alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Minggu, 20 November 2016

SEKOLAHKU JUARA VOLLEYBALL

Walaupun aku bukan anggota tim volleyball sekolahku dan aku tidak bisa menyaksikan secara langsung pertandingan mereka, aku tetap memantau pertandingan tersebut melalui siaran langsung yang disiarkan oleh Bu Edi (salah satu official) melalui group WA. Detik demi detik, jam demi jam, siaran langsung masih saja mengudara. Artinya, tim volleyball sekolahku masih terus bertanding melewati babak demi babak. Bahkan sampai sore masih ada siaran langsung.

Ternyata benar, Tim volley putri berhasil meraih juara 1 dan tim putra meraih juara 3.

Wuih...bangga tenan aku.

Tim putra : Pak Habibi, Pak Lani, Mas Seto, Pak Edi, Pak Arif, Pak Aji, Pak Prapto, Pak Harjo.
Tim Putri : Bu Ari, Bu Us, Bu Maryati, Bu Nanin, Bu Nia, Bu Titin, Bu Tri, Bu Hanjar, Mba Leni.

Official : Bu Edi, Bu Yeni, Pak Nurrochim, dkk
Pelatih : para siswa

ini lho pialanya.....!!
(beserta amplopnya)

NONTON BARENG

Dalam rangka memperingati HUT PGRI ke-71, maka pada hari Sabtu, 19 November 2016 diadakan pertandingan volleyball guru antar sekolah. Sekolahku mengeluarkan tim putra dan putri. Pertandingan volleyball dimulai pada pukul 08.00. Karena harus bertanding maka guru yang tergabung dalam tim volleyball tidak bisa mengajar dan harus memberikan tugas untuk siswanya. Karena aku tidak termasuk anggota tim, maka aku harus tetap di sekolah untuk melaksanakan tugasku yaitu mengajar.

Jam 1-2 Kegiatan Belajar Mengajar berjalan lancar. Pada saat pergantian jam ke-3 dan aku bersiap mengajar di kelas XII MIIA 3. Kulihat siswa-siswa kelas XII IIS 4 berjalan beriringan sambil membawa tas masing-masing.

“Pada mau kemana kalian?” tanyaku
“Disuruh jadi suporter Pak?” jawab salah satu siswa
“Nanti jam ke 5-6, saya kan mengajar di kelas kalian,”
“Iya Pak. Selamat mengajar kelas kosong,” jawabnya sambil tertawa bahagia.

Setelah kukonfirmasi ke beberapa guru, ternyata benar ada perintah untuk mengirim 2 kelas untuk menjadi suporter. Baiklah, aku merelakan mereka.

Aku melangkah menuju kelas XII MIIA 3. Kulihat banyak siswa berada di luar kelas, bahkan ada yang sudah nyangklong tas di punggungnya.

“Pak, jangan mengajar ya. Yang lain pada pulang nonton volley,” cegat mereka di depan pintu.
“Itu hanya 2 kelas yang disuruh untuk menjadi suporter,” jawabku
Nggak adil Pak. Kok bukan kami yang disuruh jadi suporter,”
“Yang disuruh adalah mereka yang heboh dan suaranya keras. Kalian kan siswa-siswa yang tenang dan lembut,” jelasku merayu.
“Tapi jangan pelajaran ya Pak!” desak mereka
“Kalau nggak pelajaran mau ngapain?” tanyaku
“Cerita-cerita saja Pak,” usul salah satu siswa
“Nonton film saja Pak,” usul siswa yang lain.
“Ayo masuk dulu,” kataku

Mereka menuruti permintaanku untuk masuk kelas. Tapi kondisi kelas tidak kondusif. Mereka namaka gelisah dan tak bisa diam. Kelas sebelah kosong dan siswanya berada di luar kelas. Para siswa kelas-kelas yang lain juga banyak yang di luar. Bahkan satu siswa kelasku berhasil melarikan diri turut menjadi suporter.

“Baiklah kita nonton film bersama ya! Saya ambil laptop dulu” kataku
“horeeee,” teriak mereka serempak.

Aku mengambil laptopku di ruang guru dan segera kembali ke kelas. LCD dan laptop dinyalakan.

