alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Sabtu, 28 Maret 2020

GELAP

(cerita waktu itu sebelum hingar bingar corona)

Sepulang dari mushola, kulihat Be berjalan sendiri di depanku, tapi tiba-tiba dia berhenti. Be adalah adik sepupu Ken. Umurnya kurang lebih baru 4 tahun.

"Ada apa Be?" tanyaku
"Akung mana?" tanya balik Be kepadaku.
"Akung masih di mushola. Ayo pulang sama pakde saja," kataku sambil kugandeng tangannya. Eyang akung Be masih berdzikir dan berdoa. Agak lama. Pulangnya sering paling akhir.

Rupanya Be cukup nyaman kugandeng. Dia berjalan sambil sesekali melompat. Rambut keriting panjangnya mentul-mentul di bawah kopiah putihnya.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan rumah eyang Be dimana dia tinggal bersama ayah, bunda, eyang akung dan eyang uti. Be membuka pintu gerbang dan berjalan menuju teras, tapi belum sampai di teras, dia berlari kembali keluar gerbang menuju ke arahku dan memelukku.

"Kenapa Be?" tanyaku
"Gelap," jawabnya sambil merengek.

Teras rumah eyang Be gelap. Rupanya lampunya belum dinyalakan.

"Ya sudah di sini saja sama pakde, nunggu akung pulang dari mushola," kataku

Aku bersama Be menunggu akung Be di depan pintu gerbang. Tapi lamat-lamat ada suara perempuan membaca Al Qur'an dari dalam rumah eyang Be.

"Be, itu Uti sudah di rumah. Tuh dengar, Uti lagi ngaji. Iya kan?"

Be mengangguk.

"Sudah sana Be masuk lagi. Terus ketuk pintu sambil salam. Yang keras ya," suruhku

Be menuruti perintahku. Dia masuk lagi dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam keras sekali "assalamu 'alaikum". Aku masih menungguinya di depan pintu gerbang.

Benar saja. Pintu dibuka oleh eyang uti Be yang masih mengenakan mukena warna putih dan membawa Qur'an di tangannya. Be segera memeluk eyang utinya.
"Be takut Ti. Gelap," kata Be.
"Be pulang sama siapa?" tanya Utinya
"Sama Pakde," jawab Be sambil menunjuk ke arahku.

"Sudah ya Be, pakde pulang dulu, dadaaa," kataku sambil melambaikan tanganku.
"Iya. Dadaaa.... Sampai jumpa," jawaban khas Be "sampai jumpa" ketika mengucapkan salam perpisahan sambil melambaikan tangannya.

Jumat, 27 Maret 2020

BELALANG MALAM





"kret....kret...kret..." suara derik sedikit berdecit ini mengiringi kami pergi ke mushola untuk menunaikan sholat isya. Maghrib tadi belum terdengar suara ini. Suara ini berasal dari rerimbunan pohon mengkudu di pinggir sungai, pohon yang begitu rimbun dan subur pada musim hujan ini.

"Pakde, itu suara apa?" tanya Kan kepadaku
"Suara jangkrik ya Pakde?" jawab Ken.
"Itu suara belalang," jawabku
"Belalang kan kecil Pakde. Suaranya kok keras?" bantah Ken.
"Itu suara belalang malam. Belalangnya besar. Warnanya hijau. Kadang ada yang coklat. Besarnya segini nih," jelasku sambil menunjukkan dua jari tanganku dan kutunjukkan kira-kira panjangnya.

Aku tahu itu suara belalang malam atau ada yang menamainya walang keket, walang kecek atau caricangkas karena dulu waktu kecil sering mencari belalang ini berdasarkan sumber suaranya. Dengan modal senter, aku dapat menemukan belalang daun yang besar ini sedang menggesek-gesekkan sayap luarnya sehingga menghasilkan suara seperti itu. .

"Aku kok belum pernah lihat belalang besar seperti itu ya," lanjut Ken.
"Nanti pulang sholat, kita cari bersama-sama belalangnya. Mau?" tantangku
"Nggak mau ah. Nanti kalau bukan suara belalang tapi ternyata suara hantu gimana Pakde?" kata Kan.

