabar Ma. Sebentar, kuambil mangkuk dulu,"


#) foto hanya pemanis

HARI CUCI TANGAN PAKAI SABUN SEDUNIA

 


Hari cuci tangan pakai sabun sedunia yang jatuh pada tanggal 15 Oktober 2022 diperingati pada hari ini.


Setelah upacara, semua siswa, guru dan staf Tata Usaha diharuskan mencuci tangan memakai sabun terlebih dahulu sebelum memasuki ruang kelas. Ada lebih dari 850 siswa dan 70 guru dan staf TU. Mereka harus mencuci tangan dalam waktu bersamaan. Sabun telah disiapkan di setiap westafel yang ada di depan kelas. 


Aku hanya membayangkan betapa banyak air dan sabun yang dipakai untuk mencuci tangan. Ini baru di SMAN 2 Batang. Lha kalau sedunia, apa nggak banjir gara-gara semua orang cuci tangan?


Satu per satu mereka mengantre untuk mencuci tangan. Belum ada separoh siswa yang mencuci tangan ketika ada teriakan dari salah seorang siswa.


"Airnya habis."