“Mau film apa?” tantangku
“Horor Pak,”
“Komedi Pak,”
“Perang Pak,”

Akhirnya kupilih sebuah film Indonesia dengan judul “guruku”.

15 menit pertama, para siswa masih gelisah. Pada menit ke 30, terlihat dari jendela siswa kelas lain melintas sambil membawa tasnya masing-masing.

“Pak, pulang Pak,” kata salah satu siswa
“Saya tidak berani memulangkan kalian. Ayolah, katanya nonton film,” desakku

Mereka tak berkutik. Menit-menit selanjutnya, mereka mulai tenang dan mulai menikmati alur ceritanya. Mereka sudah tidak mempedulikan kondisi di luar kelas dan fokus kepada film di depan mereka. Film ini menampilkan tokoh utama Pak Fajar, seorang guru honorer. Kehidupannya yang sederhana, bahkan bisa dikatakan kekurangan tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi guru yang mencintai ilmu dan siswanya. Kondisi anaknya tidak bisa sekolah dan harus ngojek tidak juga membuatnya tergiur dengan uang sogokan. Slogan “rawe-rawe rantas malang-malang putung” telah banyak menginspirasi siswanya. Metode mengajarnya yang memanfaatkan kondisi lingkungan dan out of the box banyak menuai kontroversi di kalangan guru yang lain dan kepala sekolah walaupun banyak mendapat dukungan dari siswa. Bahkan, ia bergeming memegang prinsip hidupnya walaupun harus dikeluarkan sebagai guru. Film ini berakhir dengan kematian tokoh utama.

Film yang diproduksi oleh Bintang pratama Entertainment bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali, SMPN 1 Boyolali dan SMAN 1 Boyolali yang berdurasi kurang lebih 112 menit ini sangat menyentuh perasaan.

Aku ikut terbawa emosi. Ku-shutdown laptopku dan kumatikan LCD. Aku tak mampu lagi bicara banyak.

“Semoga menginspirasi. Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh”

Para siswa menjawab dengan lirih: wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokaatuh. Aku segera keluar kelas dan ternyata sekolah telah lengang. Siswa-siswaku masih belum beranjak dari dalam kelas. Sebagian di antara mereka masih larut dalam isak tangis. 

Senin, 14 November 2016

PAK BAHRUDIN JADI MANTEN

Bikin Patah Hati
“Pak Bahrudin menikah? Ya Tuhan, kenapa harus menikah?” kata salah satu siswa kemudian terdiam lama dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tak percaya. Putus harapanku,” kata siswa yang lain

Sejak terdengar kabar bahwa Pak Bahrudin mau menikah, banyak siswa perempuan merasa patah hati, putus harapan, kecewa, speachless, terbata-bata, terhuyung-huyung, termehek-mehek, dan tak percaya. Untung tak sampai bunuh diri.

Bagaimanapun, Pak Bahrudin adalah guru muda idola para siswa. Beliau adalah salah satu guru Pendidikan Agama Islam di sekolahku. Wajahnya yang ganteng serta pembawaannya yang cool, ramah dan penuh senyum membuat semua orang terpesona. Para siswa, terutama siswa perempuan sangat megidolakannya. Tentu saja sambil berharap.

Undangan
Aku sudah menerima undangannya sejak hari Rabu. Di dalam undangan tertera acara pernikahan yang akan dilaksanakan pada hari Sabut tanggal 12 Nopember 2016. Akad nikah akan dilaksanakan pada pukul 09.00 sedangkan tasyakuran akan dilaksanakan pada pukul 13.00 s/d selesai. Semua acara dilaksanakan di rumah mempelai wanita.

Untuk menindaklanjuti undangan ini, Pak Taufiq selaku Waka Humas merencanakan acara kondangan. Perjalanan direncanakan menggunakan kendaraan yang dimiliki oleh guru dan karyawan. Ada 8 mobil yang direncanakan akan berangkat, termasuk mobilku.

Waka kurikulum juga telah mengatur jadwal pembelajaran untuk hari Sabtu dengan pola waktu 30 menit per mata pelajaran. Jadi, pembelajaran hanya sampai pukul 11.45.