"Ya kita lariiiiiii," jawabku sambil berlari meninggalkam dua anak itu di belakangku.

Kan dan Ken spontan ikut lari.
"Pakdeee...,"

*) sumber video: rekaman asli di pinggir sungai.
sumber gambar: nurfajrian.wordpress.com

BERTENGKAR


"Ken kok sendirian. Biasanya sama Kan?" tanyaku sambil menjejeri Ken sepulang sholat maghrib dari mushola.
"Iya. Kami lagi bertengkar," jawab Ken.
"Kenapa bertengkar?" tanyaku lebih lanjut.
"Tadi Kan beli minuman. Terus botolnya dibuang ke tempat sampah. Karena botolnya bagus maka kuambil. Lalu kucuci dan kuisi dengan air putih. Eh..Kan tahu,  terus marah,  nangis, botolnya diminta lagi. Terus aku ditendang," jelas Ken.
"Sekarang botolnya dimana?" tanyaku
"Kusimpan di rumah,"
"O gitu, Ken marah nggak sama Kan?"
"Aku sih nggak marah. Kan yang masih marah ke aku. Nanti botolnya mau tak kasihkan lagi ke Kan. Aku mau beli sendiri saja," jawab Ken.

Dan saat sholat isya, mereka sudah berangkat ke mushola lagi sambil tertawa-tawa.

TURUN KE KALI






Untuk melupakan Corona, sore ini Ken turun ke kali. Berbekal cething nasi, Ken berusaha mencari ikan sepat, cithul, dan bethik. Sementata Kan tetap berada di atas dan tidak ikut turun.

"Ayo si Kan. Turun ke sini. Bantuin," teriak Ken
"Nggak mau, aku sudah mandi. Nanti dimarahin ibu," bela Kan.

Terpaksa, Ken mencari ikan sendiri. Namun apa daya, cething nasi bukanlah alat penangkap ikan yang representatif dan sama sekali tidak recomended. Namun demikian, Ken tetap berusaha menangkap ikan dengan sekuat tenaga. Berbagai gaya diperagakan. Menyerok, menyambar, menubruk sampai salto karena terpeleset. Tetap saja gagal.

Walaupun sama sekali tak mendapat ikan, turun ke kali menjadi hiburan tersendiri di tengah-tengah hingar-bingar corona.

#ayo tetap bergembira.

DILARANG MASUK


"Eits... jangan masuk. Ada corona," teriakku kepada Ken dan Kan yang tiba-tiba mau masuk ke rumahku.

Spontan mereka menghentikan langkahnya. Mereka berhenti di depan pintu gerbang.

"Emangnya kenapa Pakde?" tanya Ken
"Lagi ada corona. Nggak boleh dekat-dekat dengan orang lain, nanti bisa ketularan corona. Bisa sakit," jawabku
"Kita nggak sakit kok," jawab Kan
"Pakde juga nggak sakit. Tapi nggak boleh dekat-dekat. Bahaya. Soalnya coronanya nggak kelihatan," kataku

Rupanya mereka bergeming. Walaupun biasanya mereka dengan bebas masuk ke rumahku untuk melihat ikan di kolam belakang, kali ini mereka tak berani menerobos laranganku.

"Aku nggak sakit kok," kata Kan berusaha meyakinkanku supaya tetap diperbolehkan masuk.
"Jangan Kan. Nanti bisa mati seperti orang-orang di luar negeri," desak Ken.

Rupanya Ken sedikit-sedikit sudah mendengar berita tentang corona, entah itu dari televisi atau dari informasi lainnya.

"Kucoba mendekat ya," kata Kan dengan pelan-pelan mendekat kepadaku.
"Nggak boleh dekat-dekat. Ayah sama bunda kalian juga sudah bilang kan jangan dekat-dekat dengan orang lain," imbuhku.
"Iya Kan, nanti bisa mati lho," teriak Ken.
"Aku nggak mati. Nih," kata Kan melangkah maju dan sekarang posisinya sudah berada kurang lebih dua meter dariku.
"Sekarang nggak mati. Nanti kalau  ketularan, bisa mati lho," kata Ken.
"Iya pokoknya sekarang nggak boleh dekat-dekat dengan Pakde," imbuhku

Kan mundur lagi.

