alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar
Tampilkan postingan dengan label raport. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raport. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2015

MEMBUAT NILAI RAPORT

Penilaian terhadap peserta didik seharusnya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  1. Memiliki Validitas yaitu penilaian harus benar-benar mengukur apa yang hendak diukur.
  2. Memiliki Reabilitas yaitu menunjukkan ketetapan hasilnya.
  3. Objektivitas yaitu suatu alat evaluasi harus benar-benar mengukur apa yang diukur, tanpa adanya interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan alat evaluasi itu.
  4. Efisiensi yaitu tidak membuang waktu dan uang yang banyak.
  5. Kegunaan/kepraktisan yaitu usefulness (berguna untuk memperoleh keterangan tentang siswa sehingga dapat memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi para siswanya


Untuk memenuhi syarat tersebut, kita harus melalui langkah-langkah yang penuh perjuangan dan tak ringan :
  1. Koreksi: koreksilah hasil ulangan akhir semester (UAS) dengan teliti dan hati-hati. Luangkan waktu 2-4 hari penuh untuk mengoreksi hasil UAS. Kalau perlu pagi, siang, sore, malam jangan berhenti menatapi hasil pekerjaan siswa ini. Ambil kopi secukupnya untuk menemani. Setelah koreksi selesai, masukkan nilai ke daftar nilai dan secepatnya disetorkan ke panitia UAS. Siapa tahu ada bonus untuk korektor tercepat: misalnya, voucer gratis nonton balap karung se-kecamatan.
  2. Konsentrasi: khusus untuk membuat nilai raport, jangan nonton bola atau sinetron, apalagi main game. Hentikan semuanya. Buatlah suasana yang tenang di sekitar kita. Settinglah kamar kedap suara. Kondisikan anak-anak agar tidak berisik atau ramai. Suruh mereka diam atau tidur. Banyak-banyak sedia CTM (obat tidur) untuk mereka. Dengan suasana sepi dan lengang, konsentrasi kita akan lebih baik.
  3. Kontemplasi: Renungi semua jawaban siswa sebelum dinilai. Siapa tahu ada makna tersirat dibalik jawaban mereka. Seandainya menemukan tulisan-tulisan yang tak bisa dibaca, jangan berburuk sangka. Renungi sekali lagi tulisan tersebut: sebuah jawaban, kode rahasia, resep obat atau anaknya memang belum bisa menulis?
  4. Meditasi: seandainya makna tulisan-tulisan yang tak bisa dibaca tersebut belum terpecahkan, perlu dilakukan meditasi. Siapa tahu ada wangsit atau petunjuk turun dari langit dan ternyata tulisan tersebut adalah sebuah kode rahasia tentang harta karun. Wooow.
  5. Refleksi: dipikirkan kembali makna nilai kognitif, ketrampilan & sikap. Untuk menilai 3 ranah tersebut kita harus melihat kembali catatan nilai kognitif (lihat nilai ulangan, UTS dan UAS), catatan ketrampilannya (lihat bakatnya: trampil memanjat pohon, berenang, menjahit, atau trampil dalam bidang lainnya), catatan sikapnya (sopan, santun, jujur, suka menolong, rajin menabung, tidak suka PHP, dan tidak lebay). Untuk itu silahkan croshceck dengan catatan amal baik dan buruk yang dimiliki oleh guru lain.
  6. Diversifikasi: Tolong membuat nilai itu dibedakan antara siswa yang satu dengan yang lain. Jangan membuat nilai yang sama untuk siswa sekelas. Walaupun terkesan adil tapi pasti diprotes siswa. Masih banyak di antara mereka yang menyamakan jawaban dengan temannya alias mencontek, tapi mereka tak suka disama-samakan. Mereka menjunjung tinggi falsafah Bhineka Tunggal Ika.
  7. Sentralisasi: kitalah yang membuat nilai. Jangan mencontek atau copas nilai dari pelajaran lain apalagi minta tolong orang lain untuk membuatkan nilai.
  8. Spekulasi: kadang dibutuhkan spekulasi untuk menilai anak-anak suka berspekulasi. Misalnya, siswa menjawab E padahal pilihan jawabannya hanya A, B, C, D. Walaupun sifatnya spekulasi, buatlah nilai spekulasi yang paling kecil efek negatifnya. Setidaknya itu menyelamatkan kita dari kemungkinan-kemungkinan buruk.
  9. Toleransi: Membuat nilai dengan sistem KKM (Kriteria Ketuntasan minimal), kita harus menumbuhkan rasa toleransi yang tinggi. Kita harus bisa menahan emosi dan bersabar sesabar-sabarnya untuk menoleransi angkat 3 berubah menjadi angka 7. Ingat, Alloh bersama orang-orang yang sabar.

Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, mudah-mudahan kita bisa memenuhi syarat-syarat untuk membuat penilaian yang baik.

Mari membuat nilai !

Selasa, 08 Desember 2015

PAK SUPBECHAN JADI MANTEN

10 Oktober 2015 (Catatan untuk Kenangan)

Temanku Pak Supbechan jadi manten. Ia menikahi seorang putri bernama Nana (sebut saja demikian). Akad nikah sudah dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 7 Oktober 2015 di rumah mempelai perempuan di Batang. Sedangkan resepsi diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Oktober 2015 pukul 10.00 di rumah mempelai putra di Pageruyung, Kendal.

Karena itu, Ulangan Tengah Semester (UTS) 1 yang sedianya diselenggarakan untuk 2 mata pelajaran sampai jam 12.00, hari ini diselenggarakan hanya 1 mata pelajaran. Mata pelajaran ke-2 dialihkan ke hari Senin.

Pukul 09.30 UTS telah usai, para siswa sudah pulang. Dua armada bus telah menunggu di depan sekolah. Dua bus dengan kapasitas 35 tempat duduk ini cukup untuk mengangkut sekitar 49 orang guru dan karyawan yang mau ikut. Bus dipilih karena perjalanan yang akan ditempuh lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan.

Bapak dan ibu guru dan staf TU satu per satu masuk ke dalam bus. Sebagai koordinator bus 2, aku menghitung dan mengabsen peserta. Lengkap 24 orang yang terdaftar di busku. Semuanya telah masuk dan duduk di kursinya masing-masing. Tentu saja, mereka memilih kursi sendiri sesuai kehendak hati dan kenyamanan. Tak ada tiket dan nomor kursi tapi tak berebut.

Tepat pukul 10.00 WIB bus berangkat. Perjalanan yang mengasyikkan tentunya karena melewati kota Bandar dan Blado yang bergunung-gunung dan jalannya berliku-liku. Sawah, ladang, sungai, dan hutan kami lalui. Angin sejuk menerobos jendela bus tanpa AC ini. Kami betul-betul menikmati perjalanan.

Di dalam undangan tertera acara resepsi mulai pukul 10.00. Dengan perjalanan yang begitu jauh dan lama, aku yakin kami pasti terlambat. Acara pasti sudah dimulai. Organ tunggal beserta penyanyi dangdutnya pasti sedang tampil.Tamu undangan pasti sudah berdatangan. Stand berbagai jenis makanan dan minuman pasti sedang diserbu oleh para tamu undangan. Celaka, aku pasti tak kebagian.

Pukul 11.50, sesuai denah yang disertakan di undangan, bus telah memasuki desa tempat tinggal Pak Supbechan. Jalan sedikit sempit. Masih 3 km lagi untuk menuju dusun lokasi resepsi, melewati beberapa dusun. Banyak tikungan, banyak perempatan. Tentu saja, aku harus turun naik bus untuk bertanya arah kepada orang di pinggir jalan. Suatu saat bus berhenti di pertigaan jalan di tengah sawah. Ada 2 belokan jalan. Tak ada yang tahu, ke kanan atau ke kiri. Aku kembali turun untuk menanyakan arah. Tapi ini di tengah sawah, tak ada orang. Ah, di belakang bus ada sebuah mobil Honda City warna krem. Barangkali itu mobilnya orang sini. Pasti tahu arah ke dusun yang sedang kami tuju atau bahkan mengenal nama Supbechan. Aku mendekati mobil yang ikut terjebak macet di belakang bus-ku. Sebelum kuketuk kacanya untuk menanyakan arah, kaca telah terbuka lebih dahulu.

“Lho kok Ibu?” tanyaku kaget. Ternyata bu Herry, istri Kepala Sekolahku.

Dan kemudian kaca belakang juga dibuka.

“Lho kok mantennya di sini?” tanyaku lebih kaget melihat Pak Supbechan dan istrinya ada di jok belakang. Masih dalam keterkejutanku dan tak mungkin membahas rasa penasaranku labih lanjut, aku langsung bertanya:

“Ke kanan apa ke kiri nih?”
“Kanan,” jawab Pak Supbechan

Sampai di rumahnya, kami turun. Para tamu yang sudah hadir berdiri menyambut kami. Pengantinnya juga turun dari mobil. Dengan diapit kedua orang tua mempelai putri dan diringi gending (dari kaset), sang pranoto coro menyampaikan pengantar untuk mengantarkan sang pengantin menuju singgasananya.

“Ini sih bukan menghadiri resepsi pernikahan tapi jujug manten,” kataku dalam hati


Acara dimulai. Para tamu dipersilahkan duduk. Alhamdulillah, ternyata kami belum terlambat dan stand makanan dan minuman masih penuh.