Tertinggal Rombongan
Ini salahku. Rombongan kondangan ke pernikahan Pak Bahrudin sudah berangkat pada pukul 12.15 dari sekolah. Namun aku harus pulang terlebih dahulu untuk mengambil mobil. Aku juga tak bisa langsung kembali ke sekolah. Perutku menuntut aku pergi ke toilet. Aku menurutinya. Akhirnya, aku terlambat kembali ke sekolah. Tujuh mobil lainnya sudah berangkat. Untungnya, anggota rombonganku, Pak Kas, Pak Harjo dan Pak Ros masih setia menungguku.

Pukul 12.40 aku start dari sekolah menuju ke Ampelgading, Pemalang, ke rumah mba Weni, sang mempelai wanita. Walaupun sudah kuusahakan untuk ngebut sepanjang jalan pantura, tak ada mobil rombongan sekolahku yang bisa kusalip. Ya pastilah, aku sudah telat sekali.

Sesuai dengan petunjuk dari Pak Bahrudin, setelah jembatan Comal, aku belok kiri.

“Alamat lengkapnya mana nih?” tanyaku kepada Pak Kas di sampingku.
“Waduh. Undangannya nggak dibawa, ada yang bawa undangannya?” Pak Kas bertanya balik ke Pak Ros dan Pak harjo.
“Tidak ada Pak,” jawab mereka berdua serempak.

Malheureusement alias apes. Aku hanya hafal nama desanya yaitu Ampelgading, kecamatan Ampelgading. Bagaimana ini?

Aku tidak tahu Rt Rw-nya dan nama orang tua mempelai putrinya. Padahal inilah yang paling penting. Akhirnya, dengan mengandalkan insting seorang supir, aku melanjutkan perjalanan. Ampelgading adalah nama desa sekaligus kecamatan. Artinya, desa ini adalah ibukota kecamatan. Menurut pendapatku, sebuah ibukota kecamatan pasti dihubungkan dengan jalan utama antar kecamatan. Maka, kesimpulanku adalah jalan menuju Ampelgading pastilah jalan yang paling bagus.

Tanpa bertanya, aku mengikuti jalan yang paling bagus dan mulus. Jalan jelek abaikan.

Dugaanku tepat. Setelah sekitar 15 menit, kami memasuki desa Ampel gading. Nah, sekarang tinggal mencari rumahnya. Sekali lagi, kami tak punya petunjuk apapun. Untuk itu, kami sepakat untuk mencari tanda-tanda hajatan perkawinan: janur kuning. Alhamdulillah, tak jauh dari perbatasan desa, kami sudah menemukan penjor (janur hias) di tepi jalan. Kami dekati janur tersebut. Di tiangnya yang terbuat dari bambu terdapat selembar tulisan : Bahrudin & Weni.

Hore. Seperti orang menang lotere, aku tertawa sambil berteriak “Yes”.

Kuparkir mobilnya di pekarangan kosong. Kami turun. Tapi kami belum yakin. Jangan-jangan ada Bahrudin dan Weni yang lain. Kami memasuki pintu gerbang rumah pengantin dengan was-was. Langkah pertama, sebelum memasukkan amplop kondangan de dalam tempat amplop, kami bertanya untuk meyakinkan bahwa ini adalah tempat pernikahan Pak Bahrudin teman kami. Setelah yakin, kami baru berani memasukkan amplop ke tempatnya. Tentu saja, kami tak lupa mengisi buku tamu.  Lebih yakin lagi, kami disambut langsung oleh Pak Bahrudin yang sudah berbalut busana pengantin. Dan kami tidak menyia-nyiakan moment ini. Kami berfoto-foto dengan riang gembira.

Pertama
Setelah duduk, minum dan menikmati hidangan, perasaanku agak aneh. Kemana rombongan 7 mobil yang di depanku? Mereka belum datang. Ternyata, rombonganku datang pertama. Aneh.
Seperempat jam kemudian, mereka baru muncul.

“Kok baru datang?” tanyaku kepada mereka.
“Kesasar ke hajatan pernikahan orang,” jawab salah satu dari mereka.
“Wah sudah kenyang dong?” kataku
“Lha untung belum masuk. Jadi amplopnya masih utuh hehe,” jawabnya dengan wajah memelas tapi kemudian tersenyum bahagia.