"Tapi aku selalu dekat-dekat sama Ken kok nggak mati?" tanya Kan masih penasaran.
"Soalnya kalian dari dulu sudah dekat-dekat," jawabku beralasan.

Sebenarnya sangat sedih melarang mereka bermain. Tapi kondisi seperti ini tak bisa dihindari dan mudah-mudahan mereka sedikit demi sedikit memahami tanpa mengurangi kebahagiaan.

"Ken, kayaknya kita dibohongi," kata Kan kepada Ken sambil pergi dan Ken diam saja.

Kamis, 19 Maret 2020

KELASKU [MUNGKIN] SURGAKU


Buku ini akhirnya terbit juga. Penerbit Qahar Publisher menjadi penerbit bukuku yang berjudul Kelasku [mungkin] Surgaku. Tentu saja, aku ingin menjual buku pertamaku ini. Karena itu, dibutuhkan promosi besar-besaran agar buku ini laria bak kacang goreng. Soal harga belakangan. Yang pasti tak mungkin kumahalkan dan kumurahkan. Sedang-sedang saja.
Jadi, silahkan pesan dulu sebelum kehabisan.

Sebagai gambaran isi buku ini di bawah ini kutulis sinopsisnya.

SINOPSIS

Joko yang marah karena disuruh potong rambut,  Lisza yang tidak mau dipanggil Lis, Mega yang jadi fans gelap, Yusop yang melankolis, Rima yang tak bisa ngomong banjir, Tia yang lupa nama asli gurunya, Niko yang selalu terlambat, Jun yang suka merayu, Bu Erni yang ulang tahun, Bu Anik yang ikut-ikutan memanggil Pak Bonjour  adalah kisah-kisah di kelas yang menyenangkan, menggemaskan, menyedihkan, menjengkelkan dan tak terduga.

Suka duka seorang guru menghadapi siswa dengan berbagai  karakter menghasilkan cerita yang warna-warni. Warna-warni kisah tersebut menjadi sebuah pengalaman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan.

Mengajar bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan bukan hanya membuat siswa bersikap lebih baik tapi pada hakikatnya merupakan proses tukar-menukar pengalaman dan pengetahuan antara guru dan siswa. Simbiosis mutualisme secara tidak sadar terjadi dalam kegiatan belajar mengajar sehingga membangun ikatan batin antara guru dan siswa. Ada nilai-nilai kemanusiaan, kesetiakawanan, kerinduan, kebencian, kecemburuan, pemberontakan, rasa sayang dan cinta dalam interaksi yang tak bisa diukur hanya dengan pencapaian prestasi dan nilai.

Menarik kan?
Makanya ayo beli!

KUMBANG


"Ini kucing siapa Fa?" tanyaku. Kucing kecil ini berjalan sendiri di tepi sungai dan pasti ada yang punya karena tak ada induknya.
"Kucingnya Mas Os," jawab Fa
"Tolong dong bawain ke rumah Mas Os!" pintaku
"Nggak bisa. Aku kan lagi bawa kumbang," jawabnya.
"Eh kumbang apa itu? Lihat dong," tanyaku dan fokusku beralih ke kumbang milik Fa.
Fa menyodorkan wadah rautan warna kuning.
"Mana kumbangnya?" aku belun melihat kumbang di wadah itu.
"Ini di bawah," kata Fa sambil menunjukkan letak kumbangnya. Berada di sudut bawah. Kumbang kecil hitam berbintik kuning di punggungnya.
"Cantik sekali. Seperti yang punya," komentarku
"Iya dong," jawab Fa
"Pak de foto sini," pintaku
"Tapi jangan foto aku. Foto kumbangnya saja."
"Iya," jawabku

Fa menyorongkan wadah kumbang itu ke depan.

Cekrek

"Lihat!" pinta Fa

Kutunjukkan hasil jepretanku.

"Lha kok nggak kelihatan kumbangnya. Yang kelihatan malah aku," protes Fa
"Ah maaf. Pak de khilaf. Soalnya cantikan Fa daripada kumbangnya," jawabku
"Huh Pade curang."