Acara dimulai
Prosesi pernikahan adat Jawa ini baru dimulai pada pukul 13.30. Acara ini dibuka dengan tari gambyong. Acara sesungguhnya diawali dengan cucuk lampah yang diiringi tembang dandanggulo oleh pranoto coro. Pengantin wanita diapit oleh wali terlebih dahulu menuju ke pelaminan. Menunggu pengantin pria yang datang belakangan. Acara dilanjutkan dengan lempar-lemparan daun sirih, injak telur dan tumplek punjen yaitu menumpahkan beras kuning dari selembar kain oleh pengantin pria dan diterima oleh pengantin wanita dengan selembar kain pula. Kemudian, sungkeman kepada kedua orang tua pengantin pria dan wanita diiringi tembang Asmaradana. Dilanjutkan acara srah-srahan dari pihak pengantin pria kepada pihak pengantin wanita.

Tari Bajidor Kahot
Setelah srah-srahan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tari Bajidor Kahot. Tari ini merupakan tari kreasi baru yang diciptakan pada tahun 2000. Tari yang mempunyai unsur gerakan dari Sunda, Betawi, Jawa, Bali dan biasanya ditarikan oleh 6-8 penari, kali ini hanya ditarikan oleh 1 orang penari. Diiringi dengan gamelan dan tembang khas pasundan, sang penari bergerak meliuk-liuk di panggung, lengan, bahu dan kepala secara dinamis tepat di depan pengantin. Gerakan pinggulnya menghentak-hentak mengikuti irama kendang. Kuperhatikan pengantin pria sama sekali tidak memperhatikan sang penari yang seksi, energik dan anggun ini. Pak Bahrudin lebih banyak menundukkan kepala. Tidak elok tentunya atau mungkin nggak enak hati sama istri barunya.

Sembari menyaksikan tari ini, para tamu dipersilahkan mengambil hidangan makan secara prasmanan.

Kirab dan Pamitan
Setelah tari Bajidor Kahot ini selesai, kedua pengantin turun panggung untuk berganti pakaian. Acara ini disebut kirab. Memanfaatkan acara turun panggung ini, kami berpamitan kepada pengantin. Acara salam-salaman berlangsung di rumah, tidak di panggung sebagaimana mestinya karena hari sudah sore.


Selamat menjalankan hidup baru Pak Bahrudin dan Mba Weni. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah dan Rohmah. Barokalohu lakuma wa baroka ‘alaikuma. Wa jama'a bainakuma fii khoir.









Senin, 07 November 2016

DILARANG KELUAR SEBELUM WAKTU HABIS

Waktu menunjukkan pukul 06.15 WIB. Try out ujian nasional 1 untuk kelas XII baru berjalan 15 menit, tiba-tiba Mba Desi, salah seorang staf Tata Usaha masuk ruanganku sambil membawa selembar kertas.

“Tolong diumumkan Pak,” kata Mba Desi

Kubaca sebentar tulisannya: “Peserta tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan sebelum waktu habis. Sesuai dengan Tata Tertib Peserta nomor 16". Tanpa banyak tanya, aku segera membacakan tulisan tersebut.

“Aghhh,” sambut para peserta try out riuh.

Aku tak menanggapi keriuhan para peserta try out tersebut. Mba Desi segera keluar membawa selebaran tersebut utuk diumumkan ke ruang berikutnya. Aku kembali duduk di kursi pengawas. Suasana yang masih pagi, dingin dan hening Aku memilih untuk mengobrol dengan Bu Tarmi, rekan pengawas.

Waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB.
Aku berkeliling ruangan untuk memeriksa kartu peserta satu per satu.

“Sudah selesai?” tanyaku kepada salah satu peserta.
“Sudah Pak,” jawabnya

Nah, sekarang, aku baru tersadar. Kata-kata yang biasanya aku ucapkan setelah mendengar jawaban ini adalah : “Ya sudah dikumpulkan kemudian keluar”. Namun kali ini, kata-kata tersebut tak sempat keluar dari mulutku karena aku teringat selebaran yang dibawa Mba Desi tadi.

“Capek Pak duduk terus,” kata peserta tadi.
“Kan sudah aturannya seperti itu. Tidak boleh kelur sebelum waktu habis,” kataku

Tapi aku penasaran mengapa aturan itu harus dipertegas kembali dan diperketat. Padahal aturan ini biasanya relatif fleksibel. Peserta try out yang sudah selesai mengerjakan soal diperbolehkan untuk keluar. Ada apa ini?

“Kenapa bu, kok mereka tidak boleh keluar sebelum waktu habis?” tanyaku kepada bu Tarmi.
“Soalnya kemarin, pas pelajaran matematika, pukul 06.30 sudah pada keluar. Hanya setengah jam mereka mengerjakan 40 soal matematika.
“Oh itu tho penyebabnya. Saya tidak tahu bu, kemarin saya tidak ada jadwal mengawasi. Mungkin soalnya mudah bu. Jadi mereka bisa mengerjakan secepat itu,” kataku
“Ya tak mungkin. Secepat-cepatnya mengerjakan matematika ya tak secepat itu,” jawab beliau.

Waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB.
Aku kembali berkeliling ruangan untuk menghilangkan rasa kantuk dan rasa capek karena duduk terus.

“Sudah boleh keluar ya Pak?” rengek salah peserta try out.
“Belum. 15 menit lagi,” jawabku
“Jenuh Pak. Kan sudah selesai,” kata dia
“Ini salah kalian kenapa kemarin 30 menit sudah keluar,” jelasku
“Soalnya susah Pak. Dipikir juga percuma Pak. Nggak bisa mengerjakan. Yang penting lembar jawabnya diisi penuh,”
“Ya sudah, tak usah protes. Anggap saja duduk hari ini untuk mengganti duduk hari kemarin,” kataku
“Tapi sudah tepos bokongnya nih Pak,” desaknnya
“Tunggu sampai pukul 08.00,” jawabku


Dalam hati aku berkata: “emangnya kalian doang yang bokongnya tepos. aku juga nih”.

Kamis, 27 Oktober 2016

SEKOLAHKU INSPIRASIKU

Karya : Syafira NF, XII MIIA 1

Kau adalah tempat mencari ilmu
Kau adalah tempat teristimewaku
Kau adalah tempat sarana mendapat teman
Dan kau adalah tempat kenyamananku
Tak ada tujuan lagi kumenghampirimu
Tak ada kata lain untuk menggapai cita-citaku
Kau adalah tempat inspirasiku

Sekolahku...
Lambat menjalar waktu
Detakan jarum jam mengisimu
Suasana hening menggali ilmu di tempatmu
Menumpahkan segala kedisiplinanmu
Itu semua bukti sebuah pengajaranmu
Di sinilah aku menemukan kehidupan baru
Oh..sekolahku kau tempat inspirasiku

Wahai sekolahku...
Tiada daya anak bangsa tanpamu
Di kala kegelapan menjelma seisi dunia
Tempat mencurahkan segala pikiran
Tetaplah kau jadi tempat inspirasiku
Tetaplah menjadi tempat pada setiap kenangan

Wahai sekolah kau inspirasiku..
Di sinilah aku berdiri
Di sinilah aku berkarya
Terbukalah gerbang untuk aku berlari
mengejar sang mimpi
Mimpi yang selalu melewati

Sekolahku...
Kau mengajarkanku untuk berlomba
untuk mengejar sang prestasi

Tuangkan luapan emosiku
pada setiap lembaran suci
ku kotorimu dengan pena
Menuntun untuk berkarya..

Betapa pentingnya dirimu
Anak bangsa kau titipkan pengajaran
Dengan kedisiplinanmu
Memberikaan lingkungan akan penuh kenyamanan
Tuntun ajaranmu lebih
Agar menang masa depanmu

Oh sekolahku
Tumbuh harum namamu
Di kala sang surya hadir
Kau terbuka untukku
Kau bagaikan tuangan kata inspirasiku

Wahai tempat inspirasiku
Yang mengajarkanku kedisiplinan
memberi kenyaman
Menciptakan sosok sang pemenang
Memotivasi kehidupanku
sungguh pentingnya sosok dirimu
Menciptakan generasi-generasi yang kau bekali
Dengan ilmu.

SEKOLAHKU INSPIRASIKU

Karya : Fina Fauziyatul Khosiyah, X IPS 4

Gerbang menjulang tinggi selalu kulihat di pagi hari
Hijau rindang pohon-pohon berbaris rapi
Bagaikan prajurit hendak berperang
Desiran aangin yang berirama dan menyejukkan hati
Bak indahnya lingkungan sekolahku
Keindahan yang berasa sempurna
Dan keindahan yang amat nyaman

Aku berharap dan ingin menatap
Sekolah yang bersih
Sekolah yang nyaman
Dan sekolah dengan penuh kedisiplinan

Aku berjalan menenteng lembaran ilmu
Menuju lautan pengetahuan
Yang akan   tersiram kepada pencaari wawasan
Dengan sorot mata mentari membias wajah-wajah polosnya
Manusia terlahir dalam ketidaktahuan
Menatap dunia dengan tatapan kosong

Tepat dimana
Di atas punggung bumi
Di bawah langit biru
Kita berjibaku dalam buku-buku

Di pundak kami
Ada harapan ayah dan ibu
Dan engkau wahai guru
Yang mengangkat pundak kami
Dana meyakinkan kepada kami
“kalian pasti bisa”

Sang guru bercerita tentang cita-cita
Pena menggaris-garis kertas
Menjadi sebuah ilmu yang diberikan
Kepada para patria

Di sini
Di bawah atap sekolah
Bertemu dengan pahawan-pahlawan
Tak bertanda jasa

Di sini
Aku ingin menciptakan
Membuka mata para satria
Menjadi
Sekolah yang disiplin
Sekolah yang nyaman

Terima kasih sekolahku
Kau telah menuliskan ilmu

Dan kawan di hatiku

PERJUANGANKU DAN MIMPIKU

Karya : Amalia Ilmi Karima, XI IPS 1

Pagi yang cerah
Sang mentari yang menyambut dengan senyuman
Sang jago yang berkokok membangunkanku
Senyuman yang mans untuk pagi hari ini

Semangatku yang menggebu-gebu
Untuk menuju sebuah awa perjuanganku
Di masa depanku yang cerah
Kuawali semua itu dengan senyuman

Kulangkahkan kakiku menuju sekolah
Di sana kupertaruhkan keringat
Panas...hujan...bukan halangan

Oh SMANDA
Sekolahku yang tercinta
Di sini aku mengerti segala hal
Dari yang tak kutahu menjadi paham

Dimana kadang aku keluar sifat nakalku
Karena terlambat dan tak mengerjakan tugas
Tapi di sini semua itu hilang
Yang ada hanya sebuah disiplin
Karena apa yang aku lakukan akan ada sanksinya
Disitulah yang menjadikan aku lebih baik lagi

Aku tak berjuang sendiri
Aku ditemani orang-orang yang mmberiku semangat
Dan orang yang selalu menegurku jika aku saah
Yaitu sahabat dan guruku, sesosok yang tak terlupakan

Kami berjuang demi nama haum sekolahku bangkit
Kami pertaruhkan sebuah waktu
Dan sebuah keringat
Demi sebuah kemenangan di sekolah ini.

Aku tak pernah merasa tersiksa di sini
Yang aku rasakan hanya sebuah kebahagiaan
Darri pagi kadang sampai sore aku di sini
Demi sebuah ilmu

Oh..SMANDAKU
Meskipun banyak ulangan-ulangan
Bertumpuknya tugas-tugas
Dan banyaknya hafalan
Semua itu sudah seperti  makanan sehari-hariku

Kadang aku merasa lelah dengan ini
Tapi aku berpikir ini adalah perjuanganku
Perjuanganku untuk melanjutkan para pahawan
Menjadi orang yang lebih baik

Oh..sekolahku
Aku di sini bisa mengerti
Arti disiplin nyaman dan menang
Dan aku bisa merasakan banyak kebahagiaan di sini

SMANDAKU..
Di sini banyak cerita
Di sini banyak kemenangan
Semuanya ada di sini

Senang, sedih, susah, dan bahagia
Ada di sini
Bahagia bisa mempunyai banyak teman
Bahagia mempunyai guru-guru seperti mereka

Tanpa mereka hadir di kehidupanku
Tak akan menjadi aku seperti ini
Aku tak akan tahu berbagai pembelajaran
Dan aku tak akan berdiri tegak di sini

Aku bahagia di sini
Semoga sekolah ini tetap jaya
Dan menjadikan kebanggaan
Terima kasih SMANDA

Terima kasih sekolahku